PEMIMPIN masyarakat dalam terminology adat Minangkabau digambarkan sebagai sosok manusia yang harus memiliki kekuatan, kecakapan, mempunyai daya pikat dan kharismatik yang tinggi, serta cerdas dalam memimpin. Dalam masyarakat Minangkabau, sosok pimpinan yang diidamkan dianalogikan sebagai sebatang pohon beringin.

Pohon beringin biasanya tumbuh dan berdiri kokoh di pusat nagari, yang diuraikan dengan cerdas oleh masyarakat Minangkabau sebagai:

batangnyotampek basanda,

daunnyolabek dapek balinduang,

urek-nyo gadang tampek baselo,

akanyo kuek kadipagantuang.

Akar yang terdapat pada pohon beringin bersifat sangat alot dan kuat. Akat tersebut memiliki multifungsi. Akar tersebut dapat digunakan sebagai pengikat untuk menyatukan barang bawaan agar tidak berserakan saat dibawa.

Akarnya juga dapat digunakan sebagai pengganti tali untuk menggantungkan sesuatu. Akar beringin dalam pemahaman masyarakat Minangkabau tidak dipandang sebatas dari fungsi fisiknya semata, di balik kekuatan yang dimiliki oleh akar tersebut juga diberi pemaknaan yang luas dan mendalam sebagai gambaran yang menyatakan salah satu sikap ideal yang mesti dimiliki oleh seorang pemimpin maupun calon pemimpin pada suatu kaum maupun suatu nagari.

‘Akar’ dalam konsepsi kepemimpinan adalah semacam basis dasar dari bentuk kepemimpinan yang mesti dimiliki seseorang. Baik atau buruknya kualitas kepemimpinan yang dimiliki seseorang juga sangat ditentukan dari mana akar kepemimpinan itu tumbuh dan berasal. Jika dasar akarnya sudah kuat maka garis kepemimpinan yang dimiliki akan kuat juga, jika dasar akarnya lemah maka akan lemah pulalah kepemimpinannya. Berkaca dari sejarah berbagai negeri yang pernah dipimpin oleh seorang yang lemah, tidak memiliki dasar yang kuat untuk menjadi seorang pemimpin, maka negara yang dipimpinnya cenderung gagal dan bangkrut.

Masyarakatnya kehilangan rasa kepercayaan dan mudah frustrasi. Tak ada tempat bagi masyarakat untuk dapat menggantungkan harapan dan cita-cita mereka.

Tak jarang juga yang terjadi alih-alih sebagai tempat menngantungkan nasib bagi masyarakat banyak, nasibmya sendiri pun kadang tidak bisa dibereskannya karena terbentur oleh sikap kepemimpinan yang lemah tadi.

Lebih celaka lagi jika akar yang dipakai sebagai tempat mengayutkan harapan dan impian tersebut telah lapuk dan rapuh. “Bagantuang di aka lapuak” adalah sebuah kenyataan pahit yang dialami masyarakat saat ini pasca lemahnya sikap para pemimpin dalam melakukan pengayoman pada masyarakatnya.

Berharap pada pemimpin yang lemah, masyarakat dewasa ini umumnya dapat diibaratkan sedang “bagantuang di aka lapuak”. Para pemimpin telah menjadikan dirinya seakan memiliki kemampuan sebagai tempat menggantungkan harapan dan cita-cita bagi masyarakat yang dipimpinnya.

Melalui berbagai siasat pencitraan, para pemimpin dari luarnya kelihatan kokoh dan hebat, namun saat ‘ditompangi’ maka para penumpangnya pun terjengkang. Begitulah indahnya dunia pencitraan jika tak hati-hati dalam menyikapinya, “jikok bagantuang di aka lapuak” terjengkang kita dibuatnya.

Epaper Harian Haluan, MINGGU, 15 JULI 2012

Kolom Tuangan Limbago Oleh: Syuhendri Datuak Siri Marajo

Iklan