Adat nan Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Arsip Kategori: Kato Pusako Minangkabau

MENGATAKAN atau menyampaikan tentang suatu hal dengan lugas bukanlah kebiasaan dan karakter masyarakat Minangkabau.

Jika ada sesuatau yang ingin disampaikan pada orang lain, berupa nasehat yang lainnya, akan disampaikan dalam berbagai metafora dan sindiran. Kearifan yang dimiliki masyarakat Minangkabau saat bertutur dan berkata-kata selalu disampaikan dengan pilihan kata yang terseleksi agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Bagi yang tak bisa memahami kondisi ini, maka yang bersangkutan akan dianggap belum mampu menjadi manusia dewasa.

Jika ada orang yang sama sekali tidak faham dan tidak mempan dengan berbagai kiasan dan sindiran, maka derajat orang tersebut akan jatuh dan lebih rendah dari derajat yang dimiliki manusia, “manusia tahan kieh, binatang tahan palu”.

Kebiasaan yang telah diwarisi sejak lama ini merupakan cerminan dari kehalusan budi yang dimiliki orang Minangkabau dalam menjaga harkat pribadi maupun orang lain.
Baca lebih lanjut


PEMIMPIN masyarakat dalam terminology adat Minangkabau digambarkan sebagai sosok manusia yang harus memiliki kekuatan, kecakapan, mempunyai daya pikat dan kharismatik yang tinggi, serta cerdas dalam memimpin. Dalam masyarakat Minangkabau, sosok pimpinan yang diidamkan dianalogikan sebagai sebatang pohon beringin.

Pohon beringin biasanya tumbuh dan berdiri kokoh di pusat nagari, yang diuraikan dengan cerdas oleh masyarakat Minangkabau sebagai:

batangnyotampek basanda,

daunnyolabek dapek balinduang,

urek-nyo gadang tampek baselo,

akanyo kuek kadipagantuang.
Baca lebih lanjut


HOMOGENITAS dalam masyarakat Minangkabau tak lantas menjadikan wangsa ini tertutup dalam pergaulan dengan wangsa lain dan menjadi ekslusif. Tradisi merantau yang telah dimiliki wangsa Minangkabau sejak awal, telah membentuk watak dan karakter dalam diri wangsa MInangkabau menjadi manusia bebas, terbuka mudah bergaul dengan berbagai etnis yang ada. Pertemuan dalam dunia rantau dengan berbagai etnis tersebut telah membuahkan berbagai bentuk hubungan kekerabatan antar etnis maupun sesama etnis minang sendiri. Tak jarang hubungan tersebut berlanjut menjadi istimewa lebur dalam hubungan yang lebih dalam, yang lazim dalam bahasa Minangkabau disebut dengan istilah “badunsanak”.

Baca lebih lanjut


DIKOTOMI tua dan muda tak jarang kerap muncul dan menjadi masalah dalam suatu kehidupan bersama, baik dalam organisasi kesukuan di satu kenagarian maupun pada sebuah organisasi modern lainnya.

Perbedaan antara kalangan tua dan muda biasanya terjadi pada tataran cara pandang dan tata cara penanganan suatu persoalan, baik dalam pemikiran maupun dalam tindakan.

Para kalangan muda, dengan kemudaannya suka alpa dalam bertindak, menabrak tata aturan, asal main sikat saja.
Baca lebih lanjut


BERKACA pada masa lalu, banyak para tokoh besar asal Minangkabau yang menjadi hebat dan terkenal dari satu sikap budaya yang telah mereka warisi yakni egaliter. Sikap egaliter yang dimilki oleh wangsa Minangkabau telah menciptakan ruang kritis bagi kedinamisan berfikir masyarakatnya. Silang pendapat serta beradu argument dalam berolah pikir merupakan hal yang biasa karena sudah terbentuk sedari awal, hal ini terlihat dalam setiap upacara adat yang selalu argumentatif.

Masyarakat Minangkabau telah terlatih dalam beradu argumen serta pemikiran dengan siapa saja, membicarakan nilai dan kebenaran demi kemaslahatan sudah menjadi hal yang biasa. Sikap egaliter dalam kebudayaan Minangkabau telah melahirkan para politikus tangguh, ahli kebudayaan handal dan berbagai professional lainnya.
Baca lebih lanjut



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.