Adat nan Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Monthly Archives: Februari 2005

I. Pendahuluan

PADA UMUMNYA orang Minangkabau berpendapat bahwa bahasa Minangkabau (BMK) banyak persamaannya dengan bahasa Indonesia (BI) terutama dari kosa katanya. Namun, ada kata yang hampir sama bentuknya, maknanya berbeda. Adakalanya kata BI berasal dari BMK. Bagi orang kurang menguasai bahasa Minangkabau, kata-kata tersebut masih sukar dipahami, seperti kata ‘tebat’ dan’pepat’, yang berarti ‘tambak ikan’ dan ‘rata’. Kata tersebut berasal dari BMK tabekdan papek. Kedua kata ini diserap dalam BI dengan cara bunyinya disesuaikan denganbunyi BI.

BMK sepintas hanya sedikit bedanya dengan BI, yaitu perbedaan ucapannya saja sehingga kalau orang Minangkabau menggunakan BMK ia telah merasa menggunakan BI, atau sekurang-kurangnya ia merasa lawan bicaranya yang bukan berbahasa ibu BMK itu mengerti kata-kata tersebut.Rusli (1967) dalam bukunya Pelajaran Bahasa Minangkabau menjelaskan bahwa pada pokoknya perbedaan BMK dengan BI ialah perbedaan lafal, di samping beberapa kata yang berbeda. Dalam hal inilah kunci pelajaran BMK bagi orang yang sudah paham bahasa Melayu (BM). Dalam buku tersebut tercatat 29 perbedaan lafal antara BM dan BMK, di antaranya, yaitu ut-uik; rumput-rumpuik; at-ai aik; adat-adaik; al/ar-a; jual-jua, kabar-kaba; e-a; beban-baban; dan a-c;kuda-kudo; awalan ber-, ter-, dan per- menjadi ba-, ta-, dan pa-; berlari, termakan, perdalam menjadi balari, tamakan dan padalam.BMK dan BM mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat. Sehubungan dengan itu, van der Toorn (1891, vii) menjelaskan hubungan itu sebagai berikut:
1. Di dalam kedua bahasa itu terdapat kata yang sama artinya.
2. Ada kata-kata dalam BMK yang tidak digunakan dalam BMK.
3. Bila kata-kata (2) itu digunakan, kata itu tidak digunakan dalam dialekutama (dialek Agam).
4. Terdapat kata-kata yang sama di dalam kedua bahasa itu, tetapi padasalah satu di antaranya mengandung pengertian yang lebih luas.
5. Terdapat kata-kata yang sama, tetapi dengan arti yang berbeda.

Bila diperhatikan secara cermat, perbedaan antara BMK dan BM/BI itu ternyata cukup besar, Moussay (1998:331-333) menyimpulkan bahwa perbedaan antara BMK dan BM/BI baik dari segi fonem, satuan bermakna yang berupa katadasar, afiks, dan kata tugas, maupun sintaksis.

Menurut kajian leksikostatistik yang disajikan oleh Tamsin Medan (1981)terdapat 56% satuan leksikal yang berbeda antara BMK dan BM. Mengenai afiks,terbukti bahwa jumlahnya dua kali lebih besar daripada BI. Moussay (1998:32)berhasil mengumpulkan 79 afiks BMK, sedangkan dalam BI hanya 40 afiks.Selanjutnya dikemukakan oleh Moussay bahwa urutan yang lazim dalam BI adalahsubyek-predikat, sedangkan dalam BMK lebih memilih konstruksi yang berpusat pada predikat.

Perbedaan-perbedaan itu perlu diperhatikan dalam penerjemahan BMK kedalam BM/BI.Di samping itu, perlu diperhatikan secara cermat apa yangdikemukakan oleh van der Toorn di atas, khusunya butir (4) dan (5) tersebut.Sehubungan dengan beberapa prinsip utama penerjemahan, Sadtono (1985:11) mengingatkan perlunya menetapkan beberapa prioritas penting, di antaranya sebagaiberikut.
1. Persamaan segi arti hendaklah lebih diutamakan daripada kesamaan segi kata demi kata.
2. Kesamaan segi arti hendaklah lebih diutamakan daripada kesamaan segi bentuk karangannya.
3. Bentuk yang diterima dan digunakan oleh pembaca yang dimaksudkan hendaklah lebih diutamakan daripada bentuk yang lebih berdarjat.

Karya sastra lama Minangkabau sudah cukup banyak diterjemahkan ke dalamBI. Ada dua macam terjemahan yang sudah dilakukan, yaitu pertama, terjemahanbebas, seperti terjemahan kaba Cindua Mato oleh Penghulu (1980) dan terjemahankaba Bujang Jauah oleh Selasih (1989), dan kedua, terjemahan biasa, seperti terjemahan Kaba Mamak si Hetong oleh Djamaris (1990) dan terjemahan kaba Sigadih Ranti oleh Semi (1991)

Terjemahan bebas itu dilakukan oleh Panghulu dan Selasih, agaknyadisebabkan oleh sukarnya penerjemah mencarikan padanan arti kata demi kata dariBMK ke BI. Terjemahan bebas ini tidak akan dibicarakan lebih lanjut padakesempatan ini. Terjemahan yang akan dibicarakan lebih lanjut adalah terjemahanbiasa, sesuai dengan hakikat terjemahan, yaitu terjemahan yang isinya benar-benar mendekati aslinya. Dengan kata lain, makna dan gaya terjemahan haruslah sama(Sadtono, 1985:9). Pembahasan terjemahan ini terutama didasarkan atas terjemahankaba yang dilakukan oleh Semi (1991) dan Djamaris (1990).

II. Beberapa Masalah Penerjemahan Karya Sastra Lama Minangkabau

Dalam terjemahan sastra lama Minangkabau perlu diperhatikan beberapa masalahkekhususan bahasa lama Minangkabau agar terjemahan dapat dipahami lebih baik.Berikut ini dikemukakan beberapa masalah yang perlu diperhatikan dalam terjemahan kaba itu.

1.Kata Tumpuan Kalimat
Kata tumpuan kalimat adalah kata yang digunakan untuk memulai suatu kalimat. Katatumpuan kalimat ini maknanya boleh dikatakan tidak ada. Kata ini hanya berfungsi sebagai penanda kalimat baru. Ada kalanya kata tumpuan kalimat digunakan sebagai penanda alinea baru. Oleh karena itu, dalam penerjemahan, kata tumpuan kalimat ini sedapat-dapatnya dialihkan dengan kata tumpuan kalimat pula.

Kata tumpuan kalimat dalam BMK di antaranya, yaitu birawari, kononlah, lorong, sanan, kan iyo, dan lalu. Kata tumpuan kalimat dalam BMK, antara lain, yaitualkisah, arkian, adapun, maka, syahdan, dan hatta. Dalam penerjemahan karya sastralama Minangkabau dari BMK ke BI sebaiknya kata tumpuan kalimat diterjemahkan dengan kata tumpuan kalimat dalam BMK itu. Sebagai contoh dikutipkan bebera pakata tumpuan kalimat dalam kaba Cindua Mato.
1. Barawari rajo parampuan –
2. Kononlah Sutan Rumanduang –
3. Lorong Basa Ampek Balai –
4. Lalu manitah Bundo Kanduang –

Sesuai dengan apa yang dikemukakan di atas, terjemahan kutipan di atassebagai berikut.
(1a) Alkisah Raja Perempuan –
(2a) Adapun Sutan Rumanduang –
(3a) Hatta Basa Ampek Balai –
(4a) Maka manitah Bundo Kanduang –

Dalam kaba Si Gadih Ranti jo Bujang Saman juga dittemukan kata tumpuankalimat itu. Hanya saja Semi (1991) kurang memperhatikan terjemahan kata tumpuankalimat iu sebagaimana dikemukakan di atas. Berikut ini dikutipkan contohterjemahan Semi terhadap kata tumpuan kalimat itu.
5. Barawari Angku Kapalo-‘Begitulah Angku Kapalo –‘
6. Kan iyo Angku Kapal – o’Begitulah Angku Kapalo –‘
7. Sanan bakato Angku Kapalo -‘Di situ berkata Angku Kapalo –‘
8. Lorong kapado uang balasting -‘Berkenaan dengan uang belasting –

‘Sesuai dengan pedoman yang dikemukakan, terjemahan kutipan (5) – (8) itusebaiknya sebagai berikut.

(5a) Alkisah Engku Kepala Desa –
(6a) Hatta Bapak Kepala Desa –
(7a) Maka berkata Bapak Kepala Desa –
(8a) Adapun tentang uang pajak –

Angku Kapalo dalam masyarakat Minangkabau adalah kata sapaan untukkepala desa. Oleh sebab itu, Angku Kapalo sebaiknya diterjemahkan dengan EngkuKepala Desa atau Bapak Kepala Desa.

2.Ungkapan dan Peribahasa
Dalam naskah sastra lama Minangkabau banyak dijumpai ungkapan dan peribahasa. Ungkapan dan peribahasa ini sebaiknya tidak hanya diterjemahkan kata demi kata, tetapi juga dijelaskan maksud/makna kiasannya itu. Hal ini sering diabaikan oleh penerjemah. Sebagai contoh, berikut ini dikutipkan ungkapan dalam kaba Si GadihRanti ju Bujang Saman dan terjemahannya oleh Semi (1991)

1. mambagi gadang ka awak (membagi berat ke diri)
2. papek di lua runcing di dalam (pepat di luar runcing di dalam)
3. makan kakinya maruntun manau (makan kakinya meruntun manau)
4. muluik manih kucindan murah (mulut manis kecindan murah)
5. tidak ado maantikan angan (tidak ada menghentikan tangan)
6. budi baik tahu di untuang (budi baik tahu di untung)
7. batamu ruweh jo buku (bertemu ruas dengan buku)
8. dek untuang elok palangkahan (karena untung dan baik pelangkahan)

Terjemahan kata demi kata yang dilakukan oleh Semi tersebut rasanya jugakurang tepat pilihan katanya, masih perlu dicarikan padanan yang lebih sesuaimaknanya, kecuali ungkapan (7).
Terjemahan yang lebih sesuai sebagai berikut.
(1a) membagi lebih besar untuk diri sendiri
(2a) rata di luar runcing di dalam
(3a) makan kakinya menyentak rotan besar
(4a) mulut manis suka bergurau
(5a) tidak pernah menghentikan tangan
(6a) budi baik tahu diri
(8a) karena mujur baik pelangkahan

Di samping terjemahan harfiah itu, sebaiknya dijelaskan makna kiasan ungkapan itu pada catatan supaya orang dapat memahami maknanya dengan sebaiknya. Makna ungkapan tersebut sebagai berikut:
(1b) tidak adil, serakah;
(2b) tidak jujur
(3b) tendangannya keras sekali
(4b) ramah tamah, peramah
(5b) rajin bekerja
(6b) budi baik tahu diri, tidak sombong
(7b) cocok karena memang sudah jodohnya
(8b) karena mujur mendapat saat yang baik untuk memulai pekerjaan.

3.Kata-Kata Arkais
Dalam naskah sastra Minangkabau sudah barang tentu dijumpai banyak kata lama, kata-kata yang tidak lazim lagi dipakai saat ini. Kata-kata tersebut tentu sukar dipahami. Penerjemah yang kurang mengusai kata-kata lama itu mengambil begitusaja kata-kata tersebut dengan atau tanpa perubahan ejaannya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya usaha penerjemah mencarikan padanan kata itu denan kata yang lebihsesuai dan lazim digunakan. Kata-kata arkais itu antara lain terdapat dalam kaba SiGadih Ranti jo Bujang Saman sebagai berikut.
Talangkai, kucindan, jumbang, baturab, junjungan, dan lareh-lareh

Kata-kata BMK ini dialihkan oleh Semi (1991) ke BI dengan hanya penyesuaian ejaannya. Perhatikan kutipan teks kaba itu dan terjemahannya.
1. Nan tacelak tanpak jauah = Yang tercelak tampak jauh
2. ungkai tando jo urang itu = ungkai janji dengan orang itu
3. sudah dalam talangkai urang = sudah dalam telangkai orang
4. muluik manih kucindan murah =mulut manis kacindan murah
5. dadonya umbang pinggangnyo = dadanya jombang pinggangnya ramping
6. baturab baaia ameh = baturab berair emas
7. dicari junjungan si Ranti = dicarikan junjungan untuk si Ranti
8. angkuah sarupo lareh-lare = hangkuh bagikan lareh-lareh

Terjemahan kutipan di atas agaknya masih sukar dipahami oleh orang yang kurang biasa membaca karya sastra lama, khususnya karya sastra lama Minangkabau. Sebaiknya kata-kata arkais itu dicarikan padanannya dengan kata yang lazim digunakan sekarang supaya terjemahannya mudah dipahami. Terjemahannya menjadi sebagai berikut.
(1a) yang terkilau tampak jauh
(2a) batalkan janji dengan orang itu
(3a) sudah dipinang orang
(4a) mulut manis suka bergurau
(5a) dadanya mekar pinggangnya ramping
(6a) berhiaskan air emas
(7a) dicarikan jodohnya Si Ranti
(8a) sombong seperti camat

Bila kata-kata arkais itu tetap digunakan dalam terjemahan BI, karena kata tersebut dianggap sudah diserap dalam BI dan sudah terdapat dalam Kamus BesarBahasa Indonesia (KBBI) kata tersebut perlu dicantumkan dalam glosari atau diberi catatan yang menjelaskan makna kata tersebut. Terjemahan yang baik perlu dilengkapi dengan glosari, catatan, atau komentar yang menjelaskan makna kata yangdianggap belum lazim digunakan dan menjelaskan makna kiasan yang terdapat dalam ungkapan dan peribahasa.

4.Kelaziman Pemakaian Kata
Masalah penerjemahan BMK ke dalam BI yang lain yang perlu diperhatikan adalah penerjemahan yang lebih mengutamakan pengalihan kata demi kata yang sama tanpa memperhatikan kelaziman pemakaiannya dalam bahasa masing-masing.

Sebagaimanadikemukakan ole van der Toorn (1891:vii) yang telah dikutip di atas pada butir (4) bahwa di dalam kedua bahasa itu terdapat kata yang sama, tetapi pada salah satu diantaranya mengandung pengertian yang lebih luas. Dengan kata lain, di dalam kedua bahasa itu terdapat kata yang sama, tetapi pemakaiannya berbeda.

Misalnya,
kata tibo, datang, dan sampai

Ketiga kata ini bersinonim dan penggunaannya berbeda dalam BMK dengan penggunaan dalam BI. Kata tibo dalam BMK lazim digunakan dalamkalimat berikut.
1. Bilo Uni tibo?
2. Sambah ditibokan ka Sutan.

Kata tibo dalam kalimat (1) dan (2) sebaiknya tidak diterjemahkan dalam BI dengan kata tiba. Dalam kalimat (1) kata tibo sebaiknya diterjemahkan dengan kata datang sedang kata ditibokan dalam kalimat (2) sebaiknya diterjemahkan disampaikan bukan ditibakan karena kata ditibakan tidak lazim digunakan dalambahasa Indonesia.

Terjemahan yang sesuai dari kalimat di atas sebagai berikut.
(1a) Kapan Uni datang?
(2a) Sembah disampaikan kepada Sutan.

Dalam karya sastra lama banyak kita jumpai kata seperti itu. Sebagai contoh,dalam kaba Mamak si Hetong terdapat bagian kalimat berikut.
3. dek untuang jo paruntungan
4. tibo di lantai, lantai patah
5. maha rajo ka jodohnyo

Kata untuang, paruntuangan, tibo, dan maha dalam konteks bagian kalimat tersebut tidak dialihkan dengan kata yang sama dengan penyesuaian ejeaannya saja menjadi untung, peruntungan , tiba, dan mahal karena kata-kata tersebut kurang lazimdipakai dalam konteks kalimat BI. Kata yang lazim dipakai dalam kalimat itu adalahnasib, takdir, sampai, dan sukar.

Terjemahan yang cocok untuk bagian kalimat itu sebagai berikut.
(3a) karena nasib dan takdir
(4a) sampai di lantai, lantai patah
(5a) sukar raja untuk jodohnya

Masalah ini kurang diperhatikan oleh Semi (1991) dalam terjemahan kaba SiGadih Ranti jo Bujang Saman. Berikut ini dikutip bagian kalimat kaba itu danterjemahannya.
6. rami padagang suruik lalu = ramai pedagang yang berlalu
7. dalam nagari Koto Panjang = dalam negeri Koto panjang
8. bana tidak buliah disabuik = kebenaran tidak boleh disebut
9. urang gaek taruang asam = orang tua terung asam
10. pangaduan baiokan di Tuan Luak = pengaduan diiyakan Tuan Luak
11. tiok taun inyo babini = setiap tahun ia beristri
12. tidak ado nan badatiak = tidak ada yang berkutik
13. hambo bajalan pagi nangko = saya berjalan pagi ini.

Terjemahan teks tersebut di atas terlalu terikat pada terjemahan kata demi katatanpa mempertimbangkan ketepatan makna dan kelaziman pemakaian kata dalam BI,khususnya kata-kata BI yang diberi huruf miring. Terjemahan yang lebih sesuai agaknya sebagai berikut.
(6a) ramai pedagang mondar mandir
(7a) dalam kampung Koto Panjang
(8a) kebenaran tidak boleh dikemukakan
(9a) orang tua tua keladi
(10a) aduannya dibenarkan oleh Tuan Luak
(11a) setiap tahun ia kawin
(12a) tidak ada yang berani bersuara
(13a) saya berangkat hari ini.

III. Penutup

Demikianlah beberapa masalah yang perlu diperhatikan dalam penerjemahan karyasastra lama Minangkabau. Masalah yang dikemukakan ini agaknya juga berlakudalam penerjemahan karya sastra lama daerah lainnya.Secara sepintas penerjemahan karya sastra lama Minangkabau dianggap orangmudah karena BMK banyak persamaannya dengan BM/BI. Ternyata, justru karenabanyaknya persamaannya itu orang lupa memperhatikan kekhususan bahasa masing-masing.Sebagaimana dikemukakan oleh Sadtono (1985:2-3) tiap bahasa mempunyai keistimewaannya sendiri. Setiap bahasa kaya dengan perbendaharaan kata dalamkebudayaan sendiri dan ciri khas rakyatnya. Ada bahasa yang kaya dengan bahasakiasan, dan ada bahasa yang kaya dengan sumber tulisan dan lisan.

DAFTAR PUSTAKA
• Djamaris, Edwar. 1981. “Bahasa Melayu Minangkabau. Majalah Pembina BahasaIndonesia. Jilid 2, No. 3, September. Jakarta: Himpunan Pembina BahasaIndonesia.Moussay, Gerard. 1998.
• Tata Bahasa Minangkabau. Terjemahan Rahaya S.Hidayat. Jakarta: Ecole Francaise d’Extreme Orient, Yayasan Gebu Minang,University of Leiden, Kepustakaan Populer Gramedia.Moeliono, Anton. M. 1988.
• Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.Penghulu, M. Rasjid Manggis Dt. Radjo. 1980.
• Cindua Mato Suntingan Teksdan Terjemahan. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia danDaerah, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikandan Kebudayaan. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1991.
• Kamus Besar Bahasa Indonesia.Edisi II. Jakarta: Balai Pustaka.Rusli, M. 1967.
• Peladjaran Bahasa Minangkabau. Jakarta: Bharata.Rusmali, Marah. et al. 1985.
• Kamus Minangkabau-Indonesia. Jakarta: PusatPembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sadtono, E. 1985.
• Pedoman Penerjemahan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Selasih. 1989.
• Bujang Jauh. Suntingan Teks dan Terjemahan. Jakarta: ProyekPenerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Pusat Pembinaan danPengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Semi, M. Atar. 1991.
• Si Gadih Ranti jo Bujang Saman. Transkripsi danTerjemahan. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah,Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan danKebudayaan.Van der Toorn, J.L. 1891.
• Minangkabausch-Maleisch Nederlansche Woordenboek.’s- Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Written by Edwar Djamaris, Senin, 28 Pebruari 2005
Ini adalah file versi html http://dbp.gov.my/mab2000/Penerbitan/Rampak/beb20.pdf.

Iklan

Masuaknyo Aditiawarman Ka Minangkabau

Lah sampai sampan panyonsong, kapincalang nan lah tibo, ditangah lauik pantai Minang, mambari alamat nak barundiang, didalam pelang nan datang tu. Mamandang tandi jo isyarat, tibo parentah atasannyo, pincalang supayo dilabuahkan. Dalam kutiko itu juo, dek anak pelang nan balayia, diambak untuak surang-surang, dikakok karajo masiang-masiang, sauah jatuah pelang baranti, alah balabuah dilautan.

Dek nangkodoh urang dipelang, pelang baranti izinnyo bari, urang disampan disilahkan, naiak kapelang nan balabuah. Izin dapek utusan naiak, datangnyo jo sopan santun, sarato taratik mujilihnyo, caro adat jo limbago, manyampaikan kato buah rundiang, dari rang gadang dinagari, kato sambutan untuak halek, sabagai tamu jolong tibo, itu nan rundiang disampaikan. Nan jadi sari buah rundiang, ujuik tujuan buah andai, iyolah mukasuik handak balayia, manuju katanah Jawa, manjalang daerah Singosari, handak manyapaikan buah rundiang, dari Parpatiah nan Sabatang, sarato Datuak Katumangguangan, kapado angkatan Seriwijaya, tujuan rundiang kanan baiak. Tapi dek mujua pado kami, tibo angkatan kamariko, sangajo kami nak kamanuruik, kinilah datang sandirinyo, jatuah tak rago bakaik, tibo tak rago dijapuik, alangkah mujua pado kami, syukur katuhan diucapkan, puji kapado Allah juo. Kini nan pintak dari kami, sabab alah tibo disiko, pelang balabuah lah katapi, kakualo banda teleng, taluak labuhan tanah Minang, didarek rundiang dilansuangkan. Mandanga rundiang nan bak kian, heran tapikia kasamonyo, pamimpin angkatan nan mandating, sulik batinggang dalam hati, lalu mupakat maso itu, ditangguahkan manjawab rundiang, kapado utusan Minangkabau. Dek manuruik adat jo limbago, didalam alam Minangkabau, barimbo kajanji, nan balauik kapikia, sapakat pulo manantikan, iyo baitu nan bapakai, nak nyato rantak sadagam, sahayun lenggang salembai.

Dalam barundiang bamupakat, lah pasai batuka pikia, payah mandapek kabulatan, sababnyo mangko damikian, asiang agak lain nan tibo, batuka tujuan jo nan tumbuah.

Tasabuik pimpinan dalam pelang, sulik mancari kaputusan, paham lah payah basatunyo, dipulangkan rundiang hanyo lai, kapado Aditiawarman, apo kaputusan ditarimo.

Sasudah Aditiawarman manarimo panyarahan, dari sagalo paminpin bawahannyo, mako dipikiakannyo baiak-baiak, ditimbang bana elok-elok, baiak mularat jo mampa’atnyo, tantangan nan kaadaan nan tumbuahko. Dek pandapek Aditiawarman, kalau tidak amuah barundiang, tidak manaruah sopan santun, budi baiak tidak dipakai, bukan sifat kamanusiaan, tampat bajalan tak batuo, balayia tidak banangkodoh, nyato balayia samo gadang, tidak urang takuik tantang itu. Kalau lai rundiang ditarimo, saukua paham dijadikan, sakato rundiang dinan elok, tidak jadi darah tatumpah, tapi tujuan lai tacapai,itu nan labiah elok bana, kasawah tak rago baluluak, mandapek tak rago bajariah, alangkah mujua ratak tangan. Pikia habih timbangan sudah, ujuik lah sudah kapahamnyo, lalu parentah diturunkan, kapado paminpin bawahannyo, sagalo kappa angkatantu disuruah balabuah kasamonyo, katapi ombak nan badabua, dipasisia alam Minangkabau, sacaro damai sopan santun.

annyo, sarato tantara nan banyaktu, parentah samo dituruik, nan titah samo dijunjuang, patuah kapucuak pimpinannyo. Tasabuik pelang urang nan datang, alah marapek kasamonyo, katapi pasisia Minangkabau, tibo katampat malabuahkan, sauah dibongka hanyo lai, pelang batambek maso itu. Salasai pelang balabuah, turunlah pimpinan rang baru datang, diiriangkan tantara jo barisannyo, dinanti utusan Minangkabau, dengan taratik mujilihnyo, manuruik adat jo limbago, sacaro haromat sopan santun, manuruik adat rajo-rajo. Namun dek mudo urang Minang, urang pandai baminyak aia, dipaelok paluik rabuak, diparancak bungkuih garam, bapakai gurindam Baruih, baagak bagiah bana.

Baitu pulo sabaliaknyo, lorong tantara urang nan datang, turun nan tidak bagai diagak, nan bak tujuan nan dahulu, mulo batulak dari Jawa, hanyo sinjato ditakuakan, padangnyo tatap dalam saruang, tandonyo tibo dengan elok, datang nan caro padamaian, mairiangkan pucuak pimpinan.
Lah sampai kasamonyo kadaratan, lah duduak dib alai-balai, tampat manyambuik halek tibo, bakeh mananti tamu datang, diunjuakan siriah dicarano, disambahkan rundiang baiak-baiak, mamintak supayo baistirahat, agak sahari duo hari, samantaro kami batenggang, manjapuik Datuak Parpatiah nan Sabatang, jo Datuak Katumangguangan, sabab baliau balun datang, dinan tumbuah caro iko.

Mungkin nan agak baliau, kamiko alah lah balayia, manuju kapulau Jawa, masuak daerah Singosari.
Mandanga parnyataan nan baitu, musyawaratlah Aditiawarman, jo nan patuik dibao baiyo, baru dijawab kato nantun, sakato samonyo manantikan, siang didarek malam dipelang, rundiang disitu talataknyo. Namun dek utusan tanah Minang, lalulah pulang maso itu, manghadap Parpatiah nan Sabatang, lalu dicurai dipapakan, bahaso tamu nan katibo, Aditiawarman nan lah datang, kini dipantai tapi lauik, dipasisia alam Minangkabau, pelang disitu balabuahnyo, cukuik jo alat paparangan. Sagalo titah lah kami jujuang, namun parentah dari Datuak, lah jalankan kasamonyo, caro haromat sopan santun, manuruik adat rajo-rajo. Namun dek urang nan mandatang, sarato pucuak pamimpinnyo, elok nan datang rancak pananti, lai dalam hubungan baiak, tacapai rukun jo damai, kami batangguah minta nanti, samantaro mambari tahu, sadang kapado tuan Datuak, kadalam Alam Minangkabau.

Kiniko bari kami titah, titah kadim kakami jujuang, atauko kok lai tuan Datuak, nan kanyonsong kapasisia, buliah kami mairiangkan, mandanga rundiang dari utusan, sudah maklum dalam hati, tidak mungkia nan ramalan, tapek khayalan tasuonyo, buah pikia batamu bana. Dek Datuak Parpatiah nan Sabatang, lalu dibao kato nantun, kapado Datuak Katumangguangan sarato Cati Bilangpandai, dicari paham nan saukua, ba’apo caro nan ka baiak, tujuan mukasuik nak nyo sampai, nak jan tahambek tabalintang, buliah tabujuah lalu sajo. Musyawaratlah baliau nan batigo, mancari bulek nak sagolek, supayo paham jan batupang, nak satu lahia jo batin, jan cacek maro malintang, ujuik tujuan nak tacapai, tuah sakato mangko kuek, situ bana biaso tibonyo. Sasudah supakat niniak nan batigo, alah digeleng bulek-bulek, alah ditapiak picak-picak, lah buliah kato nan sasuai, dapek kato kabulatan.

Supakat niniak nan batigo, tidak baliau kamanuruik, manjalang katapi pasia, pai manyambuik tamu nantun, cukuik utusan manyampaikan, biaso juo nan baitu. Dek Datuak Parpatiah nan Sabatang, disuruahlah utusan nantun, pai babaliak kapasisia, manyampaikan rundiang nan dahulu, maminang Aditiawarman, sungguah barundiang ditapi pantai, dek sangajo kamanjalang ka Singosari, lah bak ibarat disitu juo, rundiang disiko disampaikan. Salain dari pado itu, walaupun rundiang alah bajawab, ataupun gayuang balun basambuik, dipasilahkan sakali tamu singgah, kadalam Alam Minangkabau, masuak ka Luhak Tanah Data. Itu putusan nan didapek, dek niniak muyang nan batigo, utusan utang manjalankan. Salasai parentah ditarimo, utusan bajalan nyo sakali, manuju ombak nan badabua, manamui tamu nan mananti, manapati janji nan dahulu. Sasampainyo utusan dilabuhan, dilansuangkan rundiang nan dibao, titah dari Parpatiah nan Sabatang, jo Datuak Katumangguangan, kapado Panglimo nan lah tibo, nan banamo Aditiawarman. Mandanga rundiangan jo lamaran, tamanuang Aditiawarman, bamacam dalam pikiran, babagai dalam kiro-kiro, namonyo urang cadiak pandai, pamimpin urang nan tanamo, sagalo suatunyo tabayang, lai talinteh dipikiran, asa uasua mangko bak nangko, ujuik tujuan lai nyo tabayang.

Tapi ba’alah mangatokan, dipikia bana elok-elok, ditimbang dengan kabanaran, lah bak maeto kain saruang, tak amuah bakasudahan, bimbang babaliak situ juo. Ditarimo kato nan tibo, lamaran Parpatiah nan Sabatang, manjadi suami dek kakaknyo nan banamo Puti Jamilan, adiak Datuak Katumangguangan, raso taumbuak nyo dek raso, bagai tatipunyo dek budi. Ditulak rundiang nan mandatang, sarato lamaran nan lah tibo, jo apo jalan kamanulak, ba’apo pulo kacaronyo, untuak mamasuki Minangkabau, manakluakan Luhak nan Tigo, jo tuhuak parang dikalahkan, dek urang damai nyo lahiakan, balun hanyuik lah bapinteh, balun hilang lah bacari, hamat didalam kiro-kiro, salain dari pado itu, iyo juo kato rang tuo:

Dimaso mudo mangucambah
Kalaulah tuo manyalaro
Sungguah kasumbo alah merah
Tapi disago nan lah nyato

Nan mudo biaso bimbang
Manaruah mamang jo ragu
Kalau batimbo ameh datang
Lungga ganggaman nan dahulu

Dek pujuak sapinteh lalu
Budi salewai kok marangkuah
Bungo kambang jokok marayu
Caia iman takluak tubuah
Namonyo mudo jolong kanaiak
Biaso ragu pamandangan
Namun dek budi baso baiak
Dek racun dunia mabuaklah insan

Lorong dek diri Aditiawarman
Tatkalo maso itu
Tasuwo bana nan kian
Gayuang basambuik nyo satuju

Kato saukua samo panjang, paham sasuai lahia batin, nan kandak utusan lah balaku, pintaknyo alah lah babari, tampan kaaman tanah Minang, tak jadi cabua Nan Tigo Luhak.

Tasabuik utusan nan disuruah, dek lah sampai nan di mukasuik, babaliak pulang hanyo lai, sadang ka Luhak Tanah Data, manghadap Parpatiah nan Sabatang jo Datuak katumangguangan, mamulangkan hasia parundiangan, mangumbalikan titah nan dijujuang. Aluran Datuak Katumangguangan duo jo Parpatiah nan Sabatang, tigo jo Cati Bilangpandai, galak dihati kasukoan, hasianyo aka jo budi, tidak tanilai diharato, korong kampuang tapaliharo, dusun nagari kamujuran, tailak bahayo tuhuak parang, tak jadi darah tatumpah, Minang lah lapeh dari bahayo. Kununlah Parpatiah nan Sabatang, iyo dek uerang biopari, tiok bakato bakiasan, kalau barundiang basindiran, dibuek ibarat kato bida, nan kadikana isuak-isuak, nan kajawek anak cucu, untuak nyo pikia nyo pahamkan, paninjau mason an lalu. “Anggang nan tabang dari lauik, ditembak Datuak nan baduo, salatuih duo dagamnyo, tigo pangulak babaliak, mako jatuahlah talua angso nantun, ditangah alam Minangkabau” Baitulah buni patitihnyo, kato bida Parpatiah nan Sabatang, nyato balapa bama’ana, kato nan ado dalalatnyo, nak samo dirunuik nan pahamnyo, basamo kito mamikiakan.

Baru salasai kato nantun, dek panjang lah nyato kabauleh, leba iyo kabakumpuah, basiaplah Datuak Parpatiah nan Sabatang sarato jo Datuak Katumanguangan, manyadiokan mano nan kaparalu, halek jo jamu nan kadihadang, ragam dunia nan kadigamak, manuruik adat jo limbago, mangawinkan anak kamanakan.

Lah siap lah hasia cukuik, dijapuik Aditiawarman, kapasisia tapi lauik, katampat pelangnyo balabuah, katapi ombak nan badabua. Dituruik alua dipakai adat, dijapuik jo arak iriang, dijapuik jo gandang pararakan, sarato rabab jo kucapi, langkok jo saluang jo dewaan. Masuak kaalam Minangkabau, kadalam Luhak Tanah Data, naiak ustano rumah gadang, diduduakan dikasua bunta, dibuah alam kapurian, dilingkuang dayang jo panginang, tabantang tirai langik-langik, bapayuang panji barapik, cukuik alat kabasaran. Dalam alek marapulai, mangawinkan Puti Jamilan, jo Panglimo Aditiawarman, dek Datuak Parpatiah nan Sabatang, jo Datuak Katumangguangan, dunia nan tidak mangupalang.

Namonyo adiak sorang itu, sibongsu tidak kabaradiak, tidak nan ketek nan kagadang, dipakai nan sarunciang-runciang adat, caro adat balambang urek, nak tujuah rangkiang kosong, tujuah ikua kabau rabah. Tigo caro kabasaran, partamo “kenang bapakai” kaduo “latiah barunuik” katigo “kuadan nan mananti”. Tigo macam kabasaran didalam adat caro Minang, dihalek Puti Jamilan, sabuah tidak banan kurang, saketek tak buliah lilik sumbiang, iyo bana bak kato urang, kok halek mangirokan daun, jamu manangkuikan cawan, tasabuik nan tigi luhak,kanai panggilan kasamonyo, datang mambao buah tangan. Katandao alamat putiah hati. Salasai halek jo jamu, lah duduak Aditiawarman, dirumah Puti Jamilan, duduak sabagai urang sumando, sumando dek niniak mamak, rajo kali dirumah tanggo, junjuangan Puti Jamilan, tapi nan paham balun suni. Dek Datuak Parpatiah nan Sabatang, duo jo Datuak Katumangguangan, ditiliak diateh lahia, dipandang diateh rupo, tampak mambayang kanan lahia, kurang suninyo parasaan. Niat hinggok mancangkam malambang tanah, maninggakan lasuang jo marunggai, mambao adat jo limbago. Tapi sakarang iko kini, dek dimabuak tangguli angin, lah taminum racun dunia, jatuah hinggok kaateh dahan, kuku tak jadi mancangkam, jadi mambao panyasalan, tasingik kulaku jo buatan. Barulah nyato nan kian, dek Parpatiah nan Sabatang, sarato Katumangguangan, iyolah manuruik undang-undang Luhak, “Luhak Bapanghulu, rantau Barajo, Alam batampuak”. Mulai sajak dari itu, nan diri Aditiawarman, lah mamacik tampuak alam, mangganggam kato kabulatan, mamarentahkan kato undang-undang, nan tabik dari kato mupakat, kapado Luhak nan Tigo, sampai kataluak jo rantaunyo, salingkuang alam Minangkabau, itulah nan turun tamurun, mulo dari Aditiawarman sampai kaanak jo cucunyo, tapi kamanakan Katumangguangan, sarato Parpatiah nan Sabatang, warih dari mamak nan sajati, bangso diibu katurunan, pusako disitulah tatapnyo. Kaka adat Parpatiah nan Sabatang jo Datuak Katumangguangan, sampai sakarang iko kini, warihnyo juo nan dijawek, adatnyo juo nan dipakai, limbago nyo juo nan dituang.

Disitu limbago lah tajali
Kato putuih cupak tahampeh
Cupak panuah gantang balanjuang
Adat nan kewi lah badiri
Tacuriang barih jo balabeh
Pangkat dimamak nan dijujuang
Tibonyo garak o takadia
Tagak dek gintang aka budi
Dibasuah barabih aia
Dikikih barabih basi

Catatan:
Tambo dan silsilah adat Minangkabau ini ditulis ulang menurut aslinya dari buku karangan, B. Datuak Nagari Basa. Terbitan CV. Eleonora, Payakumbuh

Ditulis oleh Husni, husni@minangmedia.com, http://minangmedia.com


Pindahnyo Warih Dari Anak Kapado Kamanakan

Dek tumbuah tampek basiang, nan ado jadi patimbangan, alam barubah jadi guru, paham disitu mamanjeknyo, manjadi sabab budi marangkak, mandorongkan aka nak manjala. Kinilah tibo nan baitu, didiri Parpatiah nan Sabatang jo Datuak Katumangguangan, tigo Cati Bilang Pandai, sarato basa nan barampek. Lah pulang tamu nan datang, tinggalah Luhak nan Tigo, pementahan Lareh nan Duo, rakyat banyak bagadang hati, suko lah tibo dinan manang. Sabaliak dari pado itu, dipihak nan tampuak tangkai, nan junjuang Lareh nan Duo, sarato basa nan barampek, labiahlah Cati Bilang Pandai, harok hati cameh nan labiah, buliah bataduah kahujanan, dapek balinduang kapanasan, lah bak manyandang lukah tigo, mambayang sangketo nan kadatang.

Tampak didalam sanubari, paham mamanjek manyuluhi, dunia biaso babalasan, panggang biaso babliak. Kok datang pangulak dari hulu, datang galoro dari gunuang, kini patuik diinsyafi. Patuik ingek diawanyo, jan luluih mangko malantai, kini maso tampat batinggang, sadio payuang sabalun hujan. Mupakatlah urang gadang nan batigo, rapek di Balai nan Saruang, mancari tenggang jo bicaro, mambincangkan caro nan kabaiak, Minangkabau jan sampai cabua, lah himpun basa nan barampek, jo junjuang Lareh nan Duo, sarato rang tuo Bilang pandai, sidang bamulai maso itu, bakato Parpatiah nan Sabatang, sidang mujilih nan rapektu, dinan tumbuah iko kini, lawan pulang kito lah tingga, nan pai pulang jo kalahnyo. Tapi sungguahpun baitu, mungkin kito lai sapaham, kito nan tingga jo manangnyo, tapi mandapek kahilangan, gadang mularat lah mambayang, tak kamungkia pamikiran, kito dilendo dek nan gadang, kadihimpik dek nan tinggi, raso tak dapek diilakan. Kok tajadi nan caro itu, urang langga Alam Kapurian, hanyuiklah tuah disakato, caialah gantang nan balanjuang, lukih limbago nan kalipua, mungkin jo patuik nan kahilang, lanyaplah tuah disakato, habih budi nan curiga, tamat riwayat kato pilihan. Walau Minang lah tasusun, lah bauntuak satu-satu, kok tibo diadat ka Sungai Tarab, Datuak Bandaro tangguangannyo, tibo di Luhak di Sumaniak, Datuak Machudum nan tangkainyo, kok tibo dianak kunci, amban puruak Datuak Andomo, kok tibo nan caro iko, musuah sangketo nan kadiadang, kito mamulang ka Tuan Gadang, harimau campo Kato pilihan. Tapi samantang pun baitu, kalau basiang dinan tumbuah, manimbang kito dinan ado, dimusuah nan caro iko, kito tiliak kabadan diri, ditinjau lawan nan kadatang, ibarat kito kamanyabuang, padan jauah baimbanyo, lamah bana pihak dikito, awak ketek lawan rang gadang, mungkin tabalun sambia lalu, londong talendong dek kaduduak, patuiklah ingek dari kini, bakulimek sabalun habih, baragak sabalun sampai, apoko tinggang bicaro.

Manuruik Parpatiah nan Sabatang sarato atumangguangan, tigo Cati Bilangpandai, tidak dilawan jo nan kareh, jo damai datang kito nanti, itulah jadi kaputusan. Tapi sungguahpun baitu, manyatokan damai kaurang datang, ba’ako caro mangawokan, urang datang kok tak jo rundiang, tibo kok jo tikam bunuah, dahulu sinjato dari kecek, capek kaki dari rundiang, lah sulik bana mamikiakan. Kalau tajadi nan bak kian, rundiang tibo tantu manyarah, itu nan usah lai handaknyo. Nan diri parpatiah nan Sabatang jo Datuak katumangguangan, tigo jo Cati Bilangpandai, aka manjala taknyo putuih, budi nan salalu marangkak, nan tidak lupuik kutikonyo, dari pado timbang manimbang, cari mancari nan kabaiak, cinto mancinto kanan elok, disitu pitunjuak gaib tibo, hidayat situ datang, buliah buah aka budi, tapek manjadi pandirian, kudian hutang manjalani. Sahabih paham mamanjek, sapueh aka manjala, namun dek urang gadang nan batigo, biang tabuak gantiang lah putuih, sasudah dikaruak sahabih gauang, diawai sahabih raso, paham nan banyak tak salisiah, dapeklah kato kaputusan, panulak bahayo nan katibo. Kok tibo musuah dari lauik, datang jo alat sinjatonyo, nanti gandang pararakan, sonsong jo aguang jo talempong, sarato rabab jo kacapi, sambia basaluang jo dewaan.

Pantai pasisia tanah Minang, taluak labuhan dandang tibo, dijago dipaga bana, bukan dipaga jo duri, tidak jo basi duri kawek, dipaga jo aka budi, dilingkuang jo baso baiak, sopan jo santun pamaganyo, lunak lambuik duri rambutan, itu nan kokoh kapalawan, nan bak papatah jo bidaran:

Lunak lambuik duri rambutan
Tapi tajamnyo kok mancucuak
Dilahia kulik tak suriah
Tapi lukonyo badarah dalam
Luko jo apo kaditambak
Sakik dimano kadiubek
Padiah kajantuang tasisiknyo

Itulah sipat nan dipakai, siasek rang gadang nan batigo, palawan musuah nan mambayang, raso tak mungkia katibonyo, mangana sabab jo akibat, nan bak bida caro Minang:
Kok tidak lalu dandang diaia
Namun digurun ditajakan
Tak kalah dek buah pikia
Jo gadang musuah ditaklukan

Limbak nan dari pado itu, nan manjadi buah pikia, sangaik marumik kiro-kiro, dek kato supakat nan lah dapek, pahamlah satu katigonyo, kamunuruik kato bidaran, anjing manyalak dihambuakan tulang, ayam bakotat diserakan milukuik, itu nan akan dilakukan, pananti lanun kok malanggga, palawan nan gadang kok malendo. Kok tibo panglimo jo dubalangnyo, masuak ka alam Minangkabau, tampuak tangkainyo kadisakah, pucuak pimpinan kadiambiak, nan banamo Adytyawarman, kajadi jodoh Puti Jamilan. Kalau lah langsuang nan baitu, tampuak tangkai kok inyo pagang, nagari kok dipaciknyo, apo katinggang jo bicaro, karamlah adat nan lah kewi, lipualah lukih jo limbago, tasuo kato buah andai, Labuah diasak urang kaladang, cupak dililih urang panggaleh. Itu nan samo jadi pikia.

Dalam bapikia nan baitu, angan-angan mambao ragu, payah manimbang buruak baiak, lah bak mamakan buak simalakamo, kadimakan bapak mati, kok tak dimakan ibu mati, tibolah hamat (tasasak) bak ba catua, sulik batinggang dalam gaib. Tabayang dalam hati, lah tampak dalam pamikiran, buah pikia nan dahulu, nan tabik dari budi nan curiga, adat limbago nan disusun, nan lah ditompang salamoko, ibarat sampan jo parahu, panyalamatkan anak kamanakan, sarato rakyat tanah Minang, palayaran galombang maso, mungkin tabanam hanyo lai, karam nan tidak dapek timbua, dituka urang nan kuaso, jo susunan nan kandak hatinyo, dalam daerah Seriwijaya.

Kalau tajadi nan bak itu, nan pusako turun kaanak, sunduik basunduik sampai isuak, hilang lanyap Patiah Sabatang, tanggalam namo Katumangguangan, padam cahayo nan usali, gadang bakisa kaurang asiang, iyo bana kato mamangan, pangalaman urang tuo-tuo, Aia gadang pulau baraliah, lupuik taluak tanjuang tanggalam, situ tapian barasaknyo. Paham datuak Parpatiah nantun, pandangan hati tiliakan batin, dek raso tidak kamungkin, yakin bapegang dipandapek, lalu dibao musyawarat, kapado Datuak Katumangguangan, duo jo Cati Bilang Pandai. Lorong dek urang nan baduo, tasintak pulo pamikiran, ujuang pamikiran nan dahulu, gadang akibat kamudian, kiniko baru tapahamkan, Parpatiah juo nan curiga. Lah lamo tamanuang katigonyo, mancari tinggang jo kalaka, sampai batimbang buah pikia, alah batuka-tuka paham, balun lai dapek nan saukua, rundiang talatak dalam janji.

Lah sampai ukua jo jangkonyo, walak janji nan lah tibo, barapeklah baliau nan batigo, diateh Balai nan Saruang dalam nagari Pariangan, manantukan sikap kadipakai, mailakan bahayo nan kadatang, Didalam rapek nan batigo, duduak nan patuik basidang, nan tampuak tangkai dinagari, nan patuik didanga pandapeknyo, rundiang bakubak kulik sajo, raso basabuik taruih tarang, bakato tak mangguluang lidah. Lah babagai pamikiran, bamacam buah pandapek, balun ado nan sasuai, bulek nan alun dipadapek. Dalam batimbang buah pikia, sadang batimbang soal jawab, bakato Parpatiah nan Sabatang : Manolah tuan dengan bapak, sarato sidang nan rapekko, dek hambo lain an takana, tantang bicaro kito nangko, tantangan buah pikia kito, pandapek kito nan dahulu tasuo bak bida kito, dari sangkuik kakaitan, bapatinggi tampat jatuah, anak ula dipamenan, biso nan dapek dibunuah, panjang malilik nan marusuah, kabek tak dapek diilakan.

Samaso kito musyawarat, mambuek putusan nan baitu, dek bana tak sakali dapek, pikiran tak sakali tumbuah, balun sampai paham kasitu, kiniko baru samo takana. Pado pandapek hanbo surang, mangko bahayo mangko tailak, kabek ula mangko tak jadi, sabab lah sulik mailakan, gadang bahayo nan kamanimpo, jalan palilik kito putuih, tapi lah barek manguakan, pailakan ula jan malilik. Nan jadi jalan palilik, iyolah warih katurunan, katurunan pangkat jo harato, salamo pangkat jo harato, anak nan jadi warisannyo, tak dapek kito mailakan, kiniko warih kito puta, dialiah kapado kamanakan. Turun warih kakamanakan, manuruik paham Datuak Parpatiah Nan Sabatang, tidak manyumbiang maluaki, hanyo labiah kurang saketek, mungkin habih dek karelaan. Sabab dek mangko nyo baitu, nan rakyat alam Minangkabau dizaman samaso itu, samo basawah baladang, samo badugo jo batahun, samo batanam nan bapucuak, samo mamaliharo nan banyawa. Dek bumi lai sadang lapang, alam leba tanahnyo subur, kahidupan caro baru itu, urang tu hampia samo rato, samo cukuik panghidupan. Pindah warih maso itu tidak manyumbiang maluaki, dapek habih dek karelaan. Buah pikia nan baitu,dari Datuak Parpatiah nan Sabatang, sabab tak dapek pambantahi, sapakat rapek manarimo, baitu pulo Katumangguangan, duo jo Cati Bilang Pandai, putuih rundiangan tantang itu. Sawajah tantangan warih, kato saukua lah sasuai, sapakaik lahia jo batin, tingga mancari hubuangannyo. Dek Datuak Parpatiah nan Sabatang, dipikiakan pulo baiakbaiak jan sampai singguang manyingguang, buhua babuku dipantangkan, hubungan baiak nan dicari, nak bak rambuik jo cumaro, bak dulang jo tuduang aia, ibarat cincin jo atonyo, itu handaknyo nan tacapai. Sapueh-pueh dek bapikia, putih timbangan dalam hati, raso tak mungkin katabandiang, lalu dibukak dilahiakan, kamuko sidang nan basamo, rapek di Balai nan saruang. Nan jadi buah pandapatan, dek pikia Parpatiah nan Sabatang, iyolah adat batali cambua, itulah namo susunannyo. Nan dikatokan adat nan batali cambua, iyolah hubungan mamak dengan bapak, dalam susunan rumah tanggo, sarato dalam korong kampuang. Dek Datuak Parpatiah nan sabatang, didirikan duo kakuasaan, balaku diateh rumah tanggo, iyolah tungganai jo rajonyo, nan korong kampuang barajo mamak, rumah tanggo barajo kali, dirumah gadang batungganai.
Dicambua tali malakek
Diujuang hulu tagantuangnyo
Naknyo sabuhua samo harek
Tali dicambua pangikeknyo
Walau rumah barajo kali
Rumah gadang tu ado tungganai
Tuah sakato mangko jadi
Saukua mangko sasuai

Kali rajo dirumah tanggo
Mamak rajo dikorong kampuang
Kok barek pikua baduo
Kok hanyuik samo tarapuang

Itu nan adat batali cambua
Usulan Parpatiah nan sabatang
Mancinto paham nan saukua
Nak aman isi rumah gadang

Sapakat mamak jo bapo, balilih cupak diaia, batapiak gantang dirumah, cupak nan tidak buliah luak, gantang nan tidak buliah panuah. Baitu undang-undangnyo, baitu tata barihnyo, kato pusako nan dijawek, dari Parpatiah nan Sabatang, sarato Katumangguangan, sampai kini bapakai juo, iyo tak lipua dek hujan, batua tak lakang dek paneh. Adopun alam Minangkabau, sasudah mupakat niniak nan batigo, sarato urang patuikpatuik, nan cadiak pandai maso itu, duduak basidang bamupakat, dibimbiang dek Datuak Parpatiah nan Sabatang jo Datuak Katumangguangan, sarato Cati Bilangpandai, mako dibaolah kaBalairong Sari, balai panjang nan di Tabek, untuak disidangkan dinagari. Lah tibo dimuko umum, didalam rapek ampek jinih, sakato sajo manarimo, sabab dipikia nan basamo, tak dapek jalan kapambandiang, nan labiah baiak dari itu. Kato putuih mupakat sudah, rapek usai adat bajalan, barubahlah caro paraturan, dari susunan nan lah dahulu, dahulu warih kapado anak, kiniko pado kamanakan, taikek mamak jo bapo, dek adat batali cambua. Luhak nan Tigo lah barubah manjadi Alam Minangkabau, warih pusako pun baraliah, lah turun kapado kamanakan, sampai kini balun barubah, warihnyo samo lah dijawek. Namun dek Datuak Parpatiah nan Sabatang, lah siap sagalo uandang-undang, lah bajalan dinagari, jadi aturan dalam kampuang, sampai karuamah tanggo, patuah rakyat manuruti, dipakai dek anak kamanakan.

Maniliak caro nan bak kian, lah sanang dalam hati, tingga mananti nan katibo, manyonsong maso nan kadatang, kok iyo gadang datang malendo, nan tinggi kok tibo mahimpok. Lah basiap Parpatiah nan Sabatang, dilapeh pulo kaki tangan, biduak jo sampan pai kalauik, lahia mangayia kalautan, sampai mauni ujuang pulau, dihebati tingau jalo rambang, jariang jo pukek dipamenan.

Batinnyo maninjau jarah, mamandang tando jo alamat, maniliak garak jo garik, sudi siasek nan dilapeh, nak tahu dimusuah tibo, dek lamo lambek nan bak kian, tasuo kato bidaran, pituah urang tuo-tuo:
Kalau lai maliang bapairik
Jarah lai bapaninjau
Dek sungguah batenggang dalam raik
Angin bakisa kito tahu

Cewang dilangik alah mambayang, lah tahu kaki tangannyo, pisuruah Parpatiah nan Sabatang, musuah lah turun kalautan dari daerah Singosari, dibimbiang Aditiawarman handak manyarang Minangkabau, batulak dari tanah Jawa, kinilah hampia ujuang Lampuang, manjalang ombak Tanjuang Cino, lah talampau Karakatau. Lorong dek lahia rang pamukek, panjago lauik jo pasisia, ditapi ombak nan badabua, dipantai barat tanah Minang, barulah tahu nan bak itu, lalu dikaba disampaikan, kapado Parpatiah nan Sabatang. Dek cakap Parpatiah nan Sabatang, lah cukuik, hasia balako, ditapi ombak nan badabua, sacaro adat jo limbago, pananti tamu nan katibo, sungguah kok datang tak bapanggia, tibo tak rago dihimbau, panantinyo labiah bak diundang, cukuik jo alaik kahormatan, caro adat sopan santun. Tapi samantang pun baitu, dibaliak lahia manganduang batin, dusun nagari bapanjago, korong kampuang bapaga kawek, dijago dubalang jo ampang limo, cukuik jo alat sinjatonyo, sasuai jo soko korong kampuang, nan banamo tuhuak parang. Tibo dikampuang dipaga kampuang, tibo didusun dipaga dusun, tibo dinagari dipaga nagari.
Patah muluik tampat kalah
Patah sinjato bakeh mati
Sahabih saba dek baralah
Karih diputa kapananti

Tatkalo maso itu, kalau ditinjau katapian kapasisia tapi lauik, sabalah barat tanah Minang, tampak tonggo jo marawa, balai-balai panyambuik tamu, angkuah barupo pamedanan, bagaba-gaba tampat masuak, nan babungo bapudiang ameh, bakorong baliak batimba. Panuah dek alat kacukupan, caro kabasaran Minangkabau, manuruik adat jo limbago, nan dilingkuang alua jo patuik. Tasabuik anak mudo-mudo, acingacang dalam nagari, nan sutan-sutan dikampuang, nan arih nan bijaksano, nan bijakbijak barundiang, sarato cadiak tahu pandainyo, alah sadio kasamonyo, pananti lawan barundiang, panyambuik jo baso basi, nan pandai basopan santun, sanjato tajam nak nyo maja, hati nan kareh nak nyo lunak, damai nak lahia dalam itu, situ rundiangan dilakukan, maminang pucuak pimpinannyo, nan banamo Aditiawarman. Habih hari babilang pakan, dengan takadia garak Allah, tibolah pincalang dari Jawa, banyaknyo tidak diuraikan, dalam tambo tidak dibilang, manuju pasisia tanah Minang. Dek panjago tapi pantai, barulah nyato nan dinanti, iyo nan diagak nan lah datang, lalu sugiro maso itu, disonsong jo sampan tundo, bakayuah manyonsong kalautan, cukuik jo siriah dicarano, tando alamat datang usua, itu nan tidak katinggalan, dibari alamat tando elok. Sampan tundo batiang layia, tiang bapaluik jo kain kuniang, tonggo gadang dikamudi, tonggo ketek dihaluan, marawa pisang saparak, nan biopari didalamnyo, untuak manjadi juru bahaso. Sakali marangkuah dayuang,duo kali sampan malanca, layia takambang angin tibo, lajulah sampan kalautan, manuju pincalang datang jauah, tando manyonsong jo nan elok.

Maniliak kaadaan nan co itu, heran sungguah urang nan datang, sangat tapikia dalam hati, nan tidak disangko nan tajadi, apokoh garan tujuannyo, balun lai paham rang nan datang. Hanyo nan tampak akibatnyo, siasek Parpatiah Nan Sabatang, mariam nan datang dari Jawa, badia sitengga dalam pelang, mulo batulak dari pangkalannyo, baiak mariam ketek gadang, sudah bainang jo piluru, habih barisi kasamonyo, tingga sakiro manembakan, hanyo mananti sasarannyo. Dek mamandang sampan nan manyonsong, nan datang jo alat kabasaran, tibonyo nyato jo nan elok, datang nan caro sopan santun, usah mariam nan kamalatuih, jangankan badia katatembakan, tunam nan tidak tapanggang, sabuah tidak nan barapi, rintang mamandang sampan tibo, maliek rang Minang manyonsong, sacaro adat jo limbagonyo, habih tamanuang kasamonyo, heran samonyo dalam hati.

Catatan:
Tambo dan silsilah adat Minangkabau ini ditulis ulang menurut aslinya dari buku karangan, B. Datuak Nagari Basa. Terbitan CV. Eleonora, Payakumbuh

Ditulis oleh Husni, husni@minangmedia.com, http://minangmedia.com


Timbuanyo Namo Minangkabau

Didalam Lareh nan Duo, wilayahnyo Luhak nan Tigo, sampai kataluak karantaunyo, lah disamparonokan susunan jo aturan, dek Datuak Parapatiah nan Sabatang jo Datuak Katumanggungan, diuni jo limo syarat:
• Partamo diuni jo adat jo limbago
• Kaduo diuni jo ugamo
• Katigo diuni jo harato bando
• Kaampek diuni parentah mamarentah
• Kalimo diuni jo aka jo ulemu, sarato bicaro nan haluih.

Sabab karano damikian, lah nyato adat dek bapakai, nyato alua dek batiruik, lah tabatiak hiliah jo mudiak, musyahua kamano-mano, nagari barajo kamupakat, tidak nan barajo kadaulat. Dizaman nan samaso itu, didalam pulau ameh nangko, nan tinggi nan tampak hari, nan musyahua hilia mudiak, urang nan kuek nan kuaso, iyolah Seriwijaya dalam nagari rang Palembang. Tantangan Seriwijaya tatkalo maso itu, tuah tabendang kalangik, mulia taserak kabumi. Galah panjang tangguaknyo leba, lado padeh garamnyo masin, jalo laweh tombaknyo tajam, sayok dareh kapaknyo rimbun, sampai kaJawa ka Malako, tampat hinggok kuku mancangkam,tunduak batampuak di Palembang. Dek kaki tangan Seriwijaya, nan lah mancangkam di Pulau Jawa, tadanga kaba jo barito, bahaso dipulau Ameh nangko, ado nagari mulo manyusun, baru manuka undang-undang, dari barajo badaulat, manjadi barajo kamupakat, sangat tapikia dalam hati, ba’apokoh caro jo sajaknyo, inginlah hati nak tahu. Salain dari pado itu, nan tapikia dalam hati, hilang kuaso rajo-rajo, dek cadiak pandai urang disitu, mungkin ditiru dek nan lain, sampai kamari malawehnyo, akibatnyo lanyap rajo-rajo.

Dek karajaan Seriwijaya, diturunkan parentah maso itu, kapado mantari parantauan, nan sadang manariak untuak, mambao baban dari pulau Jawa. Dek mantari parantauan, dilapeh kaki jo tangan, nan kamaninjau dari dakek, kamaliek dari hampia, nak asah nak nyato bana, ba’apo corak jo ragamnyo. Balayialah pelang dari Jawa, manuju pasisia pulau Ameh, ditapi ombak nan badabua, manjalang pasisia pantai barat, mukasuik manuju Luhak nan Tigo. Datang balahia babatin, balinduang batin kanan lahia, basaok tujuan jo buatan. Lahianyo pelang baniago, nan nyato batulak rayiah, handak manjua jo mambali, batinnyo maninjau jarah, maninjau dalam jo dangkek, maniliak tajam majanyo, urang didalam tigo luhak.

Salain dari pado itu, dari badagang baniago, mambao sapasang anak angso, nan baumua babilang hari, jantan batinonyo balun tantu, untuak kajadi pataruhan, kok tak ado bajua bali, masuak kadalam tigo luhak, jo jalan dicari, sambia maninjau aka budi, maniliak bicaro haluih.

Dek lamo pelang balayia, manpuah riak jo galombang, malalui ombak Tanjuang Cino, disorong angin dilautan, tibolah pelang dipsisia, ditapi ombak nan badabua, bateh rantau Luhak nan Tigo, pelang balabuah maso itu, dipasisia barat pulau Ameh. Manjalang masuak palabuhan, dibari tando jo alamat, bahaso datang sacaro elok, tibo sacaro sopan santun, untuak badagang baniago.

Dek pucuak pimpinan dalan pelang, disampaikan niat jo tujuan, sangajo dagang datang kamari, kapado rang tuo palabuhan. Namun dek tuo palabuhan, dek tak dapek mamakan habih, balun buliah mambiang tabuak, dibao utusan rang nan datang, kadalam Luhak Tanah Data, manghadap Datuak Katumangguangan, sarato Parapatiah nan Sabatang. Namun dek urang gadang nan baduo, samo supakat mambari izin, pintak urang nan datang diisi, kandaknyo dipalakukan. Lah tbo ukua jo jangkonyo, janji ampai jangkonyo datang, himpunlah urang Tanah Data, banyak pulo datang dari Agam, ado pulo dari Limopuluah, panuah sasak dipamedanan, cukuik urang nan ampek jinih, nan datang lah siap pulo.

Dek Datuak Parapatiah nan Sabatang, sarat Datuak Katumangguangan,tigo jo Cati Bilangpandai, lah sudah pado jo padan, paham lah satu katigonyo, pandapek tidak kabatuka, lahia batin ujuik saukua. Sajak samulo hari pagi, anak angso nan sapasang, lah dipegang dipaliharo, ditangah medan nan rami, tapi tidak dibari makan, haram lilah diagiah minum, hauih jo lapa naknyo tangguang.

Lah lerek hari hampia patang, taruah lah tantu timba baliak, lah ado hinggo batehnyo, tibo diameh lah batahia, tibo diurai lah bakati, lah sasuai timba baliak, tingga bamain hanyo lai. Saat manantukan alah nyo tibo, lah katangah Parapatiah nan Sabatang, mambao makanan jo minuman, untuak sapasang anak angso. Guci ditangan nyo ganggam, lubang ketek gucunyo gadang, barisi aia jo makanan. Kalau angso sakali makan, tak luluih kapalo kaduonyo, kadalam lubang guci nantun, baganti makonyo mungkin. Dek Datuak Parapatiah nan Sabatang, dibari makan sikua-sikua, tapi tidak dikanyangkan, sakiro tahu kaduonyo, diguci barisi jo makanan. Sudah babuek caro itu, dilapehkan angso kaduonyo, dilatakan guci agak jarak, angso mangaja kaduonyo, satibo angso diguci, basicapek nak dahulu, basikuek nak nyo bulieh, lah sampai lendan malendan, baadu tanago nan lah jadi. Didalam angso nan duo, lah payah saikua dek bahendan, dek barabuik nak dapek makan, lah habih dayo jo upayo, kuek nan sikua pun lah nyato, tampak dek urang nan maliek, saisi medan nan rapek tu, lawan jo kawan lah sakato, lah payah angso nan sikuatu, nyatolah kalah ditanago.

Barulah nyato kalah manang, anak angso nan duo tu, diambiak dek Datuak Parapatiah nan Sabatang, nan manang ditangan kanan, nan kalah ditangan kiri, ditunjuakan kapado lawan, pado nan punyo anak angso, lalu bakato maso itu. Manolah Nangkodoh Pelang, sarato nan rapek kasamonyo, nan samo maliek mamandangi, antaro angso nan duoko, manuruik pandangan ambo, nan dikanan hambo nangko, iko nan kuek dari nan dikiri, laiko ko kito sapandapek. Mandanga kato nan baitu, manjawab nangkodoh pelang, urang nan punyo anak angso.

Kalau baitu kato Datuak, itulah kato sabananyo, samo diliek dipandangi, tak dapek kito marubahnyo, iyo itu angso nan kuek, Mandanga kato nan bak kian, bakato Datuak Parpatiah sawajah tantangan kito, alah sapaham sapandapek, baapo pulo dek nan rapek, mano nan kuek angso nangko, cubo lahiakan pamikiran, nak nyato paham nan basamo.Mandanga tanyo nan bak itu, manjawab urang nan banyak, samo basorak mahimbaukan, sasuai kami tantang itu, iyo itu angso nan kuek, nan dikanan Datuak nantun.

Lah satu pandapek nan basamo, bakato Parpatiah nan Sabatang, mano nangkodoh nan punyo angso, kini pandapek dilahiakan, alah jo manang buliah nak tantu. Nan dikanan hambo nangko, ikolah angso nan jantan, nan dikiri hambo nangko, ikolah angso nan batino. Kanyataan antaro nan duoko, iyolah nan jantan labiah kuek dari nan batino, kalau samo sehat sarato samo-samo gadang. Kini angso samo gadang, samo sehat pulo kaduonyo, iko nan kuek dari pado nan kida, nan dikanan ikolah angso nan jantan. Itulah nan paham dari kami, mamintak musiah jo bandiang, apo pikiran dek Nangkodoh, sarato jo urang banyak, nan cadiak tahu pandai, nak samo kito patimbangkan, jawaban Nangkodoh hambo nanti. Habih tanyo Datuak Parpatiah, capek manjawab urang nan banyak, gamuruah suaro maiyokan, tamanuang Nangkodoh pelang, tak dapek manggeleng lai, lalu manjawab maso itu.

Tuan Datuak Patiah nan Sabatang, alah manang kiniko lah tantu, bana datuak tidak batupang, lah luruih kami mangaku. Bagai papatah adat Datuak, Patah muluik tampat alah, patah sinjato tampat mati, kini muluik kalah dek bana, mati kami dek pandapek. Hanyolah baitu lah dek Datuak, hubungan baiak diawanyo lalu kaakhia elok juo, nak bak bamulo bak basudah, tarimolah kini ikara lidah, taruah nan jadi pajanjian, labiah kurang maaf pabanyak, tandonyo suci timba baliak.

Mandanga kato nan baitu, manjawab Patiah nan Sabatang: Manolah Tuan Nangkodoh pelang, lorong sawajah tantang itu, lah luruih tantangan bana, hati suci lah samo nyato, lah bak bamulo bak basudah, janiah nan tidak lai balunau, ptiah nan tidak ado bakuma. Namun dek kami nan mananti, rundiang lah sudah diawanyo, dimulo kato lah putuih, kini nan hutang manapati. Sabab karano damikian, nan lah baukua kito kabuang, nan lah babarih kito pahek, pulang bicaro kanangkodoh. Dek diri Nangkodoh pelang, diuni ikara lidah, kato dahulu batapati, dibayia taruah karalahan, salasai timbang tarimo, lah sudah barela-rela, dilangsuangkan tuka-manuka, tulak rayia barang nan ado, nan katuju dek nan masiang-masiang, dek nan datang kabuah tangan, dibao dari Tigo Luhak, kadiliek urang dikampuang, dek nan tingga katando mato, barang nan datang dari rantau, samaso taruah batampin, riwayat angso nan sapasang, untuak dikana-kana isuak. Kato putuih rundiang salasai,de Nangkodoh rang nan datang, dimintak izin jo relah, mamuhun mintak kambali, pulang kakampuang jo halaman, ka Jawa ka Singosari, disitu untuak sadang batariak, disinan baban sadang babao, tampat malangkah kakamari.

Pihak dek Patiah nan Sabatang, sarato Datuak Katumangguangan, dilapeh jo hati nan suci, sarato muko nan janiah, datang nan tidak dek bajapuik, tapi kapulang bahantakan, sampai kaombak nan badabua, dari situ tulak balakang, halek pulang jo pelangnyo, manuju nagari pulau Jawa, sipangka baliak ka kampuangnyo, ka dalam Luhak nan Tigo. Sampailah Nangkodoh jo pelangnyo, katampat asa nan dahulu, disampaikan apo pamandangan, nan isi pandapek hati, manuruik parentah nan ditarimo, dari pihak nan batanggo turun. Sajak samulo dari itu, timbualah waham dalam hati, dek pucuak pimpinan Seriwijaya, nan sadang manguasai Singosari, caro coraknyo di Luhak nan Tigo, mungkin ditiru dituladan, dek rakyat nagari nan lain. Sabab nyato dek nan banyak, tampak elok jo baiaknyo, tuah sakato mangko jadi, tapek balaku kandak bana, nak tacapai nan cinto hati, kandak rakyat nan ukuran, nan lai didalam kandak bana.

Limbak nan dari pado itu, kok duduak kito basamo randah, tagak nan banyak samo tinggi, kok tinggi karano dek dianjuang, adonyo gadang dek diambak, kok sabananyo tinggi lai dek ruwehnyo, kok gadang lai dek dihantamkan pungkamnyo.

Kok tinggi tidak dek ruwehnyo, gadang bukan dek pungkamnyo, hanyo tinggi dek dianjuang, gadang karano dek diambak, hakikatnyo duduak samo randah, tagak nan samo tinggi juo. Kalau malaweh nan baitu hancua kuaso rajo-rajo, itu nan sangat diragukan.

Tapi samantang pun damikian, pandang sapinteh balun nyato, tiliak salewai balun jaleh, diulang hampia nak nyo tarang. Dek nan kuaso maso itu, paminpin daerah parantauan, disuruah paninjau manyiasek, mauling tiliak jo pandang, masuak kadearah Luhak nan Tigo, kadaerah Lareh nan Duo. Balayialah pelang maso itu, kapasisia barat pulau Ameh, batulak dari Singosari, mambao badan panyiasek, kaki tangan Seriwijaya, marupo pelang rang manggaleh, tampan pelang baniago, nangkodoh dandang tulak rayia, salain dagangan jo niago, dibao kayu sakabuang, samo gadang sabatangnyo, tak tahu ujuang jo pangka, untuak kajadi pamainan, manantukan ujuang jo pangkanyo, jo taruah kalah bamanang, jo urang Luhak nan Tigo, pamerentah Lareh nan Duo. Sampai di Luhak nan Tigo, disambuik dek Patiah nan Sabatang jo Datuak Katumangguangan, bak rupo nan dahulu juo, lah sampai bataruah bak dahulu, manantukan ujuang pangka kayu, dek Datuak Parpatiah nan sabatang jo Datuak Katumangguangan, dinyatokan pandapek hati, nan barek pangka kayu, nan ringan nan sabalh ujuang, sabab mangko damikian, tareh kapangka nan labiah, kaujuang samakin kurang, barek nan tareh dari nan luanak. Sabab karano damikian, lah kalah pulo rang nan datang, mananglah Luhak nan Tigo.

Tapi samantangpun baitu, dek nan kalah tidak disasa, datang sangajo nak tak manang, hanyo kajadi jalan sajo, untuak balinduang dinan tarang, bakeh manyuruak dinan rami, pahilangkan jajak nan sabananyo.

Dalam mamasuki Tigo Luhak, sadang badagang baniago, sambia malalukan pamainan, tinjauan lain dilangsuangkan, lah taukua sado nan paralu, nan dititahkan dek pucuak pimpinan, tingga manyampai manyatokan. Salasai ujuik jo tujuan, babaliaklah musang babulu ayam, pulang ka koto nagarinyo, manyanpaikan buah pamandangan, nan dapek di Tigo Luhak, kapado atasannyo.

Nan Datuak Parpatiah nan Sabatang jo Datuak Katumangguangan, sapaningga saudaga nan tiruan, kilek baliuang lah kakaki, kilek camin lah kamuko, lah mambayang batin kanan lahia, budi curiga lah bamain, aka samparono manjalani, bicaro haluih manyalami, lah samo paham hakikatnyo.

Mupakatlah Datuak nan baduo, tigo jo Cati Bilang Pandai, marundiangkan kadatangan tamu nantun, lah sakali batimbali duo, sarupo hakikat batin, dilahia saketek baubahi. Sapaham sajo katigonyo, samo curiga dalam hati, lah asiang kacundang sapik, lah lain geleng panokok, tampan kasusah rang diapa. Maniliak caro nan baitu, lah patuik ingek diawanyo, dikana jimat kamudian, korong jo kampuang nak santoso, baapo kaelok jo baiaknyo, nak salamat koto jo nagari, barih jan lipua dek rang datang. Dalam mupakat nan baitu, dapeklah rundiang nan saukua, tibolah paham nan sasuai, didirikan tampuak pamimpinan, didalam Luhak Tanah Data. Dibari bajabatan satu-satu, tiok Luhak bakagadangan, Pucuak pimpinan diTanah Data, Dubalang di Luhak Agam, Panghulu di Limopuluah.

Didirikan pucuak pimpinan, didalam Luhak Tanah Data, ampek basa nan diangkek, bakagadangan masiang-masiang, maambiak untuak satu-satu. Diangkek Bandaro di Sungai Tarab, Kajadi payuang panji Kato nan Pilihan, manguasai susunan jo aturan, iyolah adat jo limbago, nan tabik dek malanjuang gantang, mandapek kabulatan itu nan jadi undang-undang, Datuak Bandaro nan tampuaknyo, malindduangi adat jo limbago. Diangkek Pulo datuak Machudum, didalam nagari Sumaniak, kajadi pasak kungkuang Kato nan Pilihan, pangungkuang Luhak nan Tigo, nak salatak nak satariak, nak tarandam samo basah, nak tarapuang samo hanyuik, sabab Luhak nan Tigo tidak barajo kadaulat, hanyao barajo kamupakat, nak sakokoh sakabek harek, Datuak Machudum tampuaknyo. Diangkek pulo Datuak Andomo dalam nagari Saruaso, jadi amban paruik Kato nan Pilihan, kunci baliau nan mamacik, simpanan adat jo limbago, kumpulan lahia jo batin, himpunan pusako Luhak nan Tigo, kakayaan Lareh nan Duo.

Nan kaampek didirikan pulo harimau campo Kato pilihan, diangkeklah Tuan Gadang di Batipuah, nan kamampatahankan Kato Pilihan, kok tumbuah sangketo Lareh nan duo, kok kusuik di Tigo Luhak.

Lah badiri basa nan barampek, nyatilah untuak kadiambiak, dibao baban masiangmasiang, asa sakabek samo harek, namua sabuhua samo mati, untuang takadia manyudahi. Kok tumbuah diadat jo limbago, Datuak Bandaro nan kuaso, tibo di Luhak katigonyo Datuak Machudum nan tangkainyo, simpanan hak jo miliak, barupo hak pusako, baiakpun hak soko adat, maujud lahia jo batin, amban puruak Datuak Andomo,kunci baliau nan mangganggam. Kok tibo kusuik jo maruik, nan gadang kok datang nak malendo, nan tinggi kok tibo nak manimpo, atau kok rusuah dalam nagari, tampuak Tuan Gadang lai mamacik. Nagari tasarah kadubalang, sarato ampanglimonyo, jo Tumangguang Ulaksumanonyo, kabasaran Luhak Lubuak Agam. Tumbuah sarupo nan baitu, dek Panghulu Luhak Limopuluah, pajalanan adat dinagari, nak jan manjadi lilik sumbiang jadi tangguangan di Luhak Limopuluah. Karajo Panghulu manyalasaikan, nan bak papatah kato adat : Elok nagari dek panghulu, rancak tapian dek nan mudo, elok kampuang dek nan tuo. Lah duduak jo bagian masiang-masiang, lah kokoh dalam pamikiran, bak tali lah pilin tigo, hinggo itu baru usaho, ikhtiar tatap manjalani, ulemu mambagi juo, nan paham tatap mamanjek.

Dek Datuak Parpatiah nan Sabatang, duo jo Datuak Katumangguangan, tigo jo Cati Bilangpandai, siang malam samo bapikia, patang pagi rintang batinggang, mancari gintang jo kalaka, nak kokoh batambah taguah, nak jan manjadi sio-sio, Imat jo jimat nan dipakai, akhia bandiangan dikurasai, himat-himat dimulonyo, jimat-jimat kamudian, baliau tak lupo tantang itu. Ingek dicondong kamahimpok, jago dibatiang kamanganai.

Curiga budi nan dihati, sampai nyato kanan lahia, lah tampak gabak dihulu, lah tibo cewang dilangik, sampai manjadi kanyataan, tibo pangulak dari gunuang, kabalah sampai kapado Datuak Parpatiah. Hubungan kato nan lah datang, sambuang lidah dari lauik, tamu lah datang nan katigo, mambao dagangan jo kabaunyo, bataruah juo nan nyo angan, nak mahadu kabau dari Jawa, gadang nan bukan alang kapalang, tanduak panjang runciang jo tajam, mamintak lawan nak balago.

Mandapek kaba nan baitu, dek Datuak Parpatiah nan sabatang, lah lahia hakikat kasyariat, batin paham nanlah barupo. Lahianyo mambao kabau gadang, tubuah kuek tanduaknyo unciang,tajamnyo dapek kapambunuah, gadangnyo buliah kapalendo, kueknyo mungkin pangalahkan. Sungguahpun syariat kabau nan lahia, hakikatnyo karajaan Seriwijaya. Itulah nan lahia manunjuakan nan batin, kurenah mangatokan laku, pahamlah baliau nan batigo. Tapi sungguahpun baitu, namun dek rang gadang katigonyo, diam dilauik tak barombak, tagak dipadang tak barangin, dituruik papatah bida adat:

Kalau batinggang dinan sulik
Lauik budiman kiro-kiro
Alam nan leba kalau sampik
Susunlah adat ka limbago

Nan manjadi limbago adat, iyolah mungkin jo patuik, tibo disulik caro itu, tampat bagintang aka budi, apo nan patuik dilakukan, alah ko mungkin dilakukan, mara bahayo nak tatulak, jan jadi cacek jo binaso. Namun kutiko nan baitu, disambuik kaba utusan tibo, rundiang dijawab dengan baiak, ditarimo juo jo nan elok, dibaleh kaba jonan rancak, dilawan juo kabau gadang, kalah manang tidak disasa. Lah dapek rundiang nan saukua, tibolah saudaga nan tiruan, masuak daerah Luhak nan tigo, tibo di Luhak Tanah Data, mambao kabau jo taruahnyo, dek Datuak Parpatiah nan Sabatang, walau bak mano dalam batin, miki kok cameh dalam hati, dimuko pantang kalihatan, dilawan dunia rang nan datang. Tuntutan saudaga rang nan datang, taruah usah ketek-ketek, sahabih dayo nan datang, tingga tubuah badan diri, tasabuik harato bando, masuak kataruah kasamonyo. Dek Datuak Parpatiah nan Sabatang jo Datuak Katumangguangan, tidak batupang tantang itu, mano nan titiak ditampuang, sado nan mirih bapalik, sampai tapikia pulo rang nan datang. Hanyo bajanji tujuah hari, mancarikan lawan kabau gadang, sambia batinggang jo mupakat. Mupakatlah baliau nan batigo, dibao basa nan barampek, duduak di Balai nan Saruang, mancari bulek nan sagolek, caro nan baiak jo nan elok, manghadapi lawan nan suliktu, jan sampai kalah nan Tigo Luhak. Dek samo tatumbuak kiro-kiro, mancari kabau nan gadang, nan sajudu jo nan datang, tak ado di Tigo Luhak, mako disarahkan rundiang jo bicaro kapado Cati Bilangpandai. Lorong dek Cati Bilangpandai, sabalun duduak barapek, sajak mamandang kabau nan datang, lah taraso dalam hati, nan sapadan tak kadapek. Barulah yakin nan baitu, alah ditinggang jo bicaro, kini nan hutang malahiakan, bakato Cati Bilangpandai. Mano nak kanduang nan baduo, sarato basa nan barampek, tantang sawajah nan tumbuahko, alah tampak juo dek pikiran, bahaso lawannyo tak kan ado. Tapi samantangpun baitu, hiduik manusia jo akanyo, buruang hiduik jo sayoknyo, kini kito gunokan, jo aka budi kito lawan. Nan datang jo gadangnyo nak malendo, tibo jo runciangnyo nak mancucuak, kito ketek nan mananti, aka budi dimainkan, runciang dipumpun jo haluih, kanalah andai kato adat:

Kabalai bajanjang aka
Kanaiak jalan kapintu
Kok pandai bakumain aka
Nan gaib dapek dalam itu
Kalau lai pandai malakukan
Lamak bak santan jo tangguli
Kok tidak pandai mangaokan
Bak alu pancukia duri

Kabau gadang nan mandatang, jo kabau ketek kito lawan, dibuek padan nak saukua, nan gadang tanduaknyo panjang, tajam runciang tanago kuek, jo tanduak basi kito imbuah, itulah padan dipabuek.
Dicari kabau nan ketek, nan sadang kuek harek manyusu, tidak dibari minum jo makan, agak samalam dicaraikan, dari induak tampat manyusu, hauih jo lapa nak nyo tangguang, dibari tanduakbasi tajam, nan runciang untuak mancucuak. Kalau lah tibo digalanggang, kabau nan gadang lah mananti, disitu diadu aka budi.

Nan gadang tak mungkin kamangaja, hanyo nan ketek kamanuruik, mangaja induak nan sangkonyo, datang sangajo nak manyusu. Disitu nan runciang kamancucuaknyo, nan tajam sanan malukoi, nan mannyundak nak manyusu, tanduak makam manabuak paruik, kabau gadang paruiknyo cabiak, bayangkan dek Datuak dalam pikia, baako akhia kasudahannyo. Jo itu sabuang kito lawan, sambia maninjau dalam dangka, maniliak bijak rang nan datang, kok amuah waknyo caro itu, tampan cilako rang nan datang, batuah Lareh nan Duo, untuang baiak Luhak nan Tigo, mujua kakito malungguaknyo, manjadi namo sampai isuak. Mandanga pandapek caro itu, tapakua rang gadang kaanamnyo, mangaku didalam hati, kadalaman bicaro rang tuo tu, tapek bak namo bak galanyo, patuik dihimbaukan Bilangpandai. Manjawab Katumangguangan, ampunlah ayah kanduang kami, kan iyo bana kato bidaran, Hari malam tabiang bakelok, jalan lincia ranjau tatahan, suluah kok padam dinan gantuang, tak dapek jalan kabaliak, nyato sansai dipasawangan, mujua lai ayah umua panjang. Kami pintakan ka Tuhan basiliah ayah mangko hilang, Luhak nan Tigo nak salamat, nak kokoh Lareh nan Duo. Pandapek ayah kami turuik, tidaklah ado kapambantah, kito lakukan caro itu, raso kami mungkin kasamo, pahamlah tampak kasaukua. Sudah mupakat lah sasuai, dirundiangkan pado rang nan datang, dibuek padan caro itu, bagai rancano nan lah ado, dapeklah rundiang nan saukua, sapakat urang nan datang, manarimo rundiang Parpatiah nan Sabatang, alamat karajo kamanjadi, hanyo mananti kutikonyo. Lah tibo sa’at kutikonyo, hari nan rancak nan lah datang, maso baiak ukatu elok, manuruik janji nan dibuek, himpunlah urang maso itu, datang dari jauah hampia, kumpua dilapang pamedanan, sabuang nan bagalanggang tanah, didalam Luhak Tanah Data. Tatkalo maso itu, Allahhurabi rami urang, nan dari bukik lah manurun, dari lurah lah mandaki, datang nan dari Tigo Luhak, samo bahajat mamandangi, maliek alah jo manang. Lah siap tangah galanggang, kabau gadang alah mananti, heran rang banyak mamandangi, dek gadang kabau rang nan datang, camehlah hati rang banyaktu, raso tak mungkin katalawan, nan sapadan tidaklah ado, didalam Tigo Luhak. Harilah tagelek luhua, kutiko mahadu alahlah tibo, sampailah Parpatiah nan Sabatang sarato jo Katumangguangan, mambaok anak kabau ketek, nan dibari batanduak basi, diiriangkan basa jo panghulu, katangah galanggang rami. Mamandang anak kabau ketek, nan batanduak basi runciang, batutuik jo kain kuniang, jo sikalat jo banang makau, baturab jo banang ameh, heran urang nan banyaktu, ketek jo gadang kadiadu, ba’ako pulo kasudahannyo. Lah sampai masuak galnggang, lawanlah siap manantikan, padu padan alah salasai, tingga mahadu hanyo lai, kinilah samo bahadapan, Dek juaro kabau gadang, lah bimbang tagak mananti, kabaunyo lah baitu pulo, mamandang sajo kanan ketek, haram kok manaruah bangih, hanyolah tagak tingga diam. Dek juaro kabau ketek, dibao kabaunyo mahampiri, kadakek lawannyo nan gadangtu. Namun dek anak kabau nantun, maliek kakabau gadang, disangko induaknyo nan dimuko, awak nan sadang hauih lapa, dahago nan bukan alang kapalang, lalu mangowek nyo marantak, handak mangaja kabau gadang, nak minum susu dari induak, kaubek hauih kalaparan. Agaklah samaso itu, nan juaro kabau ketek, payah mamegang manahani, bagaikan putuih tali aruang, raso katidak tatahani, dielo suruik kabalakang, agak jarak babilang dapo, lalu dibuka tali aruang, lapehlah tali timba baliak, kabaulah samo tak bapauik. Tantangan dek anak kabau ketek, baru lapeh tali pamauik, malompek sakali kahadapan, mangaja kabau kalawannyo, sangajo handak manyusu, kabau gadang diam mananti, tidak mailak dari tagak, badiri sajo bak nan mulo. Namun kabau nan ketek tu dikaja karusuak kabau gadang, lalu kapalo ditakuakan, disundak paruik kabau gadang, makan mancucuak tanduak runciang, tajamlah sampai malukoi, cabiaklah paruik kabau gadang, tabusai isi nan didalam, darah sirah manyanbua katanah, takajuik nan gadang kasakitan, nan ketek manyundak juo, handak manyusu ubek hauih, batambah juo luko lawan, lah laweh cabiak kabau gadang. Dek sangat sakik nan ditangguang, talalu larinyo sakali, nan ketek mangaja juo, lalu dicakau juaronyo, sabab lah tampak dek rang banyak, nan gadang lah lari kalah. Nan gadang lah lari panjang, manuju kakorong kampuang, paruik lah tajelo-jelo, dayo makin lamo makin habih, habih gogoh badan taguliang, bamain sakin pambantai, jadi sinaruih kasudahannyo. Sampai sakarang iko kini, manjadi namo korong kampuang, Simpuruik paruik tajelo,di Sijangek koto badampiang, di Simpuruik paruiknyi tajelo, di Sijangek kulik dikubak, tumbuah gurindam dek tuan Patiah:

Dek tanduak basi paruik tajelo
Mati dipadang koto ranah
Tuo mudo urang lah heran
Datang tak rago dihimbau
Tuah basabab ba karano
Dek sabuang nan bagalanggang tanah
Dapeklah tuah kamujuran
Timbualah namo Minagkabau

Catatan:
Tambo dan silsilah adat Minangkabau ini ditulis ulang menurut aslinya dari buku karangan, B. Datuak Nagari Basa. Terbitan CV. Eleonora, Payakumbuh

Ditulis oleh Husni, husni@minangmedia.com, http://minangmedia.com


Timbuanyo Gala Perpatiah Nan Sabatang

(Dalam Mambangun Soko Adat)
Limbago sipat mananti
Undang-undang maisi kandak
Panuang adat nan babuhua mati
Jo adat nan babuhua sintak
Kok barih alah lah tatagak
Kok curiang alah lah talintang
Kato pilihan balilih cupak
Sasudah malanjuang gantang

Lah sudah barih jo balabeh, diadat nan babuhua mati, sarato undang-undang Luhak, kadasar adat jo undang-undang, didalam Luhak nan Tigo, tingga dinan kamamacik, kamangganggam tampuak tangkai, didalam Luhak nan Tigo. Dek baliau Sutan Balun, dirancanokan pulo tantang itu, nan kamamacik tampuak tangkai, sabagai dalam undang-undang luhak,luhak dibari bapanghulu, kok lareh alah bajunjuang, nak duduak nagari jo lantaknyo, nan kamamacik balabeh adat, supayo barih nak jan lipua, nak lanca jalan undang-undang. Urang nan kamangganggam balabeh adat, didalam Luhak nan Tigo, manuruik undang-undang luhak, iyolah panghulu, itulah nan manjunjuang soko adat.

Sudah adat di Balairong
Sudah gadang dipanghulu
Mamak kapalo kaum didalam korong
Mamaliharo kaum manjadi hulu

Adopun panghulu itu, dipanggiakan pangka dengan datuak, nan tinggi karano dianjuang, tajadi jo kato mupakaik, dinan sapayuang sapatagak, nan salingkuang cupak gantang, turun tamurun kapado wali nasab, itu nan soko dalam adat, andiko dalam nagari.

Urang nan mulo-mulo jadi panghulu, diangkek anak kamanakan, nan sapayuang sapatagak, nan salingkuang cupak adat, dalam nagari Pariangan Padang Panjang iyolah duo urang banyaknyo.

Patamo Datuak Bandaro Kayo, dalam nagari Pariangan, kaduo Datuak Maharajo Basa, dalam nagari Padang Panjang, nan sampai sakarang iko kini, pakuburannyo tatap dipaliharo, dalam nagari nan duo tu, kok jauah buliah ditunjuakan, hampia dapek dikakokan, itulah nan didirikan Sutan Balun, jo Sutan Maharajo Basa.

Salasai pangangkatan nan baduotu, dek urang gadang nan baduo dalam Pariangan jo Padang Panjang, lah diturik pulo dek tiok nagari, didalam Luhak Tanah Data, sampai ka Luhak Lubuak Agam, tigo jo Luhak Limopuluah. Lah sudah gadang dipanghulu, sudah adat di balairong, dipiliah dek nagari satu-satu, Panghulu andiko adat, nan gadang dalam nagari, nan kamanjunjuang sang soko adat, manuruik pajalanan adat nan salapan, kampuang dibari batuo, suku dibari balantak, yaitu datuak kaampek suku, nan bauntuak sorang-sorang, babagian masiang-masiang, kasamonyo itu tinggi dek dianjuang, gadang karano dek diamba, kato mupakat manjadikan, nan sipatnyo pakai mamakai.

Kok nagari alah bapanghulu, suku alah balantak, nan Lareh alah bajunjuang, lah cukuik nagari jo barihnyo, sarato barih adatnyo, jo balabeh jo nan mangganggam, andiko alah basangsoko, lah badiri nagari jo adatnyo, bapaga jo undang-undang, kampuang balingka jo pusako, nan warih tingga manjawek. Timbua pangana dek nan bijak, cadiak pandai dalam nagari, nan andiko dalam adat, urang nan tinggi dek dianjuang, gadangnyo dek diamba, lah dibari pangkat bagala. Tapi nan junjuang Lareh nan Duo urang tinggi tak rag tidak dek diamba, tingginyo dek disasakan ruweh, gadangnyo dek dihantamkan pungkam, namo ketek dipanggiakan, tidak dibari bagala, jadi raso nan tak habih, siang malam marigi juo.

Didalam caro raso pareso, dek tungku nan tigo sajarangan, yaitu: Cadiak, tahu, pandai, samo takana dalam hati. Dek lah saujuik sapangana, diadokan sidang untuak itu, mancari bulek nan sagolek, sapakat rapek kasamonyo, manuruik papatah kato adat:

Urang ketek dibari namo
Urang gadang dibari gala
Nak tapek adat kalimbago
Paham adat nak nyato bana

Dalam mancari nan kagala, habihlah tinggang karapatan, nak namo bak galanyo, nak sasuai lahia jo batin, tatumbuak aka pumpun bicaro, sapakat kasamonyo manyarahkan, mancari gala nan patuik, kapado urang tuo nan jauhari, iyolah Cati Bilngpandai. Dek baliau Cati Bilangpandai, sasudah disarahkan karapatan, kapado diri baliau, kato bajawab jo pikia, sasuai jo pajalanan adat nan salapan, yaitu adat nan bapikiri, bajanji duo hari cukuik katigo.

Lah tibo hari katikonyo, janji disitu batapati, didalam sidang karapatan, baru baliau malahiakan, pintak disitu baliau bari. Pamulaan rundiang dek baliau, dibincang asa mulo jadi, adat kato nan baasa, disabuik awa mulonyo. Nan kato Cati Bilangpandai, asanyo adat kadibantuak, tabik dibudi nan curiga, didalam pikiran Sutan balun, sampai babagi rauik rotan, lah basilang pandakian, nyato dek kito nan basamo. Tapi dek samo dipikiri, samo timbua kabanaran, lah samo sapakat kanan elok, samo bacinto kanan baiak.

Sampai tacapai nan diangan, tujuan elok nan lah buliah, adat limbago lah tajadi, cukuik barih jo balabehnyo, kinilah lah samo dijalankan. Adat limbago nan lah sudah, lah manjadi undang-undang, didalam Luhak nan Tigo, wilayat Lareh nan Duo, panyalamatkan rakyat sampai isuak, manampuah lautan hiduik, dalam lautan galombang maso, panuruikan edaran zaman, sampai kaanak cucu piuik, tidak kalakang dek panek, bapantang lipua dek hujan. Kalau ibarat di misalkan, adat limbago kito iko, tak ubahnyo sabagai sampan kasalamatan, nan kaditompang anak cucu, manjalani hiduik diduniako. Nan mambuek sampan kasalamatan yaitu adat jo limbago, iyolah budi Sutan Balun, mungkin jo patuik dirapekan, ibarat kayu sabatang duo ragam. Papatia Sutan Balun nan manarah, jo marapek kayi nan sabatang, kayu sabatang duo ragam, duanggo madang duanggi, duanggo iyolah mungkin, nan duanggi adolah patuik. Sabab karano nan bak kian, nak sasuai lelo jo ruponyo, baliau unjuakan nan kagala, gala junjuang Lareh nan Panjang nan banamo Sutan Balun, iyolah Parapatiah nan Sabatang nan ujuiknyo parapatiah, nan marapek kayu nan sabatang. Yaitu mungkin jo patuik, manjadi adat jo limbago, ibarat sampan kasalamatan, didalam Lareh nan Duo, salingkuang Luhak nan Tigo. Lorong gala nan dibuek, bukan gala tinggi nan dianjuang, indak gala gadang dek diamba, hanyo manyatokan isi usahonyo, itu nan dianjuang tinggi, ganti ucapan kato samjuang, panilai jaso budi dalam, pahormati bicaro nan haluih, buah pandapek Sutan Balun, bukan gala pangkat adat, sabagai soko dalam adat, nan diwarisi dek wali nasab. Itulah nan dikatokan “Tinggi dek disasakan ruweh, gadang dek dihantamkan pungkam”. Kudian dari pado itu, baliau mambincang Lareh nan Bunta, iyolah nan mamacik biang tabuak, nan mangganggam gantiang putuih, kakuasaan Lareh nan duo, salingkuang Luhak nan Tigo, sampai kataluak jo rantaunyo, kalau ibarat dimisalkan, sampan balayia di lautan, balabuah ditaluak jo kualo, nan gadang dalam kualo, sabagai papatah adat:

Gadang garundang dikubangan
gadang ikan dilautan, gadang buayo dikualo
Sampan balabuah dikualo
ibarat buayo nan kuaso
mungkin dijungkek dibaliakan
Dek gadang buayo dikualo
sampai rang bari bagala
Tumangguang jadi himbauan

Sabab karano damikian, untuak panjunjuang budi alam, sarato bicaro haluihnyo, dalam parentah mamarentah, tampuak tangkai Lareh nan Bunta, digalari Katumangguangan, urang gadang dek pungkamnyo, tidak tinggi dek baanjuang, ruwehnyo bana nan manaiakan. Itulah gala nan diunjuakan dek urang tuo nan jauhari, nan banamo Cati Bilangpandai, minta suaro dari sidang. Namun dek sidang karapatan, mandanga pambarian nan baitu, sapatah iandak tabandiang, saketek tidak bacacek, manarimo suko kasamonyo. Kato putuih rundiang lah sudah, didalam rapek sapanjang adat, diateh balai Balairong Sari, dikambang leba dirantang panjang, masyhua kamano-mano, didalam Luhak nan Tigo, sampai kataluak ka rantaunyo. Sampai sakarang iko kini lah sapuluah abad nan talampau, namun gala tidak nyo mati, dalam adat tatap disabuik, baiak ditangah masyarakat, didalam alam Minangkabau, harum bak jabek taserak, tasinga kamano-mano, kalua alam Minangkabau, tidak nan lain karanonyo, hanyo dek karano gurindam kato adat:

Bukannyo tinggi dek dianjuang
Tinggi karano dek ruwehnyo
Garak budi pikia jo paham
Buah pandapek nan maanjuang
Mati manusia tingga namonyo
Musyahua kadalam alam

Catatan:
Tambo dan silsilah adat Minangkabau ini ditulis ulang menurut aslinya dari buku karangan, B. Datuak Nagari Basa. Terbitan CV. Eleonora, Payakumbuh

Ditulis oleh Husni, husni@minangmedia.com, http://minangmedia.com