I. Pendahuluan

PADA UMUMNYA orang Minangkabau berpendapat bahwa bahasa Minangkabau (BMK) banyak persamaannya dengan bahasa Indonesia (BI) terutama dari kosa katanya. Namun, ada kata yang hampir sama bentuknya, maknanya berbeda. Adakalanya kata BI berasal dari BMK. Bagi orang kurang menguasai bahasa Minangkabau, kata-kata tersebut masih sukar dipahami, seperti kata ‘tebat’ dan’pepat’, yang berarti ‘tambak ikan’ dan ‘rata’. Kata tersebut berasal dari BMK tabekdan papek. Kedua kata ini diserap dalam BI dengan cara bunyinya disesuaikan denganbunyi BI.

BMK sepintas hanya sedikit bedanya dengan BI, yaitu perbedaan ucapannya saja sehingga kalau orang Minangkabau menggunakan BMK ia telah merasa menggunakan BI, atau sekurang-kurangnya ia merasa lawan bicaranya yang bukan berbahasa ibu BMK itu mengerti kata-kata tersebut.Rusli (1967) dalam bukunya Pelajaran Bahasa Minangkabau menjelaskan bahwa pada pokoknya perbedaan BMK dengan BI ialah perbedaan lafal, di samping beberapa kata yang berbeda. Dalam hal inilah kunci pelajaran BMK bagi orang yang sudah paham bahasa Melayu (BM). Dalam buku tersebut tercatat 29 perbedaan lafal antara BM dan BMK, di antaranya, yaitu ut-uik; rumput-rumpuik; at-ai aik; adat-adaik; al/ar-a; jual-jua, kabar-kaba; e-a; beban-baban; dan a-c;kuda-kudo; awalan ber-, ter-, dan per- menjadi ba-, ta-, dan pa-; berlari, termakan, perdalam menjadi balari, tamakan dan padalam.BMK dan BM mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat. Sehubungan dengan itu, van der Toorn (1891, vii) menjelaskan hubungan itu sebagai berikut:
1. Di dalam kedua bahasa itu terdapat kata yang sama artinya.
2. Ada kata-kata dalam BMK yang tidak digunakan dalam BMK.
3. Bila kata-kata (2) itu digunakan, kata itu tidak digunakan dalam dialekutama (dialek Agam).
4. Terdapat kata-kata yang sama di dalam kedua bahasa itu, tetapi padasalah satu di antaranya mengandung pengertian yang lebih luas.
5. Terdapat kata-kata yang sama, tetapi dengan arti yang berbeda.

Bila diperhatikan secara cermat, perbedaan antara BMK dan BM/BI itu ternyata cukup besar, Moussay (1998:331-333) menyimpulkan bahwa perbedaan antara BMK dan BM/BI baik dari segi fonem, satuan bermakna yang berupa katadasar, afiks, dan kata tugas, maupun sintaksis.

Menurut kajian leksikostatistik yang disajikan oleh Tamsin Medan (1981)terdapat 56% satuan leksikal yang berbeda antara BMK dan BM. Mengenai afiks,terbukti bahwa jumlahnya dua kali lebih besar daripada BI. Moussay (1998:32)berhasil mengumpulkan 79 afiks BMK, sedangkan dalam BI hanya 40 afiks.Selanjutnya dikemukakan oleh Moussay bahwa urutan yang lazim dalam BI adalahsubyek-predikat, sedangkan dalam BMK lebih memilih konstruksi yang berpusat pada predikat.

Perbedaan-perbedaan itu perlu diperhatikan dalam penerjemahan BMK kedalam BM/BI.Di samping itu, perlu diperhatikan secara cermat apa yangdikemukakan oleh van der Toorn di atas, khusunya butir (4) dan (5) tersebut.Sehubungan dengan beberapa prinsip utama penerjemahan, Sadtono (1985:11) mengingatkan perlunya menetapkan beberapa prioritas penting, di antaranya sebagaiberikut.
1. Persamaan segi arti hendaklah lebih diutamakan daripada kesamaan segi kata demi kata.
2. Kesamaan segi arti hendaklah lebih diutamakan daripada kesamaan segi bentuk karangannya.
3. Bentuk yang diterima dan digunakan oleh pembaca yang dimaksudkan hendaklah lebih diutamakan daripada bentuk yang lebih berdarjat.

Karya sastra lama Minangkabau sudah cukup banyak diterjemahkan ke dalamBI. Ada dua macam terjemahan yang sudah dilakukan, yaitu pertama, terjemahanbebas, seperti terjemahan kaba Cindua Mato oleh Penghulu (1980) dan terjemahankaba Bujang Jauah oleh Selasih (1989), dan kedua, terjemahan biasa, seperti terjemahan Kaba Mamak si Hetong oleh Djamaris (1990) dan terjemahan kaba Sigadih Ranti oleh Semi (1991)

Terjemahan bebas itu dilakukan oleh Panghulu dan Selasih, agaknyadisebabkan oleh sukarnya penerjemah mencarikan padanan arti kata demi kata dariBMK ke BI. Terjemahan bebas ini tidak akan dibicarakan lebih lanjut padakesempatan ini. Terjemahan yang akan dibicarakan lebih lanjut adalah terjemahanbiasa, sesuai dengan hakikat terjemahan, yaitu terjemahan yang isinya benar-benar mendekati aslinya. Dengan kata lain, makna dan gaya terjemahan haruslah sama(Sadtono, 1985:9). Pembahasan terjemahan ini terutama didasarkan atas terjemahankaba yang dilakukan oleh Semi (1991) dan Djamaris (1990).

II. Beberapa Masalah Penerjemahan Karya Sastra Lama Minangkabau

Dalam terjemahan sastra lama Minangkabau perlu diperhatikan beberapa masalahkekhususan bahasa lama Minangkabau agar terjemahan dapat dipahami lebih baik.Berikut ini dikemukakan beberapa masalah yang perlu diperhatikan dalam terjemahan kaba itu.

1.Kata Tumpuan Kalimat
Kata tumpuan kalimat adalah kata yang digunakan untuk memulai suatu kalimat. Katatumpuan kalimat ini maknanya boleh dikatakan tidak ada. Kata ini hanya berfungsi sebagai penanda kalimat baru. Ada kalanya kata tumpuan kalimat digunakan sebagai penanda alinea baru. Oleh karena itu, dalam penerjemahan, kata tumpuan kalimat ini sedapat-dapatnya dialihkan dengan kata tumpuan kalimat pula.

Kata tumpuan kalimat dalam BMK di antaranya, yaitu birawari, kononlah, lorong, sanan, kan iyo, dan lalu. Kata tumpuan kalimat dalam BMK, antara lain, yaitualkisah, arkian, adapun, maka, syahdan, dan hatta. Dalam penerjemahan karya sastralama Minangkabau dari BMK ke BI sebaiknya kata tumpuan kalimat diterjemahkan dengan kata tumpuan kalimat dalam BMK itu. Sebagai contoh dikutipkan bebera pakata tumpuan kalimat dalam kaba Cindua Mato.
1. Barawari rajo parampuan –
2. Kononlah Sutan Rumanduang –
3. Lorong Basa Ampek Balai –
4. Lalu manitah Bundo Kanduang –

Sesuai dengan apa yang dikemukakan di atas, terjemahan kutipan di atassebagai berikut.
(1a) Alkisah Raja Perempuan –
(2a) Adapun Sutan Rumanduang –
(3a) Hatta Basa Ampek Balai –
(4a) Maka manitah Bundo Kanduang –

Dalam kaba Si Gadih Ranti jo Bujang Saman juga dittemukan kata tumpuankalimat itu. Hanya saja Semi (1991) kurang memperhatikan terjemahan kata tumpuankalimat iu sebagaimana dikemukakan di atas. Berikut ini dikutipkan contohterjemahan Semi terhadap kata tumpuan kalimat itu.
5. Barawari Angku Kapalo-‘Begitulah Angku Kapalo –‘
6. Kan iyo Angku Kapal – o’Begitulah Angku Kapalo –‘
7. Sanan bakato Angku Kapalo -‘Di situ berkata Angku Kapalo –‘
8. Lorong kapado uang balasting -‘Berkenaan dengan uang belasting –

‘Sesuai dengan pedoman yang dikemukakan, terjemahan kutipan (5) – (8) itusebaiknya sebagai berikut.

(5a) Alkisah Engku Kepala Desa –
(6a) Hatta Bapak Kepala Desa –
(7a) Maka berkata Bapak Kepala Desa –
(8a) Adapun tentang uang pajak –

Angku Kapalo dalam masyarakat Minangkabau adalah kata sapaan untukkepala desa. Oleh sebab itu, Angku Kapalo sebaiknya diterjemahkan dengan EngkuKepala Desa atau Bapak Kepala Desa.

2.Ungkapan dan Peribahasa
Dalam naskah sastra lama Minangkabau banyak dijumpai ungkapan dan peribahasa. Ungkapan dan peribahasa ini sebaiknya tidak hanya diterjemahkan kata demi kata, tetapi juga dijelaskan maksud/makna kiasannya itu. Hal ini sering diabaikan oleh penerjemah. Sebagai contoh, berikut ini dikutipkan ungkapan dalam kaba Si GadihRanti ju Bujang Saman dan terjemahannya oleh Semi (1991)

1. mambagi gadang ka awak (membagi berat ke diri)
2. papek di lua runcing di dalam (pepat di luar runcing di dalam)
3. makan kakinya maruntun manau (makan kakinya meruntun manau)
4. muluik manih kucindan murah (mulut manis kecindan murah)
5. tidak ado maantikan angan (tidak ada menghentikan tangan)
6. budi baik tahu di untuang (budi baik tahu di untung)
7. batamu ruweh jo buku (bertemu ruas dengan buku)
8. dek untuang elok palangkahan (karena untung dan baik pelangkahan)

Terjemahan kata demi kata yang dilakukan oleh Semi tersebut rasanya jugakurang tepat pilihan katanya, masih perlu dicarikan padanan yang lebih sesuaimaknanya, kecuali ungkapan (7).
Terjemahan yang lebih sesuai sebagai berikut.
(1a) membagi lebih besar untuk diri sendiri
(2a) rata di luar runcing di dalam
(3a) makan kakinya menyentak rotan besar
(4a) mulut manis suka bergurau
(5a) tidak pernah menghentikan tangan
(6a) budi baik tahu diri
(8a) karena mujur baik pelangkahan

Di samping terjemahan harfiah itu, sebaiknya dijelaskan makna kiasan ungkapan itu pada catatan supaya orang dapat memahami maknanya dengan sebaiknya. Makna ungkapan tersebut sebagai berikut:
(1b) tidak adil, serakah;
(2b) tidak jujur
(3b) tendangannya keras sekali
(4b) ramah tamah, peramah
(5b) rajin bekerja
(6b) budi baik tahu diri, tidak sombong
(7b) cocok karena memang sudah jodohnya
(8b) karena mujur mendapat saat yang baik untuk memulai pekerjaan.

3.Kata-Kata Arkais
Dalam naskah sastra Minangkabau sudah barang tentu dijumpai banyak kata lama, kata-kata yang tidak lazim lagi dipakai saat ini. Kata-kata tersebut tentu sukar dipahami. Penerjemah yang kurang mengusai kata-kata lama itu mengambil begitusaja kata-kata tersebut dengan atau tanpa perubahan ejaannya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya usaha penerjemah mencarikan padanan kata itu denan kata yang lebihsesuai dan lazim digunakan. Kata-kata arkais itu antara lain terdapat dalam kaba SiGadih Ranti jo Bujang Saman sebagai berikut.
Talangkai, kucindan, jumbang, baturab, junjungan, dan lareh-lareh

Kata-kata BMK ini dialihkan oleh Semi (1991) ke BI dengan hanya penyesuaian ejaannya. Perhatikan kutipan teks kaba itu dan terjemahannya.
1. Nan tacelak tanpak jauah = Yang tercelak tampak jauh
2. ungkai tando jo urang itu = ungkai janji dengan orang itu
3. sudah dalam talangkai urang = sudah dalam telangkai orang
4. muluik manih kucindan murah =mulut manis kacindan murah
5. dadonya umbang pinggangnyo = dadanya jombang pinggangnya ramping
6. baturab baaia ameh = baturab berair emas
7. dicari junjungan si Ranti = dicarikan junjungan untuk si Ranti
8. angkuah sarupo lareh-lare = hangkuh bagikan lareh-lareh

Terjemahan kutipan di atas agaknya masih sukar dipahami oleh orang yang kurang biasa membaca karya sastra lama, khususnya karya sastra lama Minangkabau. Sebaiknya kata-kata arkais itu dicarikan padanannya dengan kata yang lazim digunakan sekarang supaya terjemahannya mudah dipahami. Terjemahannya menjadi sebagai berikut.
(1a) yang terkilau tampak jauh
(2a) batalkan janji dengan orang itu
(3a) sudah dipinang orang
(4a) mulut manis suka bergurau
(5a) dadanya mekar pinggangnya ramping
(6a) berhiaskan air emas
(7a) dicarikan jodohnya Si Ranti
(8a) sombong seperti camat

Bila kata-kata arkais itu tetap digunakan dalam terjemahan BI, karena kata tersebut dianggap sudah diserap dalam BI dan sudah terdapat dalam Kamus BesarBahasa Indonesia (KBBI) kata tersebut perlu dicantumkan dalam glosari atau diberi catatan yang menjelaskan makna kata tersebut. Terjemahan yang baik perlu dilengkapi dengan glosari, catatan, atau komentar yang menjelaskan makna kata yangdianggap belum lazim digunakan dan menjelaskan makna kiasan yang terdapat dalam ungkapan dan peribahasa.

4.Kelaziman Pemakaian Kata
Masalah penerjemahan BMK ke dalam BI yang lain yang perlu diperhatikan adalah penerjemahan yang lebih mengutamakan pengalihan kata demi kata yang sama tanpa memperhatikan kelaziman pemakaiannya dalam bahasa masing-masing.

Sebagaimanadikemukakan ole van der Toorn (1891:vii) yang telah dikutip di atas pada butir (4) bahwa di dalam kedua bahasa itu terdapat kata yang sama, tetapi pada salah satu diantaranya mengandung pengertian yang lebih luas. Dengan kata lain, di dalam kedua bahasa itu terdapat kata yang sama, tetapi pemakaiannya berbeda.

Misalnya,
kata tibo, datang, dan sampai

Ketiga kata ini bersinonim dan penggunaannya berbeda dalam BMK dengan penggunaan dalam BI. Kata tibo dalam BMK lazim digunakan dalamkalimat berikut.
1. Bilo Uni tibo?
2. Sambah ditibokan ka Sutan.

Kata tibo dalam kalimat (1) dan (2) sebaiknya tidak diterjemahkan dalam BI dengan kata tiba. Dalam kalimat (1) kata tibo sebaiknya diterjemahkan dengan kata datang sedang kata ditibokan dalam kalimat (2) sebaiknya diterjemahkan disampaikan bukan ditibakan karena kata ditibakan tidak lazim digunakan dalambahasa Indonesia.

Terjemahan yang sesuai dari kalimat di atas sebagai berikut.
(1a) Kapan Uni datang?
(2a) Sembah disampaikan kepada Sutan.

Dalam karya sastra lama banyak kita jumpai kata seperti itu. Sebagai contoh,dalam kaba Mamak si Hetong terdapat bagian kalimat berikut.
3. dek untuang jo paruntungan
4. tibo di lantai, lantai patah
5. maha rajo ka jodohnyo

Kata untuang, paruntuangan, tibo, dan maha dalam konteks bagian kalimat tersebut tidak dialihkan dengan kata yang sama dengan penyesuaian ejeaannya saja menjadi untung, peruntungan , tiba, dan mahal karena kata-kata tersebut kurang lazimdipakai dalam konteks kalimat BI. Kata yang lazim dipakai dalam kalimat itu adalahnasib, takdir, sampai, dan sukar.

Terjemahan yang cocok untuk bagian kalimat itu sebagai berikut.
(3a) karena nasib dan takdir
(4a) sampai di lantai, lantai patah
(5a) sukar raja untuk jodohnya

Masalah ini kurang diperhatikan oleh Semi (1991) dalam terjemahan kaba SiGadih Ranti jo Bujang Saman. Berikut ini dikutip bagian kalimat kaba itu danterjemahannya.
6. rami padagang suruik lalu = ramai pedagang yang berlalu
7. dalam nagari Koto Panjang = dalam negeri Koto panjang
8. bana tidak buliah disabuik = kebenaran tidak boleh disebut
9. urang gaek taruang asam = orang tua terung asam
10. pangaduan baiokan di Tuan Luak = pengaduan diiyakan Tuan Luak
11. tiok taun inyo babini = setiap tahun ia beristri
12. tidak ado nan badatiak = tidak ada yang berkutik
13. hambo bajalan pagi nangko = saya berjalan pagi ini.

Terjemahan teks tersebut di atas terlalu terikat pada terjemahan kata demi katatanpa mempertimbangkan ketepatan makna dan kelaziman pemakaian kata dalam BI,khususnya kata-kata BI yang diberi huruf miring. Terjemahan yang lebih sesuai agaknya sebagai berikut.
(6a) ramai pedagang mondar mandir
(7a) dalam kampung Koto Panjang
(8a) kebenaran tidak boleh dikemukakan
(9a) orang tua tua keladi
(10a) aduannya dibenarkan oleh Tuan Luak
(11a) setiap tahun ia kawin
(12a) tidak ada yang berani bersuara
(13a) saya berangkat hari ini.

III. Penutup

Demikianlah beberapa masalah yang perlu diperhatikan dalam penerjemahan karyasastra lama Minangkabau. Masalah yang dikemukakan ini agaknya juga berlakudalam penerjemahan karya sastra lama daerah lainnya.Secara sepintas penerjemahan karya sastra lama Minangkabau dianggap orangmudah karena BMK banyak persamaannya dengan BM/BI. Ternyata, justru karenabanyaknya persamaannya itu orang lupa memperhatikan kekhususan bahasa masing-masing.Sebagaimana dikemukakan oleh Sadtono (1985:2-3) tiap bahasa mempunyai keistimewaannya sendiri. Setiap bahasa kaya dengan perbendaharaan kata dalamkebudayaan sendiri dan ciri khas rakyatnya. Ada bahasa yang kaya dengan bahasakiasan, dan ada bahasa yang kaya dengan sumber tulisan dan lisan.

DAFTAR PUSTAKA
• Djamaris, Edwar. 1981. “Bahasa Melayu Minangkabau. Majalah Pembina BahasaIndonesia. Jilid 2, No. 3, September. Jakarta: Himpunan Pembina BahasaIndonesia.Moussay, Gerard. 1998.
• Tata Bahasa Minangkabau. Terjemahan Rahaya S.Hidayat. Jakarta: Ecole Francaise d’Extreme Orient, Yayasan Gebu Minang,University of Leiden, Kepustakaan Populer Gramedia.Moeliono, Anton. M. 1988.
• Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.Penghulu, M. Rasjid Manggis Dt. Radjo. 1980.
• Cindua Mato Suntingan Teksdan Terjemahan. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia danDaerah, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikandan Kebudayaan. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1991.
• Kamus Besar Bahasa Indonesia.Edisi II. Jakarta: Balai Pustaka.Rusli, M. 1967.
• Peladjaran Bahasa Minangkabau. Jakarta: Bharata.Rusmali, Marah. et al. 1985.
• Kamus Minangkabau-Indonesia. Jakarta: PusatPembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sadtono, E. 1985.
• Pedoman Penerjemahan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Selasih. 1989.
• Bujang Jauh. Suntingan Teks dan Terjemahan. Jakarta: ProyekPenerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Pusat Pembinaan danPengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Semi, M. Atar. 1991.
• Si Gadih Ranti jo Bujang Saman. Transkripsi danTerjemahan. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah,Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan danKebudayaan.Van der Toorn, J.L. 1891.
• Minangkabausch-Maleisch Nederlansche Woordenboek.’s- Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Written by Edwar Djamaris, Senin, 28 Pebruari 2005
Ini adalah file versi html http://dbp.gov.my/mab2000/Penerbitan/Rampak/beb20.pdf.