HOMOGENITAS dalam masyarakat Minangkabau tak lantas menjadikan wangsa ini tertutup dalam pergaulan dengan wangsa lain dan menjadi ekslusif. Tradisi merantau yang telah dimiliki wangsa Minangkabau sejak awal, telah membentuk watak dan karakter dalam diri wangsa MInangkabau menjadi manusia bebas, terbuka mudah bergaul dengan berbagai etnis yang ada. Pertemuan dalam dunia rantau dengan berbagai etnis tersebut telah membuahkan berbagai bentuk hubungan kekerabatan antar etnis maupun sesama etnis minang sendiri. Tak jarang hubungan tersebut berlanjut menjadi istimewa lebur dalam hubungan yang lebih dalam, yang lazim dalam bahasa Minangkabau disebut dengan istilah “badunsanak”.


Ungkapan badunsanak dalam tradisi Minangkabau Jika sudah diikrarkan (adaik di isi limbago di tuang), maka hubungan di antara merekapun otomatis lebur dalam satu ikatan suku atau kaum, menjadi senasib dan sepenangungan, sehina dan semalu. Sebagaimana kita ketahui kultur masyarakat Minangkabau yang menganut system perkawinan eksogami, setiap orang Minangkabau diharuskan menikah dengan orang dari luar sukunya. Jika ada yang melanggarnya maka yang bersangkutan akan dibuang sepanjang adat. Demikian juga yang terjadi jika ada orang dari etnis lain yang menyatakan bahwa dia telah masuk kesalah satu suku yang ada di Minangkabau diantara mereka maka juga tak boleh lagi ada ikatan perkawinan karena sudah dianggap menjadi seorang “dunsanak”.

Berbagai ikatan persaudaraan yang ada di Minangkabau tidak mutlak harus selalu diatur secara adat. Banyak ditemui dalam masyarakat apalagi di perantauan terjadi hubungan yang harmonis antara dua tetangga dalam satu lingkungan. Bentuk lain hubungan kekerabatan yang ada diantaranya, ada satu keluarga yang telah mengangkat seseorang jadi anak, atau adik yang berasal diluar sukunya. Mereka menjadi saudara dan mempunyai kedekatan batin. Begitulah indahnya sebuah hubungan yang dilandasi dengan ketulusan dan budi pekerti, Pucuak lah maampeh, urek lah basaua.

Pucuak lah maampeh urek lah basaua sebuah gambaran mengenai sebuah ikatan kekerabatan yang telah terjadi dengan sendirinya karena telah hidup bertetangga dan berdampingan dalam waktu yang panjang. Hubungan yang terjadi mungkin saja telah terjadi sejak zaman nenek moyang mereka. Saking lamanya hidup bertetangga sampai terbangun sebuah bentuk hubungan baru, menjadi kerabat dekat walau tidak berasal dari etnis atau suku yang sama. Dari hubungan kekerabatan yang terbangun dengan sendirinya ini, muncullah sikap saling pengertian. Selama bertetangga nyaris tak ada pertengkaran diantara mereka, tidak ada saling iri apalagi sampai saling mencikaraui satu sama lain. “Pucuak maampeh” ibarat dua pohon berbeda yang tumbuh saling berdampingan, karena saking dekatnya pucuk daun dipuncak keduanya sampai bertemu dan dan saling melindungi.

Akarnyapun di dalam tanah telah menyatu menjalin diri dalam satu ikatan. Dua pohon dari jenis berbeda namun telah saling terkait dalam satu ikatan kuat, tapi mempunyai kesadaran mengenai posisinya masing-masing, “lado jo padehnyo, sidukuang anak jo paiknyo”, masingmasingnnya tidak mau saling campur tangan memperlihatkan kelebihan masing-masing.

Namun dalam silturahmi mereka saling memahami, laiknya dengan saudara sendiri tidak saling Intervensi satu sama lain. Keduanya tak akan saling pamer mengenai kelebihan masing-masing seperti lazimnya yang terjadi saat ini, “ kecek lado, lado nan padeh, kecek sidukuang anak, inyo nan paik.

Epaper Harian Haluan, MINGGU, 03 JUNI 2012
Kolom Tuangan Limbago Oleh: Syuhendri Datuak Siri Marajo