MENGATAKAN atau menyampaikan tentang suatu hal dengan lugas bukanlah kebiasaan dan karakter masyarakat Minangkabau.

Jika ada sesuatau yang ingin disampaikan pada orang lain, berupa nasehat yang lainnya, akan disampaikan dalam berbagai metafora dan sindiran. Kearifan yang dimiliki masyarakat Minangkabau saat bertutur dan berkata-kata selalu disampaikan dengan pilihan kata yang terseleksi agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Bagi yang tak bisa memahami kondisi ini, maka yang bersangkutan akan dianggap belum mampu menjadi manusia dewasa.

Jika ada orang yang sama sekali tidak faham dan tidak mempan dengan berbagai kiasan dan sindiran, maka derajat orang tersebut akan jatuh dan lebih rendah dari derajat yang dimiliki manusia, “manusia tahan kieh, binatang tahan palu”.

Kebiasaan yang telah diwarisi sejak lama ini merupakan cerminan dari kehalusan budi yang dimiliki orang Minangkabau dalam menjaga harkat pribadi maupun orang lain.

Ukuran menjadi manusia dewasa dalam budaya Minangkabau terukur dan teruji jika sudah mencapai tingkat kearifan dalam hidup. Kearifan yang dimiliki makin teruji saat bergaul dalam lingkungan luas, jika sudah saling memahami dan mengasah keterampilan daya pikir dalam mengolah dan mencerna metafora hidup. Tak semua perkataan dalam budaya Minangkabu disampaikan secara lugas. Dalam tuturan masyarakat Minangkabau selalu mengandung kias dan banding. Kias ( kieh ) merupakan sebuah perumpamaan yang disampaikan dalam bentuk sindiran memiliki kedalaman makna. Tidak mudah dipahami begitu saja jika tidak mempelajarinya dengan baik. “Bandiang” atau banding sebentuk ungkapan yang disampaikan dengan membandingkan satu hal dengan perumpamaan lain yang kadang terkesan tidak relevan dengan objek pembicaraan.

Jika si pendengar tidak memiliki kepekaan dan kearifan maka yang bersangkutan akan merasa kesulitan untuk memahami apa yang dikatakan. Begitulah budaya Minangkabau.

 

“Manusia tahan kieh, alun bakilek alah bakalam”, tidak dianggap menjadi manusia jika hal yang demikian telah hilang dalam diri seseorang. Satu komponen dari kecerdasan otak yang dimiliki telah menghilang dalam diri manusia.

Manusia seakan kehilangan fungsi otak kanan yang menjadi basis estetis dalam memahami betapa indahnya kehidupan.

Basis dasar yang harus dimiliki agar nilai dan kearifan tertanam dalam diri manuisa. Sebagai basis penyeimbang antara olah pikir dan kekuatan jiwa.

“Kieh jo bandiang” sebagai Warisan nilai luhur budaya Minangkabau dalam pembentukan karakter dan kualitas masyarakatnya telah tergerus ditelan arus peradaban.”

Kieh jo bandiang”, sebentuk otokritik yang dimiliki budaya Minangkabau tak lagi mempan dan berguna. Ironisnya sesuatu yang verbalpun kadang orang tak lagi membuat orang bisa faham dan mengerti. Betapa telah terjadi sebuah Tragedi kemanusiaan dimana kualitas kemanusiaan kita yang dimiliki hari ini, patut dipertanyakan.

 

“Binatang tahan palu, ditokok baru manggarik”, begitulah cara memperlakukan hewan dalam keseharian sebagai bentuk tindakan agar dapat dipahami hewan tersebut. Sebagai makhluk yang tidak dapat memahami bahasa manusia, pukulan menjadi tanda bagi binatang saat diperintahkan untuk melakukan sebuah pekerjaan atau saat menyuruhnya pergi. Kerbau atau kuda makanan cambuk agar lebih keras bekerja dan kencang larinya, ayam dan itik makanan halau dengan pengalan panjang agar menjauh dari jemuran padi. Tak ada bahasa yang tepat yang dapat digunakan pada hewan tersebut.

Tak dapat dibayangkan apa yang terjadi Jika kebiasaan memalu dan memukul juga dilakukan pada manusia.

Malahan hewan sekalipun jika dilatih, akan memiliki kepekaan dan kemampuan memahami bahasa dan isyarat dari manusia untuk dirinya.

Epaper Harian Haluan, MINGGU, 22 JULI 2012

Kolom Tuangan Limbago Oleh: Syuhendri Datuak Siri Marajo