Adat nan Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Monthly Archives: Maret 2012

BERKACA pada masa lalu, banyak para tokoh besar asal Minangkabau yang menjadi hebat dan terkenal dari satu sikap budaya yang telah mereka warisi yakni egaliter. Sikap egaliter yang dimilki oleh wangsa Minangkabau telah menciptakan ruang kritis bagi kedinamisan berfikir masyarakatnya. Silang pendapat serta beradu argument dalam berolah pikir merupakan hal yang biasa karena sudah terbentuk sedari awal, hal ini terlihat dalam setiap upacara adat yang selalu argumentatif.

Masyarakat Minangkabau telah terlatih dalam beradu argumen serta pemikiran dengan siapa saja, membicarakan nilai dan kebenaran demi kemaslahatan sudah menjadi hal yang biasa. Sikap egaliter dalam kebudayaan Minangkabau telah melahirkan para politikus tangguh, ahli kebudayaan handal dan berbagai professional lainnya.
Baca lebih lanjut

Iklan

HARIMAU, dalam masyarakat tradisional Minangkabau, biasanya juga disebut dengan sebutan inyiak. Gelar inyiak yang melekat pada hewan ini merupakan panggilan sebagai penghormatan agar terhindar dari kemarahan sang inyiak. Sebagian lagi ada juga yang menyebutnya dengan harimau atau rimau saja. Berbagai mitos dan aroma keghaiban berkembang dalam tradisi masyarakat Minangkabau mengenai inyiak balang ini. Beragam cerita yang ada ditengah masyarakat, dari harimau yang pandai bersilat sampai pada cindaku atau manusia yang mampu berubah wujud menjadi harimau. Selain itu harimau juga dijadikan sebagai hewan peliharaan untuk menjaga sawah dan ladang dan harta pusaka lainnya dari gangguan pihak lain. Dan jangan pula dibayangkan bahwa harimau peliharaan ini sama dengan harimau yang ada dikebun binatang. Hewan yang dipelihara ini adalah hewan ghaib yang kadangkala tak dapat dilihat secara kasat mata. Si pemeliharanya sudah tentu menguasai ilmu-ilmu ghaib juga.
Baca lebih lanjut