Adat nan Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Kato Dahulu Kato Batapati

SEBAGAI masyarakat komunal dan hidup mengelompok dalam suku- suku, dalam hubungan interaksi sosial tradisi berunding merupakan bagian dari seremonial dalam budaya masyarakat di Minangkabau. Dalam setiap momen adat maupun keseharian, perundingan menjadi prioritas utama dalam mencapai suatu kesepakatan. Budaya berunding dalam masyarakat Minangkabau dapat terlihat saat memecahkan ragam masalah seperti, menetapkan batas ulayat, upacara perkawinan, sampai kematian, masalah harta pusaka dan sebagainya. Lalu hasil rundingan tersebut akan melahirkan apa yang dinamakan dengan kesepakatan, kesepahaman untuk dipatuhi dan dijalankan. Jika ada pihak yang mencoba melanggarnya, maka akan dihadapkan pada sanksi adat dan sanksi sosial.
Baca lebih lanjut

Alah Limau Dek Binalu, Hilang Pusako Dek Pancarian

SIKAP terbuka dan adaptif telah mendasari budaya Minangkabau dalam membentuk pola pikir manusianya menjadi dinamis dalam memahami hidup dan kehidupan. Sikap dasar yang sudah dimiliki sejak lama ini sudah tentu tetap memiliki sisi positif maupun negatif. Kemampuan wangsa Minangkabau menyerap berbagai pengetahuan, menempatkan orang Minangkabau menjadi wangsa yang mudah bergaul dengan budaya lain dalam percaturan peradaban dunia. Sejumlah tokoh besar telah dilahirkan dari etnis Minangkabau dan mempunyai andil besar dalam pembentukan karakter bangsa.

Namun demikian kedaan ini tak selalu berkembang sesuai dengan apa yang telah terjadi. Pada saat ini masyarakat Minangkabau begitu permisif menelan bulat-bulat tanpa seleksi berbagai peru bahan yang tengah melanda.
Baca lebih lanjut

Bak Kayu Lungga Pangabek, Bak Batang Dikabek Ciek

WILAYAH darek atau pegunungan sebagai wilayah asal telah dibunyikan dalam tambo Minangkabau. Dari puncak gunung ini nenek moyang orang Minangkabau mengawali kehidupan dengan melakukan penerukaan membuka lahan baru. Di wilayah asal ini juga diciptakan sistem adat istiadat dan tata aturan agar tercipta masyarakat yang damai dan harmonis. Sebagaimana masyarakat pegunungan, mereka memanfaatkan alam sebagai penopang hidup, dengan memanfaatkan kayukayuan untuk membangun rumah, alat penunjang bagi pertanian, disamping dimanfaatkan juga sebagai kayu api. Dalam hal ini Kayu merupakan kebutuhan utama, sebelum ditemukan teknologi lain sebagai bahan pengganti.
Baca lebih lanjut

Maelo Karajo Jo Usaho, Maelo Parang Jo Barani, Nan Budi Usah Tajua

MENYIKAPI berbagai fenomena perubahan dalam kebudayaan Minangkabau sebenarnya tak lepas dari gejala alam yang semestinya telah di arifi oleh masyarakatnya. Alam merupakan guru dan sumber inspirasi yang tak pernah kering. Dari alam lah semua gagasan dan pemikiran dilahirkan dalam menghadapi dan menyikapi komplekitas tantangan zaman. Tinggal lagi bagaimana kita menterjemahkan tanda-tanda alam, lalu menyarikan ke dalam konstruksi pemikiran dalam bangun pengetahuan sebagai strategi menyikapi gejala yang menandai perubahan tersebut.
Baca lebih lanjut

Bondong Aie, Bondong Dadak

SEBUAH tradisi menarik di masyarakat kita dalam menghadapi berbagai peristiwa adalah dengan kebersamaan yang dibentuk oleh sebuah ikatan rasa. Rasa sepenanggungan dalam meringankan berbagai beban, yang memungkinkan aktivitas sosial berlangsung dalam semangat patisipasi. Malu rasanya bila tak ambil bagian, setiap anggota masyarakat merasa wajib sato sakaki.

Rasa kebersamaan pada budaya Minangkabau masa lalu itu telah tersistemkan dalam berbagai tradisi dalam komunitas masyarakat. Tradisi bajulo-julo, turun bersama menggarap sawah atau ladang, melaksanakan gotong royong yang melibatkan semua unsur masyarakat dalam sebuah kegiatan nagari, membangun sarana pengairan, memperbaiki jalan kampung serta berbagai fasilitas umum lainnya.
Baca lebih lanjut

Bacolok co Kain Bugih, Marekan molah kironyo

BA COLOK jo kain bugih marekan molah kironyo. Idiom ini populer lewat lirik lagu yang dilantunkan Tiar Ramon, penyanyi Minang era 8o-an. Lirik itu bersumber dari mamangan adat Minangkabau. Lagu itu bercerita tentang perbedaan status social dalam relasi manusia dalam konteks romantisme, percintaan pemuda miskin yang penuh harap mendapatkan gadis kaya dan bangsawan.

Sudah barang tentu, konteks mamangan tersebut tidak sesederhana seperti lirik lagu Minang di atas. Kain bugih (bugis) merupakan kain sarung yang dikenakan dalam upacara adat di Minangkabau. Lakilaki yang sudah memakai gelar adat, di setiap kegiatan seremonial adat akan menyampirkan kain bugih di bahunya atau menyelempangkannya di badan sebagai simbol dari status kehormatan menurut adat. Warna kain menunjukkan kebijaksanaan pemakainya, warna merah biasanya menjadi pakaian yang lebih muda, coklat dan hitam menunjukkan kedalaman kearifan lakilaki yang sudah berumur yang memakainya. Makin bagus kain yang dipakai menunjukan juga kelas pemakainya.
Baca lebih lanjut

Makanan Anggang Ndak Ka Dek Pipik…

“MAKANAN anggang ndak ka dek pipik, makanan pipik ndak ka dek anggang” adalah salah satu pepatah usang yang sangat fasih diucapkan oleh masyarakat Minangkabau. Pepatah ini acap muncul saat masyarakat bercengkrama di lapau-lapau, di surau dan balai adat setelah melepas lelah sehabis bekerja. Itu dulu. Sekarang sudah agak jarang.

Pipik atau pipit adalah sejenis burung kecil yang gemar makan padi. Padi saat masa bersantan. Maka, burung pipik ini, menjadi musuh petani. Biasanya pipik datang bergerombol yang jumlahnya bisa mencapai ratusan, menyerbu buah padi menjelang berisi.
Baca lebih lanjut