Seorang peneliti dari Illinois, Urbana-Champaign, Amerika Serikat, Jennifer Fraser, B.A. (Hons) MA menilai, musik tradisional Minangkabau `talempong` di kampung-kampung tidak statis tetapi makin berkembang.

“Yang ingin mempertahankan status tardisionalnya justru kalangan akademis, eksekutif, budayawan dengan maksud untuk melanjutkan fantasi idealis sejarah Minangkabau,” kata Jennifer calon PhD University of Illinois, Urbana-Champaign, AS itu, di Padang, Selasa.

Berbicara dalam seminar internasional “Budaya Minangkabau dalam Era Multikultur dan Globalisasi” dengan rencana tesisnya berjudul “Tranformasi Talempong: Politik Kebudayaan dan Estetika,” ia mengatakan, talempong kampung tidak hanya eksis dalam gambaran sejarah, tetapi tetap eksis pada masa kini.

Talempong yang ditelitinya khusus talempong unggan dan talempong kampung. Talempong adalah alat musik tradisional Minangkabau ada yang terbuat dari kuningan dan ada pula dari kayu dan batu.

Talempong ini berbentuk bundar pada bagian bawahnya berlobang sedangkan pada bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol berdiameter lima sentimeter sebagai tempat tangga nada (berbeda-beda). Musik talempong akan berbunyi jika dipukul oleh sepasang kayu.

Menurut dia, musik talempong kampung cenderung ditransformasikan oleh masyarakat sendiri dan kadang-kadang turut dipengaruhi pemerintah, bahkan melalui kaset-kaset lokal.

Sebaliknya kelahiran talempong kreasi, kata Jennifer, sama sekali tidak terkait dengan wacana globalisasi namun wacana modernisasi dan reformasi kebudayaan yang menuntut bentuk baru dengan unsur yang bias dibedakan sebagai yang tradisional dan yang modern.

“Walau prosesnya bisa sama tetapi hasilnya lain dan penting dikaji dimensi perubahan yang terjadi pada tingkat lokal. Ironisnya, walaupun sangat mondern pada awalnya, namun demikian talempong kreasi tampil sangat kuat dan bergabung dengan baik dengan politik kebudayaan yang hegemonis sehingga sering dikenal dengan seni tradisional,” katanya.

Lebih jauh ia mengatakan, semenjak tahun 60-an, beberapa gaya talempong masih eksis hingga sekarang, baik talempong kampung dan talempong kreasi penampilannya masih ada tetapi untuk sebagian masyarakat masih berbeda.

Budaya, kata Jennifer adalah karena sebagai proses dari produk, maka perubahan selalu datang sementara manusia dan tradisinya selalu direposisikan menurut pengaruh baru. Namun menghentikan kenyataan ini sama artinya meniadakan budaya termasuk musik-musik yang dinamis.

“Lalu menyangkut revitalisasi jelas memberi kesan bahwa tradisi tersebut harus hidup dan baru dengan jiwa ke-Minangan yang hilang dalam prosesnya,” katanya.

Ia menambahkan, dengan pengakuan Indonesia adalah negara multikultur yang makin bertambah, seharus juga diakui perbedaan dalam suatu masyarakat. [EL, Ant]

http://www.gatra.com, Padang, 24 November 2004 11:28