PARA perempuan yang mengawali, mereka pula yang meneruskan. Sebuah pementasan tari dan musik karya perempuan seniman, Sabtu (26/10), berlangsung di Padang Panjang, Sumatera Barat. Pementasan itu bertempat di gedung bernama Huriah Adam, perempuan yang berjasa dalam membuka wilayah-wilayah baru ungkapan seni, terutama di ranah budaya Minang. Tampil empat tarian dan satu komposisi, sebagian masih kental rasa maupun wujud tradisinya dan sebagian mengisikan rasa seasal ke
dalam wadah dan bentuk baru.

Huriah Adam adalah seorang seniman tari yang sekitar 30 tahun lalu mengguncang jagat tradisi dengan pernyataan-pernyataan estetik yang pada saat itu terkesan kontroversial. Para penggiat seni maupun
masyarakatnya di awal abad baru ini tidak mudah membayangkan betapa sulit ia bergerak karena setiap perubahan bisa ditafsir sebagai ancaman terhadap bangunan tradisi yang kokoh.

Pergerakan perempuan perkasa dari Minang ini sejalan dengan langkah pembaruan oleh sejumlah seniman seni pertunjukan di Pulau Jawa. Sebutlah itu seperti Bagong Kussudiardjo atau Sardono W Kusumo, yang juga menghadapi perlawanan di mana-mana. Dari khazanah Minang muncul pula Gusmiati Suid, yang memilih mengembangkan diri di luar wilayah asalnya, dan tampil sebagai tokoh tari terkemuka.

Huriah Adam dan Gusmiati Suid sudah tiada. Apa yang mereka tanam telah menyemangati pencarian dan pengembangan seni, yang sebagian di antaranya muncul pada malam pementasan ini.

Pencapaian yang mencolok di dalam konteks perjalanan tradisi di kawasan ini muncul dari Angga Djamar. Ia penata tari muda usia yang terlatih di dalam kelompok seni Nan Jombang di Padang pimpinan Ery Mefri. Karyanya, The Hope Becomes a Dream, yang mendapat sambutan hangat ketika dipentaskan di Jakarta, ia bawakan bersama seorang penari pria (Rio Mefri). Panggung kosong, dan ruang bermain dibangun lewat selingkar siraman cahaya. Serba ringkas dan efisien, termasuk musik yang dibuat hanya lewat sebuah seruling (oleh Alvaroni).

Tubuh kedua penari meliuk, berdekatan, membentuk posisi seperti janin di kandungan, menggeliat, melata, seorang mengangkat yang lain, dan melorot dari tubuh lawan. Semua di dalam gerak lambat. Muncul masalah dua pribadi, dua dunia, yang mengimpit dan merenggang. Suatu saat mereka melenting, tegak dengan kedua tangan teracung ke atas, dan luruh kembali ke lantai, ke “titik nol”, ke alam nyata, yakni gravitasi, tidak bisa dilawan, tetapi bisa dimanfaatkan.

Rasa gerak Minang yang mengalir dari tubuh mereka begitu nyata, lembut, namun menyimpan kekuatan, terkadang mereka lepaskan juga di dalam posisi-posisi tubuh merunduk dan sikap lengan kembangan silat.

Tenang, waspada, dan ekspresif.

Secara wadak Minang mungkin terasa jauh dalam karya Djamar, apalagi dibandingkan dengan karya Sofyani Yusaf yang kental Minangnya.
Sofyani menggarap tarinya berdasarkan pola irama gendang “Adok” -karyanya berjudul Tari Tingkah Adok. Para penarinya dalam kostum dan gerak yang membuat orang segera mengenalinya sebagai “Minang”, masing-masing memainkan sebuah alat tabuh. Paduan bunyi penari dengan bunyi dari pemusik berupa rebana, adok, dan tabuh logam talempong, bahkan gitar bas elektrik, menjadi keselarasan baru yang tergambar dari pola gerak penari berkelompok ini.

Pementasan bersama ini menjadi penting justru karena memberi kesempatan penonton untuk menikmati keragaman di dalam olah tradisi. Di antara dua kutub di muka, ada Ninon Sovia dan Farida Z, yang juga menampilkan derajat kelengketan pada tradisi yang berbeda.

Penantian, garapan Ninon Sovia, terasa prosaik. Ia menggunakan lambang ibu lewat tokoh perempuan, yang gelisah menanti putranya merantau. Apa yang tampak di arena adalah pergolakan batinnya. Ada lima penari, masing-masing terlindung di balik kain batik, semula menjadi latar, kemudian jadi personifikasi masalah. Begitu juga dengan payung-payung merah di tangan penari pria. Riuh rendah, dengan pola gerak dan musik yang dekat dengan rasa Minang, dan si ibu tetap tercenung.

Rasa Minang juga cukup kental dalam karya Farida Z, Rantai Manikam, yang mencolok di dalam gerak kelompok empat penari perempuan yang berkostum putih. Ia merangkai sejumlah bulatan mirip mata rantai raksasa yang menjulur ke bawah dari atap di kiri belakang panggung. Itu salah satu titik kunci karyanya, tempat penarinya bergayut, lari ke tengah arena, dan kembali lagi berayun di sana.

Bagaimana dengan musik? Diana Fatmawati dengan ciptaannya Perempuan menampilkan sebuah Minang yang samar-samar muncul lewat kecapi dan suling dengan karakternya yang khas, adonan vokal tiga perempuan, dipadu dengan kendang dan perkusi lain. Diana terpikat oleh potensi talempong unggan-alat musik tradisi Minang-dan penonton terbuai oleh tamasya suara yang berlapis-lapis: ia potret dari ulang alik seorang pejalan kebudayaan.

Pergelaran karya lima perempuan seniman Minang ini membuka sebuah hajatan budaya “Pentas Seni III/2002”, yang berlangsung sampai 31 Oktober 2002. Penyelenggaranya Dewan Kesenian Sumatera Barat bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padangpanjang, mengharap bisa menumbukkan Minang yang lebih terbuka dan percaya diri. Sekilas malam pertama pertunjukannya telah menjawab harapan tersebut. (nal/efix)

Yurnaldi
http://www.kompas.com, KOMPAS Senin, 28 Oktober 2002

Iklan