Adat nan Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Monthly Archives: Maret 2008

Pengamatan dalam Pengamalan Nilai-Nilai Adat Basandi Syarak

Pauh IX, di Kota Padang, Propinsi Sumatera Barat. Nagari Pauh IX penduduknya berasal dari pendatang dari daerah Saniang Baka dan Muaro Paneh. Di Nagari Pauh IX terdapat beberapa suku yaitu Koto, Sikumbang, Melayu, Tanjung, Jambak, Caniago, dan Guci. Kelengkapan NMPA Minangkabau yang ada disini adalah: penghulu, nan tuo, pandito adat (malin) dan rang basako (dubalang).

Sistem pewarisan pemangku adat terjadi bila seorang penghulu meninggal dunia. Hal ini sesuai dengan mamangan yang berbunyi: “Sileh baju tanah tasirah di kuburan”. Pemikiran pengganti penghulu yang meninggal melalui sistem pewarisan yang disebut, gadang balega cayo batimbang, kalupuak pakai memakai malatakkan parmato di kapuaknyo”. Ada juga dengan cara “Iduik bakarilaan mati batungkek budi”. Maksudnya jika usia tidak mengizinkan lagi maka dapat ditunjuk penggantinya melalui musyawarah kaum atau suku.
Baca lebih lanjut


HUBUNGAN KERABAT DI MINANGKABAU BERLANGSUNG HARMONIS DAN TERJAGA BAIK.

Hal tersebut terjadi karena perasaan kekeluargaan dan perasaan malu kalau tidak membina hubungan dengan keluarganya dengan baik. Seseorang akan dihargai oleh sukunya atau keluarganya apabila ia berhasil menyatu dengan kaumnya dan tidak membuat malu kaummya.

Hubungan kekerabatan masyarakat Minangkabau yang kompleks senantiasa dijaga dengan baik oleh ninik mamak dan penghulu di Nagari. Seseorang akan dianggap ada apabila ia berhasil menjadi sosok yang diperlukan di kaumnya dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kelompoknya. Nilai-nilai ideal dalam kehidupan yang mesti dihidupkan terus dalam menata kehidupan bernagari, antara lain adalah,
1) rasa memiliki bersama,
2) kesadaran terhadap hak milik,
3) kesadaran terhadap suatu ikatan,
4) kesediaan untuk pengabdian,
5) dampak positif dari satu ikatan perkawinan, seperti mengurangi sifat-sifat buruk turunan serta mempererat mata rantai antar kaum.
Baca lebih lanjut


Nilai-nilai sosial kemasyarakatan dalam syarak sebagai berikut:

a. Saling tolong menolong
Firman Allah SWT
تعاونوا على البر واتقوا ولا تعاونوا على الاثم والعدوان (المائدة: 2)
Saling tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kamu tolong menolong berbuat dosa dan permusuhan (QS. Al-Maidah: 2).

Sabda Rasulullah SAW
انصر اخاك ظالما أو مظلوما (رواه البخارى)
Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi (HR. Bukari) Baca lebih lanjut


Nilai-nilai kemanusiaan dinyatakan dalam syarak :

a. Kewajiban untuk menghargai persamaan (egaliter)

Allah berfirman:
يايها الناس إ نا خلفناكم من ذكر وأ نثى وجعلنكم شعوبا وقبا ئل لتعارفوا إ ن أ كرمكم عند الله أ تقاكم، إ ن الله عليم خبير. الحجرات: 13)
“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal”. (al-Hujurat: 12)

b. Menghormati persamaan manusia lain.
Sabda rasulullah
ليس المسلم بالطعان ولا اللعان ولا الفاحش ولا البذئ (رواه الترمذي)
Tidaklah termasuk muslim apabila bersikap penohok, pelaknat, sikap kejam dan pencaci (HR. Tirmidzi)

c. Mencintai sesama saudara muslim
لا يؤمن أ حدكم حتى يحب لأ خيه ما يحب لنفسه (رواه البخارى ومسلم)
Tidaklah dikatakan seorang muslim, sehingga dia menyenangi apa yang disenangi oleh saudaranya, sebagaimana dia menyenangi apa yang disenanginya (HR. Bukari Muslim). Baca lebih lanjut


Pemahaman Adat Minangkabau Terhadap Nilai-Nilai ABSSBK.

Nilai-nilai Adat Basandi Syarak di kelompokkan menjadi enam kelompok yaitu:
(1) Nilai ketuhanan Yang Maha Esa,
(2) Nilai kemanusiaan,
(3) Nilai persatuan dan kesatuan,
(4) Nilai demokrasi dan musyawarah,
(5) Nilai budi pekerti dan raso pareso,
(6) Nilai sosial kemasyarakatan.
Baca lebih lanjut


Adat Basandi Syarak

Sebelum Islam masuk ke Minangkabau, orang Minang memanfaatkan alam sebagai sumber ajarannya. Mereka menggali nilai-nilai yang diberikan alam. Ini diungkapkan dalam filsafat orang Minangkabau alam takambang jadi guru.

Ketika agama Islam masuk, adat di Minangkabau secara hakikinya tidak bertentangan dengan ajaran syarak dalam agama Islam, karena alam yang telah dijadikan pedoman hidup masyarakat Minangkabau adalah ciptaan Allah semata. Itulah sebabnya ketika Islam masuk langsung diterima oleh orang Minangkabau. Maka, kalaupun dalam sejarah, timbulnya Perang Paderi tidak semata karena disebabkan pertentangan kaum adat dan kaum agama (Islam), akan tetapi karena pemurnian ajaran syarak di dalam pelaksanaan adat semata, sebagai akibat dari amar makruf nahi munkar. Akan tetapi pemerintahan kolonial Belanda, memakai peristiwa ini sebagai alat politik adu domba.
Baca lebih lanjut


FILOSOFI HIDUP DI MINANGKABAU BERSUMBER DARI ALAM

Alam takambang jadi guru dan diberi ruh oleh Islam. Konsep ABS-SBK adalah kristalisasi ajaran hukum alam yang bersumber dari Islam. Yang diperlukan sekarang adalah pemantapan dan pengamalan. Maka, prinsip-prinsip ABS-SBK harus masuk ke dalam seluruh kehidupan secara komprehensif.
Dengan perpaduan yang baik, kebudayaan Minangkabau akan berlaku universal. Langkah sekarang adalah, menjabarkan ajaran ABS-SBK, secara sistematis dan terprogram ke dalam berbagai sistem kehidupan. Dimulai dalam pelaksanaan pemerintahan di tingkat Nagari, seperti, kebersamaan, gotong royong, sahino samalu, kekerabatan, dan penghormatan sesama, atau barek sapikue ringan sajinijing, yang menjadi kekuatan di dalam incorporated social responsibility.
Baca lebih lanjut