Adat nan Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Monthly Archives: Januari 2011

BA COLOK jo kain bugih marekan molah kironyo. Idiom ini populer lewat lirik lagu yang dilantunkan Tiar Ramon, penyanyi Minang era 8o-an. Lirik itu bersumber dari mamangan adat Minangkabau. Lagu itu bercerita tentang perbedaan status social dalam relasi manusia dalam konteks romantisme, percintaan pemuda miskin yang penuh harap mendapatkan gadis kaya dan bangsawan.

Sudah barang tentu, konteks mamangan tersebut tidak sesederhana seperti lirik lagu Minang di atas. Kain bugih (bugis) merupakan kain sarung yang dikenakan dalam upacara adat di Minangkabau. Lakilaki yang sudah memakai gelar adat, di setiap kegiatan seremonial adat akan menyampirkan kain bugih di bahunya atau menyelempangkannya di badan sebagai simbol dari status kehormatan menurut adat. Warna kain menunjukkan kebijaksanaan pemakainya, warna merah biasanya menjadi pakaian yang lebih muda, coklat dan hitam menunjukkan kedalaman kearifan lakilaki yang sudah berumur yang memakainya. Makin bagus kain yang dipakai menunjukan juga kelas pemakainya.
Baca lebih lanjut


“MAKANAN anggang ndak ka dek pipik, makanan pipik ndak ka dek anggang” adalah salah satu pepatah usang yang sangat fasih diucapkan oleh masyarakat Minangkabau. Pepatah ini acap muncul saat masyarakat bercengkrama di lapau-lapau, di surau dan balai adat setelah melepas lelah sehabis bekerja. Itu dulu. Sekarang sudah agak jarang.

Pipik atau pipit adalah sejenis burung kecil yang gemar makan padi. Padi saat masa bersantan. Maka, burung pipik ini, menjadi musuh petani. Biasanya pipik datang bergerombol yang jumlahnya bisa mencapai ratusan, menyerbu buah padi menjelang berisi.
Baca lebih lanjut


KALIMAT nan sabinjek sering kita dengar di dalam kosa kata masyarakat Minangkabau. Nan sabinjek paling sering didengar saat anak nagari belajar silat di sasaran-sasaran tradisional.

Pada saat akan memutus kaji atau silat, sang guru selalu berpetuah pada muridnya.

Petuahnya kira-kira begini:

“Pada suatu saat kalau kamu akan mengajarkan silat kepada orang lain nan sabinjek jan diagiahkan.”

Makna nan sabinjek tersebut dipahami dengan menyimpan beberapa jurus pamungkas yang tidak boleh diturunkan pada murid. Alasan menyimpan itu untuk antisipasi jika suatu kelak murid melawan guru bersilat dan “satu jurus” atau sabinjek masih dipegang guru.

Baca lebih lanjut