“MAKANAN anggang ndak ka dek pipik, makanan pipik ndak ka dek anggang” adalah salah satu pepatah usang yang sangat fasih diucapkan oleh masyarakat Minangkabau. Pepatah ini acap muncul saat masyarakat bercengkrama di lapau-lapau, di surau dan balai adat setelah melepas lelah sehabis bekerja. Itu dulu. Sekarang sudah agak jarang.

Pipik atau pipit adalah sejenis burung kecil yang gemar makan padi. Padi saat masa bersantan. Maka, burung pipik ini, menjadi musuh petani. Biasanya pipik datang bergerombol yang jumlahnya bisa mencapai ratusan, menyerbu buah padi menjelang berisi.

Sementara anggang (enggang, hornbill) juga merupakan sejenis burung yang punya paruh besar yang suka makan buah kayu yang berasal dari hutan serta memangsa ular, kelelawar dan jenis serangga lainnya. Pada saat ini habitatnya sangat sulit ditemukan. Burung ini sudahy langka dilindungi.

Pepatah “alam takambang jadi guru” terasa klise jika tidak dipahami dan dilaksanakan dalam memaknai kehidupan ini. Lalu apa kaitannya soal makanan pipik dengan anggang? Rantai makanan burung pipik dan anggang nyaris tidak dapat dipertemukan karena jenis makanannya sangat berbeda. Burung pipik makanannya adalah padi dengan bulir yang kecil-kecil, sedangkan burung anggang makanannya buah hutan yang keras serta kelelawar yang tubuhnya bisa lebih besar dari pada burung pipik.

Makna pepatah di atas boleh saja ditafsirkan secara bebas sebagai suatu perbedaan antara sifat dan karakter masyarakat atau seseorang di dalam menjalani berbagai pekerjaan dan profesinya. Pepatah di atas tentu tak mungkin ditafsirkan dengan membanding besar-kecilnya fisik kedua burung tersebut. Pipik haruslah berperan sebagai pipik yang selalu kecil dan anggang berperan sajalah sebagai anggang yang besar. Keduanya tak boleh saling intervensi atau saling bertukar makanan. Jika ini terjadi akan memunculkan persoalan dan masalah. Makanya, kedua jenis burung ini tak bisa bertukar makanan.

Burung pipik bisa tabulaliak biji matanya karena tak sanggup menelan makanan anggang, demikian juga sebaliknya anggang tidak akan pernah merasa cukup dengan makanan pipik yang kecil.

Demikianlah alam mengajarkan manusia mengenai kearifan dan sadar akan tugas dan posisi masing-masing. Pepatah ini mengajarkan manusia tentang sebuah posisi yang tepat dan ideal untuk tidak saling mengintervensi dengan menyadari sesungguhnya kita ini makhluk Tuhan dengan pembagian yang sudah jelas dalam menjalani hidup.

Pepatah itu memberi ruang keteladanan bagi manusia untuk menyadari dan menyikapi dengan arif berbagai posisi yang sudah digariskan. Tidak mengedepankan sikap-sikap ambisius, merasa mampu mengerjakan sesuatu yang sesungguhnya bukan bidangnya.

Pepatah itu juga memberi keteladanan dan ajaran penting pada masyarakat dalam menjalankan profesi secara profesional di berbagai bidang. Dalam hal ini bukan berarti orang kecil akan tetap kecil dan orang besar selalu menjadi besar dan lantas jadi sombong, tidaklah demikian adanya. Dalam pepatah ini diajarkan bagaimana manusia memahami posisi dan menyadari kemampuan diri secara personal.

Masalah ini menjadi penting di tengah-tengah masalah yang dihadapi oleh negeri ini yang semakin lama semakin rumit. Kita selalu tidak puas dengan banyak masalah dan kebijakan yang muncul baik dari pemerintah maupun kebijakan dalam suatu lingkungan kecil seperti nagari, jorong, RT, RW dan sebagainya.

Contoh sederhana kita dapat bercermin pada lembaga-lembaga pemerintah dari lembaga tertinggi sampai yang terendah. Pada saat ini sistem penempatan orang dalam jabatan strategis tertentu tidak lagi mempertimbangkan kapasitas dan kapabilitasnya. Tidak lagi mempertimbangkan apakah orang itu cocok dengan jabatan yang akan ditempatinya.
Pada praktiknya saat ini, tergantung koneksi dan kedekatan dengan para penguasa. Tidak penting apakah mereka pipik atau anggang.

Semuanya sudah berasa jadi anggang sehingga pada saat dipercaya terhadap suatu jabatan tertentu, maka roda kebijakan yang diinginkan masyarakat banyak tidak jalan sebagai mana yang diharapkan. 􀂄

Sumber : Epaper Harian Haluan, MINGGU 16 JANUARI 2011
Kolom Tuangan Limbago Oleh: Syuhendri Datuak Siri Marajo