Adat nan Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Monthly Archives: Agustus 2005

SEJUMLAH piring beradu. “Prang!” Penonton menjerit. Pecahannya berhamburan ke segala arah. Di atas serakan benda-benda tajam itu, penari mengentak-entakkan kaki di dalam gerak yang lentur.

Risiko fisik membuat tari baru ini mencekam, setara dengan debus Banten, tarian shaman di atas bara api, atau menusuk keris ke tubuh sendiri dalam tari Calon Arang Bali. Orang menganggap para pelakunya
beraksi dalam keadaan trance.

Di berbagai komunitas, menari dalam keadaan kesurupan seperti itu masih bisa dijumpai, termasuk di kawasan budaya Minangkabau, tempat perhelatan seni kontemporer “Pentas Seni III/2002″ yang berlangsung tanggal 26-31 Oktober. Hajatan seni ini diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Sumatera Barat di Kampus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang.

Tunggu dulu, kontemporer kok kesurupan? Ya, mengapa tidak? Suasana magis itu menjadi bagian dari sebuah struktur seni pertunjukan yang sering disebut sebagai ”spektakel”, daya tarik atau daya sihir
tontonan. Pada seni tradisi, ”spektakel” itu boleh dikata adalah bagian utama atau bahkan tujuan tontonan itu sendiri, sedangkan pada seni baru itu hanya salah satu bagian atau cara untuk memuluskan sebuah pesan.

Apakah para seniman kesurupan masa kini terluka oleh pecahan piring yang mereka injak selagi menari? Tampaknya tidak. Para seniman masa kini mampu menciptakan kiat untuk terlihat seolah mengalaminya,
seperti terkesan dari Tarian Luka yang tampil di Kampus STSI Padang Panjang, Sumatera Barat, Senin (28/10).

Dibawakan dua pria berkostum putih, suasana magis ini disiapkan dengan menyelubungkan kain pada caping, masing-masing berwarna putih dan merah, sehingga menutup wajah mereka. Kelebatan gerak mereka membuat adukan warna merah putih yang bergulung-gulung. Apalagi ketika mereka memainkan kain itu di tangan masing-masing setelah membuang capingnya. ”Spektakel” telah bertransformasi menjadi ungkapan artistik.

Mengawali karyanya, Filhamzah, dari kelompok Indojati Padang, merancang sebuah parodi atas kecenderungan tari masa kini, yang ia padu dengan gerak dari vokabuler Minang. Bentuk atau fisik tradisi pun bisa kontemporer, begitu kira-kira pesannya, seperti tema “Pentas Seni III/2002″ produksi Dewan Kesenian Sumatera Barat ini.

Dari Batusangkar muncul jawaban khas, yakni menunggangi angin kontemporer sambil menyisipkan bentuk dan gaya tradisi. Itulah yang dilakukan oleh Lesmandiri lewat koreografinya, Kaba: Si Upik.

Memasukkan gerak sehari-hari ke dalam tari, membuat para penarinya berdialog selayaknya aktor teater dan menggunakan berbagai alat bantu yang jauh dari tradisi setempat, banyak dilakukan orang selama lebih dari dua dekade ini di Indonesia. Hal itu seiring dengan melandanya arus seni baru seperti ”teater tari” Jerman, yang menggunakan realitas sehari-hari sebagai kendaraan untuk mengungkap gagasan-
gagasan tari mereka.

Lesmandiri mampu menghindar dari kesan artifisial dalam menggunakan idiom-idiom baru tersebut. Ia memasangnya ke dalam konteks Minang dari mana ia maupun penonton berasal. Seorang penarinya, sambil setengah berbaring, menendang rekan yang telah membuatnya jengkel. Si rekan terpental berlari dan terdorong melompat ke arah dua pasang tangan rekan lain yang menampungnya.

Dengan kata lain, gerak-gerak yang ia buat telah ia siapkan alasan atau ”motif”-nya. Gerak menendang atau melompat -yang bukan dari tradisi Minang atau tradisi mana pun di Indonesia- tiba-tiba ”boleh menjadi Minang”.

Pilihan ceritanya menguntungkan, yakni menggambarkan suasana anak-anak perempuan bermain, belajar, atau bekerja. Pada sisi lain, ia mampu menyiapkan keenam penarinya untuk bermain secara rileks.

Meski demikian, pertanyaan segera muncul seputar apakah pendekatan seperti ini cukup untuk menyampaikan gagasan yang lebih mendalam. Tampaknya ia butuh perenungan dan pematangan lebih lanjut.

Semangat tinggi untuk menggunakan bahan-bahan tradisi juga membara pada diri tiga pembuat musik. Talempong, angklung, suling, dan paduan vokal 10 siswa SLTP menyuarakan Ratok Anak Sakola. Benni Syafri tampak menyiapkannya khusus untuk tingkat keterampilan mereka.

Garapan Rahayu Effendi dalam Pertemuan penuh perpindahan gaya dan irama. Ia menggunakan tiga perangkat talempong, suling, beragam alat musik pukul, bahkan keyboard dan bas elektrik serta drum, ibarat pertemuan dua dunia, antara karawitan dengan rock dan funky.

Favorit penonton malam itu pastilah Kenangan Masa Kecil yang kocak. Komposernya, Joni Muda, tampil sebagai dirigen dengan topeng Zorro, yang menari dan setiap kali menoleh ke arah penonton. Aspek gerak dan visual ini mendukung benar garap musiknya yang bersahaja dengan berbagai gaya dan irama, termasuk dangdut, dalam suasana ceria. (efix)

KOMPAS Jumat, 1 November 2002

Iklan