SEBAGAI masyarakat komunal dan hidup mengelompok dalam suku- suku, dalam hubungan interaksi sosial tradisi berunding merupakan bagian dari seremonial dalam budaya masyarakat di Minangkabau. Dalam setiap momen adat maupun keseharian, perundingan menjadi prioritas utama dalam mencapai suatu kesepakatan. Budaya berunding dalam masyarakat Minangkabau dapat terlihat saat memecahkan ragam masalah seperti, menetapkan batas ulayat, upacara perkawinan, sampai kematian, masalah harta pusaka dan sebagainya. Lalu hasil rundingan tersebut akan melahirkan apa yang dinamakan dengan kesepakatan, kesepahaman untuk dipatuhi dan dijalankan. Jika ada pihak yang mencoba melanggarnya, maka akan dihadapkan pada sanksi adat dan sanksi sosial.

Kato dahulu kato batapati, kato kudian kato bacari: ungkapan pepatah adat ini lazim digunakan untuk sebuah situasi penegasan ikrar dalam satu perundingan, baik pada upacara adat maupun kegiatan lainnya. Isi pepatah tersebut menjelaskan tentang sebuah sikap masyarakat Minangkabau dalam memahami sebuah kesepakatan bersama. Pepatah ini menegaskan bahwa berunding tidak semata menetukan hasil, akan tetapi tertompang sikap, prilaku dan budi pekerti didalamnya.

Pepatah di atas memiliki keluasan makna, didalamnya tersimpan kedirian masyarakat Minangkabau dalam mempertontonkan harkatnya sebagai manusia. Kato dahulu kato batapati: sebuah ungkapan yang mengandung dan menjujung tinggi nilai kejujuran, ketulusan serta kepatuhan terhadap sebuah janji. Konsistensi moral dengan melatih kejujuran pada diri sendiri dalam menjalankan sebuah komitmen yang sudah disepakati mesti dijalankan dengan konsekwen.

Kato kudian kato bacari merupakan upaya pengingkaran terhadap sebuah kesepakatan dalam satu perundingan. Biasanya kondisi ini dilatari oleh bermacam hal, mulai dari hasutan dan pengaruh pihak lain ataupun atas kemauan sendiri. kondisi ini sudah tentu tidak hanya berdampak pada gagalnya satu kesepakatan, tapi secara esensial kecacatan moral dan inkonsistensi dalam pendirian telah terbangun, menjadi stigma buruk yang berdampak tidak baik dalam hubungan sosial kemasyarakatan . Idiom ini juga menjadi gambaran untuk orang yang senang berkilah, pintar mencari alasan dalam mengalihkan persoalan.

Kato dahulu kato batapati, kato kudian kato bacari sebentuk sinyal budaya dalam kehidupan masyarakat Minangkabau dalam memahami pentingnya sebuah komitmen. Komitmen pada diri sendiri dan masyarakat dengan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, jika hal ini terpakaikan tentu tidak ada masalah yang tak terselesaikan. Akan tetapi, seiring dengan kemajuan ditengah perkembangan pengetahuan, nilai moral makin tergerus disapu arus perubahan. Berbagai kearifan lokal telah dimanfaatkan dan dipelintir hanya untuk pembenaran. Tutur kata dikemas dengan lihai dalam retorika, kato dahulu kato batapati, kato kudian kato bacari dijadikan alat sebagai dalih menghindar diri dari sebuah janji maupun komitmen yang sudah diikrarkan.

Epaper Harian Haluan,  MINGGU 12 FEBRUARI 2012
Kolom Tuangan Limbago Oleh: Syuhendri Datuak Siri Marajo