SEBUAH tradisi menarik di masyarakat kita dalam menghadapi berbagai peristiwa adalah dengan kebersamaan yang dibentuk oleh sebuah ikatan rasa. Rasa sepenanggungan dalam meringankan berbagai beban, yang memungkinkan aktivitas sosial berlangsung dalam semangat patisipasi. Malu rasanya bila tak ambil bagian, setiap anggota masyarakat merasa wajib sato sakaki.

Rasa kebersamaan pada budaya Minangkabau masa lalu itu telah tersistemkan dalam berbagai tradisi dalam komunitas masyarakat. Tradisi bajulo-julo, turun bersama menggarap sawah atau ladang, melaksanakan gotong royong yang melibatkan semua unsur masyarakat dalam sebuah kegiatan nagari, membangun sarana pengairan, memperbaiki jalan kampung serta berbagai fasilitas umum lainnya.

Berbagai kearifan lokal dalam kebersamaan di masyarakat tradisional diwujudkan dalam kegiatan formal maupun non formal, dalam bentuk ritual maupun sosial mereka. Tidak ada pamrih, semuanya dilakukan dengan kesadaran tinggi demi sebuah capaian bersama. Masyarakat akan berbondongbondong datang, mempersamakan kerja dalam satu tujuan.

Namun budaya tradisional yang demikian tampaknya semakin memudar dalam masyarakat Minangkabau saat ini. Berbanding terbalik dengan apa yang terjadi hari ini, munculnya sebuah fenomena baru dalam masyarakat kita. Mereka berbondong-bondong juga, tetapi dengan tujuan yang sangat individual. Dalam kejaran ingin menjadi yang terdepan dalam modernitas diri, mereka sangat akomodatif dalam menyerap budaya konsumtif dan konsumeristis dan serba pamrih, yang mengikis rasa kebersamaan.

Masyarakat kita mungkin telah memerangkap diri mereka dalam efouria massa yang akut, tak lagi mengenal diri dan tak paham dengan apa yang sedang mereka kerjakan. Yang ada hanya kepentingan dan materi yang menjebak pada pengorbanan yang sia-sia, sebagaimana diingatkan dalam adagium adat kita, bondong aie bondong dadak, awak tasorong urang tagak.

Bondong aie bondong dadak, terjebak dalam arus deras pusaran peradaban yang tak jelas sumbernya, seumpama tumpukan dedak hanyut, terombang ambing dalam arus, perlahan namun pasti akhirnya tenggelam dihisap derasnya air. Mereka terbawa arus dalam ketakmengertian pada apa yang sedang dihadapi dan yang dilakukan, asal ikut dan terlibat. Bila sudah demikian sama saja dengan menjebakkan diri pada kesia-siaan. Pengibaratan sikap yang bondong aie bondong dadak dalam prilaku berbudaya yang tengah menjangkiti orang-orang Minangkabau saat ini, merupakan sebuah gambaran masyarakat yang hanya menjadi kumpulan massa yang mudah diperalat, laiknya sekumpulan kerbau yang dicocok hidung sehingga mudah dikendalikan, sekumpulan massa yang kehilangan pendirian dan jati diri.

Bervalentine day orang, bervalentine day pula kita, bertahun baru orang kita juga tak mau ketinggalan, entah apa maknanya tak perlu paham, yang penting ikut serta pula. Atau bahkan mungkin dalam tindakan yang lebih dari sekedar perayaan, kita juga hanya terjebak dalam semangat budaya massa yang sama?

Bondong aie bondong dadak bagi masyarakat kita merupakan sebuah peringatan, pemahaman tentang kedirian agar tidak terjebak dalam budaya histeria akut yang berbahaya bagi perjalanan peradaban masyarakat kita.

Kondisi ini seyogyanya menjadi perenungan kita bersama, dalam setiap pergantian musim maupun tahun. Sebuah refleksi tentang kebaruan dan pencerahan agar tak hanya menjadi harapan saat terompet tahun baru dikumandangkan yang hanya menjadi cita-cita klise dalam kebersamaan. Saat massa memenuhi jalan-jalan, gedunggedung opera dan pertunjukan, lalu disorakkan puisi-puisi yang memabukkan tentang pencerahan, ditimpali dengan yelyel massa yang berefouria.

Epaper Harian Haluan,  MINGGU 08 JANUARI 2012
Kolom Tuangan Limbago Oleh: Syuhendri Datuak Siri Marajo