Pengamatan dalam Pengamalan Nilai-Nilai Adat Basandi Syarak

Pauh IX, di Kota Padang, Propinsi Sumatera Barat. Nagari Pauh IX penduduknya berasal dari pendatang dari daerah Saniang Baka dan Muaro Paneh. Di Nagari Pauh IX terdapat beberapa suku yaitu Koto, Sikumbang, Melayu, Tanjung, Jambak, Caniago, dan Guci. Kelengkapan NMPA Minangkabau yang ada disini adalah: penghulu, nan tuo, pandito adat (malin) dan rang basako (dubalang).

Sistem pewarisan pemangku adat terjadi bila seorang penghulu meninggal dunia. Hal ini sesuai dengan mamangan yang berbunyi: “Sileh baju tanah tasirah di kuburan”. Pemikiran pengganti penghulu yang meninggal melalui sistem pewarisan yang disebut, gadang balega cayo batimbang, kalupuak pakai memakai malatakkan parmato di kapuaknyo”. Ada juga dengan cara “Iduik bakarilaan mati batungkek budi”. Maksudnya jika usia tidak mengizinkan lagi maka dapat ditunjuk penggantinya melalui musyawarah kaum atau suku.

Kanagarian Pariangan, di Kecamatan Pariangan, Kebupaten Tanah Datar, Propinsi Sumatera Barat. Nagari Pariangan mempunyai ninik mamak nan salapan dan suku nan salapan, adalah:
1) Datuk Sinaro, suku Piliang,
2) Datu Basar, suku Koto,
3) Datuk Tinaro, suku Dalimo Panjang,
5) Datu Kayo, suku Pisang,
6) Datuk Suri Dirajo, suku Dalimo Singkek,
7) Datuk Marajo Japang, suku Piliang Laweh,
8) Datuk Tan Bijo, suku Sikumbang.

Di samping ninik mamak nan salapan sebagai pimpinan adat, ada Tuangku nan barampek sebagai pimpinan syarak, yaitu ; 1) Tuangku Piliang jo Malayu, Panjang jo Piliang, Laweh, dan 4) Tuanku Dalimo Singkek jo Sikumbang. Sedangkan pimpinan tertinggi menurut adat dan syarak di kenagarian Pariangan adalah: “Bandaro Kayo” sebagai tampuak tangkai alam Minangkabau.

Nilai-Nilai Ketuhanan. Pemahaman nilai-nilai ketuhanan masyarakat Nagari Pauh IX Padang masih tampak dalam penggunaan Masjid. Sebagian besar masyarakat Nagari Pauh IX beragama Islam. Masjid digunakan oleh masyarakat Nagari Pauh IX Padang untuk pelaksanaan ibadah sholat setiap waktu (Shubuh, Zuhur, Ashar, Magrib, dan Isya). Jumlah mereka yang menggunakannya tidaklah banyak. Masjid di Nagari Pauh IX selain digunakan untuk ibadah sholat juga digunakan untuk pendidikan Islaminya masyarakat sekitarnya. Selain itu, di masjid juga digunakan untuk pelaksanaan MTQ dan Khatam Quran, dan untuk pelaksanaan ijab Qabul (nikah).

Disamping masjid juga ada banyak mushalla, yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat untuk pelaksanaan ibadah sholat lima waktu (wajib), sholat Tarwih saat bulan puasa. Hampir di setiap nagari di Pauh IX memiliki surau. Bahkan setiap komplek memilikinya. Bila dibandingkan jumlahnya, mushalla lebih banyak daripada masjid. Selain tempat ibadah sholat, mushalla juga digunakan untuk pelaksanaan pendidikan Islami.

Saat-saat situasi azan beberapa anggota masyarakat usia lanjut pergi ke masjid dan surau untuk melaksanakan ibadah sholat. Namun, jumlah jamaah yang paling banyak adalah saat sholat Magrib dan Isya.

Pengamalan keagamaan dalam ABSSBK di Kenagarian Pariangan Tanah Datar, masih jauh dari harapan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penduduk yang melaksanakan shalat berjama’ah di masjid. Pada umumnya yang melaksanakan shalat berjama’ah adalah kaum ibu yang sudah tua-tua. Sementara para remaja lebih senang nongkrong di kedai-kedai sekitar masjid saat azan berkumandang, sedang kaum bapak sibuk dengan pekerjaannya. Begitu juga mushalla-mushalla yang ada di Kanagarian Pariangan kurang dimanfaatkan untuk pembinaan pendidikan anak, bahkan ada mushalla yang tidak dimanfaatkan sama sekali. Akan tetapi dalam pembayaran zakat dan zakat fitrah masyarakat melaksanakan dengan sepenuhnya.

Nilai-Nilai Kemanusiaan. Pemahaman masyarakat Nagari Pauh IX terhadap nilai-nilai kemanusiaan terlihat pada hari baik dan hari buruk. Filosofi adat yang berbunyi “kaba bayiak bahimbauan, kaba buruak bahambauan” masih terlihat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat acara kematian, mereka selalu melakukan “tagak payuang” sebagai lambang duka. Masyarakat sekitarnya ikut mendatangi rumah yang ditimpa musibah (manjanguak). Hari berikutnya, masyarakat juga masih mendatangi rumah yang berduka untuk menyumbangkan “kaji” (mangaji di rumah yang kemalangan, yaitu membacakan yasin secara bersama-sama) sebagai rasa ikut membantu si almarhum melapangkan dari azab kubur. Dalam pesta kebaikan seperti baralek, di masyarakat Pauh IX Padang ditemukan nilai-nilai kemanusiaan seperti tetangga terdekat ikut membantu mamasak di rumah si Alek tanpa diperintahkan terlebih dahulu.
Pengamalan nilai-nilai ukhuwah Islamiyah masih dijumpai pengamalannya dalam masyarakat di Kanagarian Pariangan, namun tidak seerat pada masa lalu. Dahulu aspek kehidupan yang membutuhkan orang banyak selalu dikerjakan secara gotong royong, seperti dalam mengolah sawah, pembuatan rumah, perhelatan/upacara perkawinan, pembuatan masjid/mushalla. Sekarang lebih banyak dikerjakan secara sendiri-sendiri. Yang masih konsisten sampai sekarang dilaksanakan secara bersama adalah perhelatan/upacara perkawinan, sedangkan yang lainnya sudah dilaksanakan secara sendiri-sendiri. Bahkan pembuatan masjid/mushalla tidak lagi dilaksanakan secara gotong royong.

Nilai Ukhuwah Islamiyah/Kesatuan dan Persatuan. Nilai-nilai ukhuwah Islamiyah/Kesatuan dan Persatuan juga dapat dijumpai dalam masyarakat Pauh IX, seperti dalam alek buruak dan alek bayiak. Dalam alek buruak seperti, kedatangan mereka tanpa diundang terlebih dahulu. Dalam masyarakat Nagari Pauh IX juga ditemui nilai-nilai ukhuwah Islamiah/Kesatuan dan Persatuan seperti untuk membangun rumah. Di daerah ini juga ditemui sebuah kaum yang sangat menjunjung tinggi nilai kesatuan dan persatuan. Di dalam kaum, pekerjaan baik dan pekerjaan buruk selalu dikerjakan secara bersama.

Pengamalan nilai-nilai kemanusiaan di Kenagarian Pariangan masih diamalkan oleh masyarakat. Salah satu indikator pengamalan masyarakat adalah “kaba baiak baimbauan, kaba buruak baambauan”. Setiap terjadi kematian salah seorang anggota masyarakat, maka diumumkan dari masjid tentang peristiwa tersebut, maka masyarakat berduyun datang ke rumah duka untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan jenazah. Begitu juga malam-malam berikutnya, orang berkumpul di rumah duka untuk melaksanakan tadarusan.

Nilai Musyawarah dan Demokrasi. Nilai musyawarah yang dijumpai dalam masyarakat Pauh IX seperti terlihat dalam pemberian gelar adat untuk marapulai dan atau datuak, musyawarah dalam mencari hari baik bulan baik untuk pesta perkawinan. Nilai-nilai musyawarah dan demokrasi tersebut terlihat saat ninik mamak dengan ninik mamak berunding tentang apa gelar yang akan diturunkan kepada kemenakan (marapulai). Keputusan diambil ninik mamak berdasarkan filosofi “bulek ayia ka pambuluah, bulek kato ka mufakat”, “karajo bayiak elok dipacapek nak jan tumbuah di nan buruak”.

Pengamalan nilai-nilai musyawarah/demokrasi yang membudaya di Kanagarian Pariangan disebut dengan “baiyo batido”, salah satu bentuk sistem musyawarah di Nagari, dalam berbagai aspek kehidupan seperti, mendirikan rumah baru, mencari jodoh anak perempuan, melakukan perhelatan perkawinan dan sebagainya.

Nilai Raso Pareso/Akhlak/Budi Pekerti. Nilai-nilai yang berhubungan dengan raso pareso/akhlak/budi pekerti yang dijumpai dalam masyarakat Nagari Pauh IX Padang adalah semakin hilangnya identitas keminangkabauan, terutama rasa malu di dalam diri, seperti berpakaian ketat, memperlihatkan aurat (anak gadis pergi sekolah atau ke pasar mengenakan pakaian ketat dan celana pendek), main bola dan main domino dengan anak kemenakan. Hal ini seperti terlihat di sebuah kedai di Pauh IX, kemenakan dan mamaknya satu meja domino. Bahkan sama-sama mencari nomor buntut di kedai tersebut.

Nilai-nilai akhlak/budi pekerti dalam masyarakat Kanagarian Pariangan nampaknya semakin kurang seperti juga masyarakat lain, masyarakat Kanagarian Pariangan mengalami krisis identitas terutama di kalangan anak muda. Para remaja dalam berpakaian tidak lagi mengikuti norma-norma agama dan adat, begitu juga dalam pergaulan, para remaja putri banyak yang berpakaian tidak menutup aurat. Remaja putra dan putri sering keluar malam berdua-duan tanpa didampingi oleh muhrimnya.
Gotong Royong/Sosial Kemasyarakatan. Nilai-nilai gotong royong masih dijumpai dalam masyarakat Nagari pauh IX, terutama dalam pembangunan masjid, mushalla dan perbaikan/pemeliharaan jalan. Mereka melakukannya dengan hati ikhlas, bahkan kaum ibunya ikut menyumbangkan nasi bungkus untuk pelaksanaan gotong royong tersebut.

Nilai-nilai sosil kemasyarakat yang diamalkan oleh masyarakat Pariangan dapat dilihat dari aplikasi “syarak mangato adat mamakai”. Ini terbukti bahwa antara Ninik Mamak Pemangku Adat, selalu bekerja sama dengan ulama dalam membangun dan membina masyarakat. Tradisi-tradisi yang berlaku disana sulit untuk dibedakan apakah tradisi tersebut adat atau agama, karena tradisi tersebut disokong oleh Ninik Mamak dan ulama.

Kesimpulan dan Rekomendasi
Pemerintah Sumatera Barat hendaknya menyediakan dana untuk peningkatan pemahaman terhadap nilai-nilai adat basandi syarak dengan perencaanan yang tepat dengan hasil yang berlipat.
Pemerintah Sumatera Barat hendaklah menempatkan nilai-nilai adat dan syarak sebagai paradigma kultural landasan pembangunan di Sumatera Barat.

ABS-SBK hendaklah diimplementasikan dalam seluruh sendi kehidupan masyarakat Sumatera Barat. Untuk itu ABS-SBK perlu ditingkatkan pengkajiannya dengan menggunakan berbagai pendekatan seperti pendekatan empiris, normatif, historis dan integralistik.

DAFTAR BACAAN
Azyumardi Azra. 1999. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Logis.
Donal Ary, dkk. 1984. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, terjemahan Arief Farchan. Sutabaya. Usaaha Nasioanal.
Haroen,dkk. 2001. Ensiklopedi Hukum Islam. Jakarta: Penerbit
I.H.Dt. Rajo Panghulu. 1984. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Bandung: CV. Remaja Karya.
M. Nasroen. 1971.Dasar Filsafat Adat Minangkabau. Jakarta: Bulan Bitang, 1971
M.R.M. Dt. Radjo Panghoeloe. 1969. Minangkabau: Sejarah Ringkas. Padang: t.p.
Muchtar Naim. 1984. Merantau Pola Migrasi Suku Minangkabau. Yogyakarta: UGM Press.
Mas’oed Abidin, H. Islam Dalam Pelukan Muhtadin MENTAWAI, DDII Pusat, Percetakan ABADI, Jakarta – 1997.
———————– , Dakwah Awal Abad, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2000.
———————– , Problematika Dakwah Hari Ini dan Esok, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2001.
———————– , Suluah Bendang di Minangkabau, Pustaka Mimbar Minang, Padang.2002
‏ ———————– , Pernik Pernik Ramadhan, Pustaka Mimbar Minang, Padang 2003
———————– , Surau Kito, PPIM Sumbar, Padang – 2004.
———————– , Silabus Surau, PPIM Sumbar, Padang – 2004.
———————– , Adat jo Syarak di Minangkabau, PPIM Sumbar, Padang – 2004.
———————– , Implementasi ABS-SBK, PPIM Sumbar, Padang – 2004.
Pemerintah Propinsi Sumatera Barat. 2001. Program Pembangunan Daerah Propinsi Sumatera Barat Tahun 2001-2005. t.p.
Ramayulis. 2003. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Salmadanis, dkk,. 2003. Adat Basandi Syarak: Nilai dan Aplikasinya Menuju Kembali ke Nagari dan Surau. Jakarta: Kartina Insan Lestari.

Note :
Kesudahan adat, artinya keputusan adat itu berakhir pada musyawarah ninik mamak di valairung adat, sedangkan keputusan dari syarak atau agama baru akan dirasa akibatnya di akhirat nanti. Karena itu, adat yang mempedomani syarak niscaya akan terhindar dari perbuatan nista.
adat nan indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan, diasak indak layua, dibubuik indak mati, atau adat yang tidak lekang oleh panas, tidak lapuk karena hujan, di pindahkan tidak layur, dicabut tidak akan mati, artinya adat tersebut hidup terus sesuai dengan keperluan manusia, dan adat itu dapat dilaksanakan oleh orang Minangkabau walaupun di tanah perantauannya sendiri.
Adat berbuhul mati, adalah adat sebenar adat yang datangnya dari Allah Khaliqul Alam, sesuai dengan fiotrah manusia.
Maknanya, yang ditetapkan oleh syari’at agama Islam, semestinya dipakaikan oleh adat di ranah Minangkabau
Alam terkembang jadi guru telah menjadi filosofi adat di Minangkabau sejak pertama. Dari melihat alam sesungguhnya kita dapat mengenal kekuasaan Allah Khaliqul Alam ini.
Berjenjang naik bertangga turun, ada aturan yang mesti dilalui. Naik dimulai dari jenjang yang di bawah, terjaga keteraturan, dan turun dari tangga yang di atas, artinya ada kaedah yang mesti dijaga baik. Secara hokum alam titik dari langit, yakni aturan syarak itu dating dari wahyu, dan aturan adat tabusek dari bumi, menjadi perilaku masyarakat mulai dari lapisan paling bawah
Tumbuah bak padi digaro, tumbuah bak bijo disiang. Elok dipakai, buruak dibuang. Elok dipakai jo mufakat, buruak dibuang jo rundiangan Tumbuh bagaikan padi yang di pelihara di sawah, tumbuh bagaikan bijo (tampang) yang di jaga dan dipupuk disiangi. Maka adat itu akan berkembang dengan baik. Dalam perkembangan zaman maka adat itu berperinsip kepada mana yang elok dapat di pakai, mana yang buruk dapat dibuang. Akan tetapi menetapkan elok itu mesti dengan mufakat, mengahadirkan kebiasaan istiadat dan bimbingan agama Islam juga. Mana yang tudak baik, dapat dibuang melalui perundingan.
QS.4, An Nisak : 97.
Ucapan Khalifah Umar bin Khattab, yang ditujukan kepada seorang pemuda yang hanya berdoa tanpa berusaha.
Atsar dari Shahabat.
ibid. QS.16 : 17 dan QS.14,Ibrahim : 33.
Memang di surau tidak ada yang dapat di cari benda-benda (materi), kecuali hanya bekal ilmu, hikmah dan kepandaian-kepandaian untuk mengharungi hidup di dunia ini, dan dalam mempersiapkan hidup di akhirat. Sebagai terungkap di dalam Peribahasa Minangkabau, “bak batandang ka surau”, karena memang surau tak berdapur (Anas Nafis, 1996:464 -Surau-2).
Dt.Rajo Pengulu, Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau, 1994 : 62.
Penghulu pada setiap suku, yang sering juga disebut ninik mamak nan gadang basa batuah, atau nan di amba gadang, nan di junjung tinggi, sebagai suatu legitimasi masyarakat nan di lewakan.
Bisa juga disebut dengan panggilan urang siak, tuanku, bilal, katib nagari atau imam suku, dll dalam peran dan fungsinya sebagai urang surau pemimpin agama Islam. Gelaran ini lebih menekankan kepada pemeranan fungsi ditengah denyut nadi kehidupan masyarakat (anak nagari).
Bisa saja terdiri dari anak nagari yang menjabat jabatan pemerintahan, para ilmuan, perguruan tinggi, hartawan, dermawan.
Para remaja, angkatan muda, yang dijuluki dengan nan capek kaki ringan tangan, nan ka disuruah di sarayo.
Kalangan ibu-ibu, yang sesungguhnya ditangan mereka terletak garis keturunan dalam sistim matrilinineal dan masih berlaku hingga saat ini.
Bukti kecintaan kenagari ini banyak terbaca dalam ungkapan-ungkapan pepatah hujan ameh dirantau urang hujang batu dinagari awak, tatungkuik samo makan tanah tatilantang samo mahiruik ambun.

Oleh : Buya, H. Mas’oed Abidin
Disampikan pada Diskusi Mailing List Minang, RantauNet