WILAYAH darek atau pegunungan sebagai wilayah asal telah dibunyikan dalam tambo Minangkabau. Dari puncak gunung ini nenek moyang orang Minangkabau mengawali kehidupan dengan melakukan penerukaan membuka lahan baru. Di wilayah asal ini juga diciptakan sistem adat istiadat dan tata aturan agar tercipta masyarakat yang damai dan harmonis. Sebagaimana masyarakat pegunungan, mereka memanfaatkan alam sebagai penopang hidup, dengan memanfaatkan kayukayuan untuk membangun rumah, alat penunjang bagi pertanian, disamping dimanfaatkan juga sebagai kayu api. Dalam hal ini Kayu merupakan kebutuhan utama, sebelum ditemukan teknologi lain sebagai bahan pengganti.

Kayu api dimanfaatkan oleh para ibu rumah tangga untuk kegiatan dapur, dapur tidak akan berasap jika kayu untuk itu tidak tersedia. Tradisi kehutan mencari kayu bakar sudah menjadi suatu keharusan, dilakukan saat usai mengerjakan sawah dan ladang.

bak kayu lungga pangabek, bak batang dikabek ciek, agaknya pepatah ini lahir dari kebiasaan masyarakat yang demikian. Idiom ini menjadi gambaran masyarakat Minangkabau dalam memahami nilai-nilai, disaat masyarakat membentuk kesatuan sosial. Dahan dan ranting diikat erat dalam satu kesatuan yang kuat agar bisa dibawa dengan mudah. Bila ikatanya longgar maka akan sulit dalam proses membawanya, kayu-kayu akan berserak, bersilang tak menentu. Saat dijujung atau dipikul jadi tak terkendali sehingga akan membebani perjalanan. Dengat ikatan yang tidak kuat maka Perjalanan seakan terasa jauh, lurah semakin dalam dan bukit semakin sulit untuk didaki.

Bak kayu lungga pangabek, bak batang dikabek ciek menjadi cerminan dari kecenderungan masyarakat hari ini. Betapa erasa sulit menyatukan pendapat dan keinginan dalam kebersamaan. Kebiasaan berpolemik tanpa tata aturan, melanggar segala etika dan norma yang berlaku sudah bagai air mandi dan bisa disaksikan dimana saja. Dalam menanggapi ragam persoalan solusi yang didapatkan justru suasananya makin diperkeruh agar keadaan makin menjadi tak menentu.

Sebaliknya batang dikabek ciek merupakan sebuah perumpaan sikap dari orang yang mempunyai kecenderunga mengikatkan diri dalam sikap egoism akut, ingin menang sendiri tidak suka mendengar pendapat orang, tidak ingin bersosial dalam masyarakat. Kalaulah hanya untuk sebatang kayu sudah tentu tidak diperlukan lagi ikatan, sebab akan menjadi mubazir, kayu sebatang dengan mudah dapat disandang atau dijujung.

Agaknya era keterbukaan yang telah melanda negeri ini cenderung disikapi secara keliru, telah tercipta sebuah arena kebebasan yang lepas kendali dan tidak terkontrol. Norma dan nilai masyarakat tidak lagi dipedulikan, dilabrak dengan semena-mena. Sikap ingin menang sendiri tidak lagi suka berawak-awak untuk sebuah kebersamaan tak lagi dimilki, apalagi bila sudah menyangkut dengan kepentingan dan kekuasaan.

Terasa betapa sulit bagi kita hari ini menyatukan visi dan pendapat demi kepentingan bersama, Bak kayu lungga pangabek.
Sudah saatnya kita bangkitkan kembali semangat kebersamaan untuk kesejahteraan bersama dalam partisipasi social dengan mengenyampingkan ego dan kepentingan pribadi, dengan membangun lagi semangat kekitaan, baawak-awak.

 

Epaper Harian Haluan,  MINGGU 22 JANUARI 2012
Kolom Tuangan Limbago Oleh: Syuhendri Datuak Siri Marajo

Iklan