BA COLOK jo kain bugih marekan molah kironyo. Idiom ini populer lewat lirik lagu yang dilantunkan Tiar Ramon, penyanyi Minang era 8o-an. Lirik itu bersumber dari mamangan adat Minangkabau. Lagu itu bercerita tentang perbedaan status social dalam relasi manusia dalam konteks romantisme, percintaan pemuda miskin yang penuh harap mendapatkan gadis kaya dan bangsawan.

Sudah barang tentu, konteks mamangan tersebut tidak sesederhana seperti lirik lagu Minang di atas. Kain bugih (bugis) merupakan kain sarung yang dikenakan dalam upacara adat di Minangkabau. Lakilaki yang sudah memakai gelar adat, di setiap kegiatan seremonial adat akan menyampirkan kain bugih di bahunya atau menyelempangkannya di badan sebagai simbol dari status kehormatan menurut adat. Warna kain menunjukkan kebijaksanaan pemakainya, warna merah biasanya menjadi pakaian yang lebih muda, coklat dan hitam menunjukkan kedalaman kearifan lakilaki yang sudah berumur yang memakainya. Makin bagus kain yang dipakai menunjukan juga kelas pemakainya.

Marekan hanya kain yang terbuat dari benang kasar. Sekarang lazim dijadikan karung tepung. Pada masa lalu, kain marekan juga dipakai sebagai kain basahan (kain penutup yang dipakai saat mandi) mandi di tapian. Paling tinggi fungsinya jadi sarawa piluruik pakaian dalam favorit para lelaki tua di Minangkabau. Bila kain marekan di colok (diwarnai) layaknya kain bugih, tampilan luarnya bisa saja sama tapi kualitasnya dasarnya tetap beda.

Demikian masyarakat Minangkabau memproduksi makna dalam mengarifi hidup dan karakter manusia dalam bersosialisasi di tengah-tengah masyarakat, yang dapat pula diaktualkan dalam menyigi tingkah polah manusia dalam kehidupan kita hari ini. Kepalsuan dalam berbagai praktik dan gejala yang terjadi dalam masyarakat merupakan gambaran nyata dari pengertian yang dibangun oleh mamangan tersebut, yakni pencitraan diri.

Colok atau warna (representasi diri) yang tidak sesuai dengan kondisi sesungguhnya, bukan warna asli. Dengan kata lain citra atau pencitraan yang dibangun memberi kesan lebih dari kondisi yang real. Banyak kalangan seperti, para bangsawan, seniman, politikus, usahawan penguasa dan bahkan ilmuwan, saat ini sudah jamak membangun kesuksesan dengan cara demikian.

Dunia pencitraan menjadi suatu yang dianggap sangat penting. Bagi yang tidak pandai membangun citra diri, maka bersiaplah untuk tenggelam dan tidak dikenal banyak orang. Untuk dapat eksis berbagai cara kemudian dilakukan, dan media informasi menjadi sarana vital.

Dalam dunia artis dan selebritas misalnya, melalui media massa dapat disaksikan bagaimana mereka dengan heboh membangun citra dihadapan publik, tiba-tiba saja segala persoalan yang mereka hadapi seolah sudah menjadi urusan kita pula. Dari soal cerai, selingkuh, kehidupan glamour, hedonis dan hidup dalam serba kepurapuraan.

Lihat juga fenomena yang terjadi pada saat ini. Polah para elit memanfatkan adat dan agama untuk kepentingan pencitraan. Pada masa pemilu kada misalnya ramai-ramai para peminat jabatan mengangkat diri sendiri jadi datuk, penghulu suatu kaum. Apakah mereka berhak atas gelar itu atau apakah mereka mengerti soal adat atau tidak itu tidak menjadi penting. Yang penting citra mereka sudah terbangun bahwa mereka orang beradat dengan embel embel gelar datuk dibelakang nama mereka. Celakanya lagi jangankan berpengetahuan soal adat dengan anak kemenakannya saja mungkin tidak saling mengenal.

Agama juga tidak luput menjadi alat untuk pencitraan demi kepentingan. Betapa fasihnya saat ini kita mengutip ayat-ayat suci Al- Qur’an, mengutip hadisthadist, tapi pada praktiknya apa yang dilakukan tidak sesuai dengan yang diucapkan.

Pencitraan kemudian diteorikan dan menjadi kajian kalangan ilmuwan dan akademisi dalam studi kebudayaan (cultural studies dan sejenisnya). Berbagai masalah yang terpinggirkan nyaris tidak penting akan menjadi penting apa bila sudah diapungkan melalui kekuatan dari pencitraan. Jauh sesudah Minangkabau memformulasikan pencitraan dalam mamangannya. Dan kini saking canggihnya dunia pencitraan, sulit bagi kita mengenali mana bugih, mana marekan.

Epaper Harian Haluan, MINGGU 23 JANUARI 2011
Kolom Tuangan Limbago Oleh: Syuhendri Datuak Siri Marajo