BERKACA pada masa lalu, banyak para tokoh besar asal Minangkabau yang menjadi hebat dan terkenal dari satu sikap budaya yang telah mereka warisi yakni egaliter. Sikap egaliter yang dimilki oleh wangsa Minangkabau telah menciptakan ruang kritis bagi kedinamisan berfikir masyarakatnya. Silang pendapat serta beradu argument dalam berolah pikir merupakan hal yang biasa karena sudah terbentuk sedari awal, hal ini terlihat dalam setiap upacara adat yang selalu argumentatif.

Masyarakat Minangkabau telah terlatih dalam beradu argumen serta pemikiran dengan siapa saja, membicarakan nilai dan kebenaran demi kemaslahatan sudah menjadi hal yang biasa. Sikap egaliter dalam kebudayaan Minangkabau telah melahirkan para politikus tangguh, ahli kebudayaan handal dan berbagai professional lainnya.

Sebagai wangsa yang memiliki kebebasan berfikir serta egaliter dalam bersikap, tidak lantas menjadikan wangsa ini menjadi etnis yang suka bertindak semaunya. Dibalik sikap egaliter terbangun kesadaran penuh terhadap suatu integritas diri. Dalam sikap egaliter yang diwarisi terkandung tanggung jawab besar terhadap diri sendiri dengan menjaga integritas yang memuliakan dan mengedepankan nilainilai kemanusiaan.

Tanpa disadari arus perubahan zaman menyebabkan telah terjadi pemaknaan dangkal terhadap sikap egaliter wangsa ini. Saat ini orang dapat saja berbicara semaunya tanpa filter, tak lagi mempertimbangkan nilai dan norma yang ada dalam masyarakat. Masyarakat kita hari ini telah kehilangan daya selektif dalam bertindak dan berfikir, kalau berbicara suka seenaknya apakah orang lain akan tersinggung atau terhina tak menjadi soal. Masyarakat cenderung tak mempertimbangkan lagi kepantasan dan kepatutan akibatnya kondisi menjadi pemicu berbagai persoalan dan potensi menimbulkan permusuhan antar sesama.

Pado pacah di muluik bia pacah di paruik merupakan filter dan sikap selektif yang harus dimiliki. Tak semua perkataan harus di ucapkan, ada tempatnya dan ada saatnya, inilah makna yang terkandung dari ungkapan diatas. Ini adalah semacam sikap selektif dan kehati-hatian saat berbicara, dengan mempertimbangkan berbagai dampak sebagai akibat dari pembicaraan tersebut, tanpa harus kehilangan daya kritis tentunya.

Melakukan pembicaraan dengan yang orang yang lebih dewasa, orang tua maupun yang muda sudah seharusnya mengutamakan kepantasan dan kepatutan. Sementara yang terjadi pada saat ini, mana yang tak patut dibicarakan itu yang menjadi topik hangat, mana yang harus dibicarakan malah didiamkan.

Sisi lain dari idiom ini juga dipelintir dan digunakan oleh sebagian orang untuk berbagi kebohongan. Ungkapan ini dimaknai sebagai bentuk kesetiakawan dan persekongkolan dalam satu kroni.

Dari pada harus melaporkan suatu kejahatan lebih baik disimpan saja dari pada masalah makin melebar dan ikut terseret dalam persoalan tersebut. Bagi sesama koruptor misalnya akan lebih baik merahasiakan teman koruptornya, rancak pacah diparuik, dari pada pacah dimuluik dengan membeberkan kejahatan korupsi beserta jaringannya pada khalayak ramai. Padahal makna yang terkandung dalam pepatah ini tidak demikian, pado pacah di muluik bia pacah di paruik merupakan sebuah integritas diri membangun watak yang bermartabat dalam masyarakat.

Wallahulam bisawab.

Epaper Harian Haluan, MINGGU 11 MARET  2012
Kolom Tuangan Limbago Oleh: Syuhendri Datuak Siri Marajo