HARIMAU, dalam masyarakat tradisional Minangkabau, biasanya juga disebut dengan sebutan inyiak. Gelar inyiak yang melekat pada hewan ini merupakan panggilan sebagai penghormatan agar terhindar dari kemarahan sang inyiak. Sebagian lagi ada juga yang menyebutnya dengan harimau atau rimau saja. Berbagai mitos dan aroma keghaiban berkembang dalam tradisi masyarakat Minangkabau mengenai inyiak balang ini. Beragam cerita yang ada ditengah masyarakat, dari harimau yang pandai bersilat sampai pada cindaku atau manusia yang mampu berubah wujud menjadi harimau. Selain itu harimau juga dijadikan sebagai hewan peliharaan untuk menjaga sawah dan ladang dan harta pusaka lainnya dari gangguan pihak lain. Dan jangan pula dibayangkan bahwa harimau peliharaan ini sama dengan harimau yang ada dikebun binatang. Hewan yang dipelihara ini adalah hewan ghaib yang kadangkala tak dapat dilihat secara kasat mata. Si pemeliharanya sudah tentu menguasai ilmu-ilmu ghaib juga.

Pilihan antara hidup dan mati adalah sebuah konsekwensi yang mesti ditemui jika berurusan dengan hewan yang satu ini. Keberanian menghadapi sebuah konsekwensi serta mempunyai ketetapan hati didalam pilihan adalah makna yang terkandung dalam pepatah tradisional Minangkabau ini. Pado ditangkok ragu, ancak ditangkok Arimau ungkapan yang menjadi penegasan dari sikap hidup, berani dan tegas di dalam menentukan pilihan. Tegas dalam kebijakan, sekalipun akan menjadi kontraproduktif dan tidak populer tetap lebih baik dari pada tidak melakukannya sama sekali.

Ditangkok ragu merupakan sebentuk sikap yang selalu ragu dalam bertindak, suka menghindar dan menelantarkan masalah lalu membiarkan sampai menggunung, lalu akhirnya menimbulkan berbagai masalah. Selalu ragu seakan tak punya jati diri, gagap dalam bertindak, takut dalam memutus, dan sikap pengecut bukanlah watak wangsa Minangkabau. Sikap pengecut penuh keragu-raguan merupakan pantangan yang harus dihindari. Hidup dengan pilihan sendiri menjadi putusan yang tidak bisa ditawar, sebagai mana dipahami bersama bahwa dalam budaya Minangkabau setiap orang adalah pemimpin. Siklus hidup terus bergulir menggiring anak Minangkabau memikul tanggung jawab untuk menjadi seorang pemimpin bagi anak dan kemenakannya di dalam kaum. Pada saatnya mereka semua akan menjadi seorang pemimpin, berani bertindak dan memutus berbagai perkara dalam kapasitasnya entah sebagai seorang niniak mamak, seorang bapak, penghulu maupun alim ulama.

Demikian juga dengan para perempuannya, suatu saat mereka juga akan menjadi seorang ibu pimpinan dalam kaummnya yang disebut juga dengan bundo kanduang.

Jika karakter yang kuat tidak terbentuk secara dini, selalu diselimuti oleh keraguan dalam bertindak, apalagi mudah dipengaruhi pihak lain, sudah tentu berbagai kekacauan akan terjadi. Bercermin dari berbagai kenyataan yang terjadi akhirakhir ini, pada akhirnya hidup memang harus memilih, dari pado ditangkok ragu, ancak ditangkok arimau, jaleh iduik atau matinyo.

Epaper Harian Haluan, MINGGU 4 MARET  2012
Kolom Tuangan Limbago Oleh: Syuhendri Datuak Siri Marajo

Iklan