KESUBURAN alam dan luasnya hutan merupakan sumber penghidupan yang tak berhingga dimiliki oleh masyarakat Minangkabau. Kekayaan alam tersebut dimanfaatkan masyarakat menjadi lahan garapan bersama dalam memenuhi kebutuhan hidup dan perekonomian. Dengan sistem kesukuan yang dianut, masyarakat Minangkabau telah mengarifi, memanfaatkan serta mengolahnya untuk penghidupan.

Kekayaan alam merupakan warisan abadi diturunkan pada anak dan kemenakan dalam ujud pusaka tinggi. Warisan yang wajib dipelihara sebagai pertahanan ekonomi kaum dalam kurun waktu yang tak berbatas.

Prinsip mengarifi Kekayaan alam ditanamkan dalam bentuk pengelolaan secara komunal kaum dan suku. Pusaka yang telah diwarisi suatu kaum pada hakekatnya tidak ada yang boleh menjual maupun menggadaikannya, kecuali atas beberapa alasan tertentu menurut adat.

Seiring dengan perkembangan zaman dengan jumlah penduduk yang semakin banyak, sementara ketersediaan lahan dirasakan kian sempit. Kondisi ini disikapi oleh wangsa Minangkabau dengan melakukan perluasan wilayah dari pegunungan menuju pesisir yang lazim dibunyikan dalam adagium adat dengan merantau. Rantau menjadi wilayah alternatif bagi wangsa Minangkabau tempat ajang bertarung dalam menimba pengalaman dan pengetahuan sebagai bentuk pematangan jati diri. Selain itu profesi saudagar juga dijadi pilihan dominan orang Minangkabau dalam masa perantauannya sehingga wangsa ini dikenal sebagai saudagar yang ulet dan tangguh mengisi seluruh pelosok rantau dunia.

Sebagaimana lazimnya hidup merantau masuk ke wilayah baru, dimana hak belum tentu dapat berpunya. Jauh dari tanah kelahiran membentuk kesadaran baru bagi orang Minangkabau agar lebih hati-hati dalam menjalani hidup. Hidup dirantau tak sama dengan dikampung halaman. Wilayah rantau merupakan ajang perarungan bebas memaksa perantaunya untuk bersikap bijak dan hati-hati dalam mengarungi samudera kehidupan. Kondisi Ini menjadi perhatian dan disinyalkan melalui pepatah Minangkabau, “bakulimek sabalun habih”.

Bakulimek sabalun habih pepatah usang jadi petuah bagi niniak mamak, dan cerdik pandai saat melepas anak kemenakannya pergi bertarung menapaki kehidupan baru di perantauan. Ungkapan bakulimek merupakan sebuah bentuk pemahaman yang berkaitan dengan penataan sikap dalam manajemen tradisional wangsa Minangkabau. Menjauhkan diri agar tidak menjadi boros, menciptakan skala prioritas dengan menetapkan mana yang wajib dan mana yang sunat. Merancang strategi pengeluaran dengan jitu dan realistis adalah pesan utama dari pepatah ini. Seperti sebuah ungkapan dalam pepatah asing, Jika kita membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan maka kita segera akan menjual apa yang telah dipunyai.

Bakulimek sabalun habih menjadi peringatan bagi para perantau agar menjalani hidup lebih reilistis terhindar dari pukauan materialime yang menjerat. Berhemat bukan berarti menjadi kikir apa lagi bakhil. Sebuah penataan sistem perekonomian dalam manajemen sederhana untuk ketahanan ekonomi jangka panjang merupakan makna yang tersimpan dibalik ungkapan ini.

Berhemat adalah sebuah strategi jangka panjang menghindarkan dari berbagai kesulitan ekonomi yang sulit diduga. jika segalanya sudah habis maka harga diripun dapat menjadi kikis, bakulimek sabalun abih begitu pesan yang selalu disampaikan.

Epaper Harian Haluan,  MINGGU 19 FEBRUARI 2012
Kolom Tuangan Limbago Oleh: Syuhendri Datuak Siri Marajo

Iklan